Health  

Meningkatkan Konsumsi Ikan Sebagai Pencegahan Stunting

Stunting adalah masalah tentang kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama

DEPOKPOS – Indonesia merupakan negara maritim dengan sumber daya alam yang melimpah, khususnya sumber daya hewani yaitu ikan. Perairan Indonesia merupakan rumah bagi beragam spesies dan jenis ikan. Hal ini merupakan anugerah dan keberuntungan dari Tuhan kepada masyarakat Indonesia.

Berdasarkan laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di 2022 menunjukkan kalau konsumsi orang makan ikan sekitar 56,48 kg per kapita per tahunnya. Namun, masyarakat Indonesia sepertinya kurang memperhatikan keberuntungan ini. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya konsumsi ikan oleh masyarakat Indonesia dan masih tingginya angka stunting di Indonesia.

Stunting adalah masalah tentang kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak yang lebih rendah atau pendek dari standar usianya.

Kementerian Kesehatan mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada Rapat Kerja Nasional BKKBN, dimana prevalensi stunting di Indonesia di tahun 2022 yaitu 21,6%. Sering dikatakan bahwa kondisi tubuh pendek pada anak merupakan faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga banyak orang yang hanya menerima begitu saja tanpa melakukan apapun untuk mencegahnya.

BACA JUGA:  8 Bahaya Tidur di Pagi Hari

Padahal, seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor yang paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan dibandingkan dengan perilaku, faktor lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik) dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

Indonesia sendiri memiliki potensi lestari perikanan tangkap mencapai 12,55 juta ton per tahun. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi perikanan tangkap laut pada tahun 2019 hanya mencapai 6,99 juta ton.

Laut Indonesia dihuni 8.500 spesies ikan, 555 spesies rumput laut, dan 950 spesies biota terumbu karang. Didukung potensi kekayaan laut yang melimpah, mencegah stunting pada anak di Indonesia dengan cara gemar makan ikan bukan perkara sulit.

Masih banyak masyarakat yang menganggap bau ikan sangat amis, harga ikan di pasaran cukup tinggi dibandingkan makanan kaya protein lainnya seperti tahu dan tempe, serta cara pengolahan ikan yang cukup rumit.

Oleh karena itu, banyak masyarakat Indonesia yang lebih memilih mengonsumsi junk food karena dianggap junk food mudah didapat dan lebih praktis. Faktanya, konsumsi junk food secara terus-menerus bisa menyebabkan penyakit mematikan seperti kanker. Tak hanya kanker, penyakit berbahaya juga mengintai misalnya stroke, usus buntu dan penyakit ginjal.

BACA JUGA:  Anak Muda Jangan Banyak Begadang, Ini Dampaknya!

Berdasarkan hasil survei kesehatan dasar terbaru Kementerian Kesehatan, setidaknya 30,8 persen bayi Indonesia memiliki tinggi badan yang tidak sesuai dengan usianya atau disebut stunting.

Akibat dari gizi buruk kronis tidak hanya kegagalan pertumbuhan fisik atau berat badan lahir rendah, kecil, pendek dan kurus. Namun juga rentan terhadap penyakit tidak menular dan dapat menghambat pertumbuhan otak sehingga dapat menghambat perkembangan motorik.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya stunting. Salah satunya adalah kurangnya asupan gizi pada anak. Selain itu, jenis kelamin, usia, berat badan lahir, serta keadaan sosial ekonomi. Kondisi ekonomi yang rendah akan berpengaruh pada ketersediaan pangan yang kaya akan gizi dan berdampak pada ibu hamil dan anak yang memerlukan gizi yang baik sehingga akan mengakibatkan terjadinya stunting.

BACA JUGA:  Dampak Pelecehan Seksual Terhadap Sosial, Psikologis dan Fisik

Pada saat ibu hamil asupan gizi yang diterima akan berpengaruh pada kondisi kesehatan dan perkembangan janin. Maka dari itu pemberian pengetahuan tentang nutrisi atau gizi yang baik selama kehamilan sangat penting untuk meningkatkan pemahaman ibu dalam pencegahan stunting.

Sejak kehamilan penting memberikan edukasi dan pengamatan terkait pentingnya nutrisi atau gizi yang baik khususnya pada ibu hamil dengan kondisi ekonomi yang rendah.

Pengetahuan masyarakat tentang stunting pada anak masih cukup rendah. Hal yang signifikan adalah kurangnya pemahaman terkait nutrisi yang baik pada saat ibu hamil dan pada anak sehingga rentan terjadinya stunting.