Istilah burnout sering kali dikaitkan dengan dunia kerja, padahal mahasiswa pun dapat mengalaminya
DEPOKPOS – Pernahkah kamu merasa sangat lelah, padahal dalam sehari hanya menghadiri satu kelas dan menyelesaikan sedikit tugas? Badan rasanya lemas, pikiran penat, tetapi saat ingin beristirahat, muncul rasa bersalah karena merasa “belum melakukan apa-apa”.
Jika kamu pernah mengalaminya, kamu tidak sendirian. Banyak mahasiswa saat ini diam-diam mengalami kelelahan mental atau burnout, bukan karena pekerjaan, melainkan akibat tekanan hidup dan tuntutan untuk terus produktif.
Burnout Bukan Milik Pegawai Kantoran Saja
Istilah burnout sering kali dikaitkan dengan dunia kerja. Padahal, mahasiswa pun dapat mengalaminya. Jadwal kuliah yang padat, tumpukan tugas, keterlibatan dalam organisasi, tekanan dari orang tua, serta tuntutan untuk selalu unggul menjadikan mahasiswa rentan terhadap kelelahan yang berkelanjutan.
Ditambah lagi, adanya standar sosial yang menyiratkan bahwa semakin sibuk seseorang, maka semakin bernilai pula dirinya. Akibatnya, banyak mahasiswa merasa harus terus aktif agar tidak dianggap tertinggal, meskipun tubuh dan pikirannya sudah sangat lelah.
Produktivitas Dijadikan Ukuran Harga Diri
Kita hidup dalam era yang memuja produktivitas. Banyak dari kita merasa bahwa berhenti sejenak berarti malas, dan tidak mengikuti berbagai kegiatan dianggap kurang berkembang.
Mahasiswa merasa harus terus bergerak, meski tidak tahu arah yang jelas. Hal ini menciptakan tekanan mental tersendiri, karena seolah-olah kita tidak memiliki ruang untuk gagal atau bernapas. Padahal, setiap orang memiliki kecepatan dan jalur tumbuh yang berbeda.
Media Sosial dan Kecemasan yang Tidak Terlihat
Saat membuka media sosial, kita disuguhkan berbagai pencapaian orang lain: teman menjadi delegasi konferensi internasional, magang di perusahaan ternama, bahkan merintis usaha. Di sisi lain, kita masih berkutat dengan tugas kuliah yang tak kunjung selesai.
Paparan berulang terhadap pencapaian orang lain dapat memunculkan perasaan tidak cukup baik, meskipun sebenarnya kita sedang berproses. Media sosial kadang membuat kita lupa bahwa kehidupan nyata tidak seindah feed Instagram.
Berhenti Bukan Berarti Gagal
Menerima bahwa diri kita lelah bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, itu adalah bentuk kesadaran dan kepedulian terhadap kesehatan mental sendiri. Kita berhak untuk tidak produktif setiap saat. Tidak apa-apa jika hari ini kamu hanya diam di kamar, tidak ikut organisasi, atau tidak mengikuti tren self-improvement yang sedang ramai.
Kamu tetap berharga meskipun tidak melakukan apa-apa hari ini. Pertumbuhan tidak harus selalu cepat, dan kamu tidak perlu membandingkan perjalananmu dengan orang lain.
Jika saat ini kamu merasa lelah, berikan ruang untuk dirimu beristirahat. Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu berhenti sejenak. Hidup bukanlah perlombaan, dan kita semua punya waktu masing-masing untuk tumbuh. Tidak apa-apa untuk merasa lelah, tidak apa-apa untuk berjalan pelan. Yang penting, kamu tetap berjalan.
Rizkika Nora Diah Pangestika


