HealthOase

Pengaruh Aqidah Terhadap Kesehatan Mental dan Emosional

×

Pengaruh Aqidah Terhadap Kesehatan Mental dan Emosional

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Secara harfiah, aqidah sendiri disebut ikatan atau perjanjian yang kuat. Pengertian aqidah sendiri adalah bersifat Aqidah berasal dari bahasa arab yaitu dari kata ‘aqada’ yang artinya mengikat. Secara mengikat atau bisa disebut juga sebagai penjanjian yang dimana sudah wajib untuk di yakini seseorang. Dalam agama islam seseorang muslim wajib untuk meyakini setiap ajaran agamanya dengan sepenuh hati dan tidak ada paksaan terhadap diri sendiri.

Keyakinan yang dimaksud berupa rukun iman yaitu yakin terhadap Allah, malaikat, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, hari kiamat dan takdir. Aqidah dalam islam juga dapat membantu seorang muslim untuk dapat melihat dunia dengan cara mendapatkan panduan serta tindakan yang dilakukan sesuai yang diajarkan oleh islam. Karena dari panduan panduan yang diajarkan dari kitab kitab tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari yang dapat mengarahkan serta memiliki batasan dalam aspek kehidupan.

Aqidah juga merupakan sumber Kesehatan mental, Kesehatan mental merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia karena mencakup pikiran, tingkah laku, kejiwaan, dan perasaan. Dalam ajaran agama islam sendiri Aqidah atau keyakinan terhadap tuhan dapat memberikan ketenangan terhadap jiwa, dapat mengatur emosional, memiliki ketuguhan dalam diri untuk setiap permasalahan dalam hidup. Mengapa bisa dibilang sebagai ketenangan jiwa, mngongtrol emosional dan memberikan keteguhan untuk setiap permasalahan yang di hadapi? Karena Ketika kita percaya akan kekuasaan Allah diri kita diapat melakukan seluruh perintahnya dan menjauhi larangannya demi mendapatkan bantuan dari Allah SWT.

Aqidah Sumber untuk Ketentraman Terhadap Jiwa

Bagi umat muslim kepercayaan terhadap aqidah merupakan sumber ketenangan bagi jiwa. Karena dengan keimanan yang kokoh terhadap Allah SWT, serta percaya Allah SWT pengatur dan pencipta alam semesta beserta isi nya. bahkan mampu memberikan rasa aman dan tentram di dalam jiwa jika kita percaya dan meyakininya. Dalam konteks psikologi aqidah juga menjadi pacuan atau tujuan hidup yang jelas untuk manusia. Karena beribadah kepada Allah dan selalu mengikuti perintahnya untuk mendapatkan bebahagiaan di dunia maupun akhirat. menurut teori psikologi positif, yang di kemukakan oleh Martin Seligman, seseorang yang merasa hidupnya memiliki makna dan tujuan lebih cenderung merasa puas dan bahagia. Terdapat pada potongan ayat dibawah ini:

“أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.”
(QS. Ar-Ra’du: 28)

Mengurangi Kecemasan Melalui Keyakinan Akan Kehidupan Setelah Mati

Aqidah yang mengajarkan keyakinan akan kehidupan setelah mati juga berperan penting dalam pengelolaan kecemasan. Bagi banyak orang, kecemasan terhadap masa depan, baik itu di dunia atau kehidupan setelah kematian, dapat menjadi sumber stres yang besar. Namun, dengan memiliki aqidah yang kokoh, individu bisa meyakini bahwa segala hal yang terjadi di dunia ini hanyalah sementara dan bahwa kehidupan akhirat adalah tujuan yang lebih utama.

Konsep akhirat dalam aqidah Islam memberikan pandangan yang luas tentang hidup. Setiap ujian yang dihadapi di dunia ini dianggap sebagai bagian dari ujian untuk kehidupan akhirat. Hal ini membuat individu lebih mampu menerima kenyataan hidup dengan sabar dan lebih fokus pada perbaikan diri, tanpa terlarut dalam kekhawatiran yang berlebihan.

Aqidah dan Pengelolaan Emosi

Salah satu pengaruh terbesar dari aqidah terhadap kesehatan emosional adalah kemampuannya dalam mengendalikan emosi. Islam mengajarkan pentingnya sabar (kesabaran) dan syukur (rasa terima kasih) dalam menghadapi segala kondisi hidup. Dalam menghadapi kesulitan, seorang Muslim diajarkan untuk bersabar, sementara dalam keadaan nyaman, ia diajarkan untuk bersyukur.

Pengendalian diri atau taqwa adalah prinsip yang mengajarkan agar seorang Muslim selalu sadar akan kehadiran Allah, sehingga ia mampu mengendalikan emosi-emosinya. Misalnya, dalam situasi marah atau frustasi, individu yang memiliki aqidah yang kuat akan lebih cenderung untuk menahan diri, karena mereka memahami bahwa Allah mencintai orang yang mampu mengendalikan amarahnya.

Aqidah sebagai Sumber Kekuatan Mental dalam Menghadapi Ujian Hidup

Setiap orang pasti mengalami ujian dalam hidupnya, baik itu berupa masalah keluarga, kesehatan, ataupun kesulitan finansial. Aqidah yang kuat memberikan individu kekuatan mental untuk menghadapinya. Dalam Islam, seseorang diajarkan untuk tidak menyerah saat menghadapi ujian, karena Allah tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan hamba-Nya.

Keyakinan bahwa setiap ujian adalah bagian dari proses untuk mendekatkan diri kepada Allah menjadikan individu lebih resilien atau tangguh. Mereka tidak mudah putus asa dan terus berusaha mencari solusi, karena mereka percaya bahwa ujian ini adalah bagian dari rencana Allah untuk kebaikan mereka di masa depan.

Sabar adalah salah satu sifat utama yang sangat ditekankan dalam Islam sebagai bagian dari aqidah. Dalam menghadapi ujian hidup, seorang Muslim yang memiliki aqidah yang kuat akan lebih mampu bersabar. Sabar adalah kemampuan untuk tetap tenang dan teguh dalam menghadapi kesulitan tanpa kehilangan harapan atau jatuh dalam keputusasaan

Sabar bukan berarti hanya diam dan pasrah, tetapi sabar adalah usaha untuk tetap bertahan dan menjaga hati tetap positif meskipun ujian sangat berat. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ”

“Wahai orang-orang yang beriman, jadikan sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).

Perasaan Kedamaian Melalui Doa dan Ibadah

Selain memberi ketenangan melalui keyakinan, ibadah juga berperan besar dalam kesehatan emosional. Aktivitas ibadah seperti salat, doa, dan dzikir tidak hanya mendekatkan seorang Muslim kepada Allah, tetapi juga memberikan rasa kedamaian dan ketenangan batin. Ketika seseorang merasa tertekan atau cemas, berdoa dan beribadah dapat menjadi cara untuk menenangkan pikiran dan hati. Ibadah mengajarkan seseorang untuk mengingat Allah dalam setiap kondisi, yang pada gilirannya memberikan rasa keamanan dan perlindungan. Ini mengurangi perasaan kesepian dan ketakutan, karena individu merasa selalu dalam lindungan Allah.

badah, baik itu salat, puasa, zakat, atau amal ibadah lainnya, berfungsi sebagai bentuk kedekatan diri kepada Allah. Melalui ibadah yang ikhlas, seorang Muslim mendapatkan ketenangan hati dan ketentraman jiwa, karena ibadah memungkinkan seseorang untuk fokus pada tujuan hidup yang lebih tinggi dan lebih bermakna.

 Salat: Salat adalah ibadah yang paling penting dalam kehidupan seorang Muslim. Setiap kali melaksanakan salat, seorang Muslim berhubungan langsung dengan Allah, merasakan kedekatan dan kekhusyukan. Dalam salat, kita mengingat kebesaran Allah, memohon petunjuk-Nya, dan menyatakan rasa syukur atas nikmat-Nya. Salat membawa kedamaian karena ia menjadi waktu khusus untuk merenung, memusatkan pikiran, dan mengingat tujuan hidup yang lebih besar daripada masalah sehari-hari.

 Puasa: Selain sebagai ibadah fisik, puasa juga memiliki dampak positif pada kesehatan mental. Dengan menahan diri dari makan, minum, dan berbagai godaan, seorang Muslim dilatih untuk mengendalikan nafsu dan meningkatkan kesabaran. Puasa juga mengajarkan ketenangan batin, karena seseorang menjadi lebih fokus pada nilai-nilai spiritual, daripada kesenangan duniawi. Selain itu, saat berbuka puasa dan melaksanakan salat tarawih, seseorang merasakan kedekatan dengan Allah yang memberi ketenangan dalam hatinya.
 Amal Sosial: Ibadah yang mencakup amal sosial, seperti membantu orang lain, memberi sedekah, dan berbuat baik kepada sesama, juga menciptakan kedamaian batin. Memberikan kepada orang yang membutuhkan membawa rasa kepuasan dan kebahagiaan karena perasaan telah melakukan kebaikan. Dalam ajaran Islam, amal sosial bukan hanya memberi kebahagiaan kepada orang lain, tetapi juga mendatangkan ketenangan batin bagi pemberi karena mereka merasa dekat dengan Allah.

Aqidah dan Kebahagiaan Batin

Kebahagiaan sejati dalam Islam berasal dari keterhubungan dengan Allah dan rasa bersyukur atas segala nikmat-Nya. Bagi mereka yang memiliki aqidah yang kuat, kebahagiaan tidak diukur dengan pencapaian duniawi semata, tetapi dengan kedamaian hati yang datang dari kehidupan yang sesuai dengan ajaran agama. Aqidah yang kokoh membantu individu mencapai keseimbangan batin yang mendalam. Ketika seseorang merasa hidupnya dijalani dengan penuh keikhlasan dan sesuai dengan kehendak Allah, ia akan merasakan kedamaian yang mendalam, meskipun hidupnya penuh dengan tantangan.

Salah satu ajaran penting dalam aqidah Islam adalah bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kekayaan, status sosial, atau kepemilikan materi, melainkan dalam kedamaian batin yang berasal dari rasa ikhlas dan taqwa kepada Allah. Dalam ayat Al-Qur’an, Allah berfirman:

“الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّٰهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”

“Sesungguhnya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang.” (Ar-Ra’d: 28)

Aqidah yang mengajarkan bahwa dunia ini hanyalah sementara, dan tujuan hidup adalah untuk mendapatkan ridha Allah dan mempersiapkan kehidupan akhirat, memberikan perspektif yang lebih dalam tentang kebahagiaan. Orang yang memiliki pemahaman ini akan lebih mampu menghindari perasaan kosong dan kekosongan hati yang sering dialami oleh mereka yang hanya mengejar kesenangan duniawi. Kebahagiaan batin yang sejati datang dari rasa puas dengan apa yang dimiliki dan rasa syukur atas nikmat Allah, meskipun dalam keadaan sulit. Hal ini membuat seseorang tidak mudah terpengaruh oleh keadaan dunia yang selalu berubah-ubah, seperti kekayaan, kehormatan, atau kesuksesan duniawi lainnya.

Aqidah yang kuat berperan besar dalam kesehatan mental dan emosional seseorang. Dengan keyakinan yang benar, seseorang dapat mengelola kecemasan, mengatasi stres, dan memperoleh kedamaian batin. Aqidah yang kokoh memberikan dasar yang kuat bagi seseorang untuk menghadapi ujian hidup dengan sabar dan tawakal, mengendalikan emosinya, serta memperoleh kebahagiaan sejati yang berasal dari kedekatan dengan Allah. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menjaga dan memperkuat aqidahnya, karena dampaknya tidak hanya terbatas pada kehidupan spiritual, tetapi juga sangat berpengaruh pada kualitas kesehatan mental dan emosionalnya.

Nisrinazhifa Nafisa Shakoo dan Farrel Danendra
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, Prodi Psikologi.