Scroll untuk baca artikel
Oase

Mukmin Cerdas, Banyak Mengingat Kematian

×

Mukmin Cerdas, Banyak Mengingat Kematian

Sebarkan artikel ini
Mukmin Cerdas, Banyak Mengingat Kematian

DEPOK – Aktivis Dakwah Ustadzah Mega Marlina menegaskan, Mukmin yang paling cerdas adalah mereka yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya sebelum ajal menjemput.

Hal tersebut diungkapnya dalam Kajian Muslimah Salihah, Ajal dan Optimalisasi Amal, Sabtu (5/09/2026) di Depok.

Menurutnya, dalam hadits riwayat Ibn Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, Abu Nu’aim dan ath-Thabrani, Ibnu Umar meriwayatkan, Rasul saw. pernah ditanya, siapakah Mukmin yang paling cerdas? Beliau menjawab, “Mereka yang paling banyak mengingat maut dan paling baik persiapannya untuk menghadapi maut itu sebelum turun kepada mereka. Mereka itulah yang termasuk mukmin yang paling cerdas.”

“Orang-orang sholeh terdahulu adalah mereka yang mengingat mati dengan frekuensi tinggi,” sebutnya di hadapan 20 peserta.

Sebagai contohnya, terang Mega, Khalifah Umar bin Abdul Aziz biasa mengumpulkan para fuqaha setiap malam untuk mengingatkan kematian, hari kiamat dan akhirat, kemudian mereka menangis, sehingga seolah-olah di hadapan mereka ada jenazah.

Ia pun menegaskan, akan ada perbedaan antara orang biasa dengan orang shaleh ketika mengingat kematian. “Orang biasa bila ingat mati akan drop energinya. Sementara energi orang shaleh justru akan meningkat berlipat-lipat saat mengingat maut,” tuturnya.

Sebab, menurut orang shaleh, lanjutnya, kematian memberi banyak makna, di antaranya sebagai pemutus amal sholeh dan perjuangan. Oleh karena itu, lanjutnya, orang shaleh tak mau menyia-nyiakan hidup karena tahu kematian ada di depan mata.

“Bila maut sudah datang, tak ada lagi kesempatan beramal shaleh, berdakwah dan menegakkan kalimatullah,” ujarnya.

Optimalkan Amal

Ia pun mengingatkan kita untuk untuk mengoptimalkan amal. Menurutnya, Al-Junaid bin Muhammad, salah seorang shalihin, dikenal membaca tasbih sebanyak 30.000 kali. Ketika kematian menjemputnya, beliau sedang membaca Al-Qur’an dalam keadaan sakaratul maut. Saat itu, putranya bertanya mengapa beliau masih membaca Al-Qur’an di tengah kesibukan menjemput kematian. Al-Junaid menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang lebih membutuhkan amal saleh selain dirinya.

Dalam kitab Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, terangnya, Ibn Rajab menuturkan bahwa Khalid bin Ma’dan membaca tasbih dalam sehari hingga 100.000 kali.

Ia pun menuturkan, Abu Hurairah ra. hidup bersama Nabi saw. tidak kurang dari tiga tahun. Tetapi, dalam waktu tiga tahun itu, beliau gunakan untuk Islam. Tidak kurang dari empat karung hadits Nabi saw. berhasil beliau kumpulkan.

“Abu Hurairah ra. menggunakan malamnya untuk belajar dan menghafal hadis. Beliau memiliki hafalan hadis terbanyak di antara para sahabat, mencapai 5.374 hadis. Setiap hadis yang dipelajari dan diamalkan umat menjadi aliran pahala bagi beliau. Itulah umur yang diisi dengan amal shaleh, sehingga meski tidak panjang, Allah memberikan kebaikan dan keberkahan yang berlimpah,” bebernya.

Saat ajal yang pasti itu tiba, terangnya, jiwa orang-orang Mukmin yang shalih dan shalihah menghadap-Nya dengan senyuman, sebagaimana yang dijelakan dalam Al-Qur’an surah al-Fajr ayat 30 yang artinya, “Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah menghadap kepada Rabb-Mu dengan penuh kerelaan, dan mendapatkan ridha [dari-Nya]. Masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. [Siti Aisyah]