Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Perencanaan SDM di Zaman Sekarang: Bukan Cuma Soal Berapa Orang yang Dibutuhkan

×

Perencanaan SDM di Zaman Sekarang: Bukan Cuma Soal Berapa Orang yang Dibutuhkan

Sebarkan artikel ini

Oleh Ferry Rahman Manajemen S1 Universitas Pamulang

Perencanaan SDM di Zaman Sekarang: Bukan Cuma Soal Berapa Orang yang Dibutuhkan

DEPOKPOS – Coba bayangkan kamu jadi manajer di sebuah perusahaan. Tiba-tiba ada pekerjaan baru yang harus beres bulan depan, tapi timnya kekurangan orang, atau orangnya ada tapi belum punya kemampuan yang pas. Nah, di situlah perencanaan sumber daya manusia (SDM) berperan. Sederhananya, perencanaan SDM adalah cara perusahaan memastikan orang yang tepat ada di posisi yang tepat pada waktu yang tepat, baik dari sisi jumlah maupun kemampuannya. Dulu urusan ini sering dianggap sekadar “hitung kebutuhan karyawan, lalu buka lowongan”. Sekarang, maknanya jauh lebih luas dari itu.

Alasannya, waktu dan tempatnya sudah berubah. Di tahun 2026 ini, teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi sudah masuk ke hampir semua lini kerja di Indonesia, mulai dari startup di Jakarta, perbankan, toko online, sampai pabrik di kawasan industri. Pekerjaan yang dulu butuh banyak tangan sekarang bisa dibantu mesin, sementara jenis pekerjaan baru yang butuh kemampuan berbeda terus bermunculan. Ditambah kondisi ekonomi yang tidak selalu pasti, perusahaan jadi harus lebih hati-hati dalam merekrut dan mengelola orang.

Yang terdampak pun banyak sekali: tim HR dan manajer yang harus merancang kebutuhan tim, karyawan yang dituntut terus belajar, sampai fresh graduate dan pencari kerja yang harus bersaing dengan standar yang makin tinggi. Karena itu, tulisan ini mengajak kita melihat seperti apa wajah perencanaan SDM masa kini, lewat kondisi nyata di lapangan dan data dari sumber-sumber yang sudah dipublikasikan. Harapannya, siapa pun yang membaca, entah mahasiswa, pekerja, atau pemilik usaha, jadi lebih paham kenapa urusan “merencanakan orang” ini penting banget.

Pertama, cara lama sudah tidak cukup. Banyak perusahaan masih menjalankan perencanaan SDM dengan pola sederhana: ada yang resign, langsung cari pengganti; ada proyek baru, langsung buka lowongan. Pola ini memang cepat, tapi sifatnya reaktif. Perusahaan baru bergerak setelah masalah muncul, padahal perubahan kebutuhan kerja sekarang berjalan jauh lebih cepat dibanding proses rekrutmen biasa.

Kedua, AI sudah jadi “rekan kerja” sehari-hari. Di banyak kantor, karyawan terbiasa memakai AI untuk menulis, merangkum, menganalisis data, sampai menyusun laporan. Akibatnya, isi pekerjaan ikut bergeser. Tugas rutin jadi lebih ringan, sementara kemampuan berpikir kritis, menilai hasil kerja AI, dan mengambil keputusan justru makin dicari. Artinya, perencanaan SDM tidak bisa lagi hanya bertanya “butuh berapa orang”, tetapi juga “butuh orang dengan kemampuan seperti apa”.

Ketiga, karyawan sering lebih cepat melangkah dibanding perusahaannya. Banyak pekerja belajar memakai AI secara mandiri karena sudah terbiasa memakainya di kehidupan sehari-hari. Sayangnya, dukungan resmi dari perusahaan, seperti pelatihan dan aturan pemakaian yang jelas, sering belum mengikuti. Kondisi ini membuka celah penggunaan alat AI tanpa pengawasan yang rapi, dan itu bisa berisiko bagi keamanan data perusahaan.

Keempat, perusahaan jadi makin selektif. Dalam merekrut, banyak perusahaan sekarang lebih menekankan keterampilan nyata dibanding sekadar ijazah atau jabatan sebelumnya. Mereka juga lebih hati-hati menambah jumlah karyawan dan fokus pada posisi yang langsung berdampak ke bisnis. Di sisi lain, para pencari kerja juga makin pilih-pilih perusahaan, sehingga proses saling cocok ini tidak semudah dulu.

Kelima, pola kerja makin fleksibel. Kerja hybrid, kontrak per proyek, dan kerja lepas sudah jadi hal yang biasa. Buat tim HR, ini berarti perencanaan bukan hanya soal karyawan tetap, tapi juga soal mengatur campuran antara karyawan tetap, kontrak, dan tenaga ahli sesuai kebutuhan. Fleksibilitas ini bagus, tetapi butuh perencanaan yang matang supaya kerja tim tetap nyambung dan budaya kerja tidak ikut hilang.

Keenam, peran HR ikut naik kelas. Dulu HR sering identik dengan urusan administrasi seperti absensi, gaji, dan kontrak. Sekarang HR diharapkan menjadi mitra strategis yang membaca data, memprediksi kebutuhan talenta, dan menyiapkan jalur belajar bagi karyawan. Tanpa perencanaan SDM yang kuat, perusahaan berisiko terjebak di dua masalah sekaligus: kekurangan orang dengan keterampilan baru, dan kelebihan orang yang keterampilannya mulai tidak terpakai.

Supaya tidak sekadar cerita, berikut data sekunder yang dikutip dari laporan, survei, dan artikel yang sudah dipublikasikan sebelumnya.

Kondisi ketenagakerjaan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Mei 2026 ada 7,22 juta penganggur, atau Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen dari angkatan kerja sebanyak 155,41 juta orang. Porsi pekerja formal ada di 40,70 persen, sedangkan pekerja informal mencapai 87,88 juta orang (BPS, rilis 5 Agustus 2026).

Keterampilan yang berubah. World Economic Forum memperkirakan sekitar 170 juta pekerjaan baru tercipta dan 92 juta pekerjaan tergeser hingga 2030, sehingga ada tambahan bersih 78 juta pekerjaan. Sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja diperkirakan berubah, dan 63 persen pemberi kerja menyebut kesenjangan keterampilan sebagai hambatan utama transformasi bisnis (WEF, Future of Jobs Report 2025).

Digitalisasi di Indonesia. Sebanyak 83 persen bisnis di Indonesia memperkirakan digitalisasi akan memengaruhi organisasi mereka hingga 2030, dibandingkan 60 persen secara global (WEF, Future of Jobs Report 2025).

Kualitas kandidat. Sebanyak 81 persen perusahaan di Indonesia menilai kualitas kandidat belum sesuai dengan peran yang dicari, dan enam dari sepuluh perusahaan sudah atau berencana mengadopsi AI (Robert Walters Salary Survey 2026, dikutip Kompas.com, 17 Februari 2026).

Keterampilan yang sulit dicari. Di antara kandidat Indonesia, keterampilan yang paling sulit ditemukan adalah keterampilan AI (45 persen), keterampilan teknis atau IT (40 persen), dan soft skills seperti komunikasi serta pemecahan masalah (32 persen) (LinkedIn, dikutip Fortune Indonesia, Februari 2025).

Pelatihan dari perusahaan. Dari survei terhadap seribu knowledge worker di Indonesia, hanya 33 persen yang mengaku mendapat pelatihan keterampilan AI dari perusahaannya, padahal 68 persen merasa lebih percaya diri memakai AI karena sudah terbiasa di kehidupan sehari-hari (Salesforce dan YouGov, April 2026).

Kebutuhan reskilling. Sekitar 30 persen pekerja di Indonesia diperkirakan perlu reskilling pada periode 2026–2028, dan 75 persen CEO di Indonesia menilai keberhasilan AI lebih ditentukan oleh adopsi manusia dibanding teknologinya sendiri (IBM, dikutip Mei 2026).

Kematangan digital perusahaan. Hanya 19 persen perusahaan di Indonesia yang menilai dirinya sudah matang secara digital, dan lebih dari separuhnya masih di tahap awal bereksperimen dengan AI (Riset Lark, Juli 2026).

Kalau data-data ini dibaca bersamaan, polanya cukup jelas. Lapangan kerja masih bergerak, tetapi tantangan terbesarnya bukan sekadar jumlah orang, melainkan kecocokan keterampilan. Teknologi melaju cepat, pekerja sudah mulai ikut berlari, tetapi dukungan perusahaan lewat pelatihan dan perencanaan yang matang masih tertinggal.

Perencanaan SDM masa kini tidak lagi cukup dengan menghitung jumlah karyawan dan membuka lowongan saat ada kekurangan. Di tengah AI, digitalisasi, dan pola kerja yang makin fleksibel, perusahaan perlu berpikir lebih ke depan: keterampilan apa yang akan dibutuhkan, siapa yang perlu dilatih ulang, dan bagaimana memadukan karyawan tetap, kontrak, serta teknologi secara seimbang. Fakta dan data menunjukkan bahwa kesenjangan keterampilan dan kesiapan organisasi masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Karena itu, perusahaan yang mau bertahan perlu menjadikan perencanaan SDM sebagai strategi inti, sementara kita sebagai pekerja dan calon pekerja perlu terus belajar supaya tetap relevan. Pada akhirnya, teknologi boleh canggih, tetapi yang menentukan arah dan hasilnya tetap manusia.