Oleh Siti Nurhaliza – Mahasiswi Hubungan Internaional UIN Jakarta
DEPOKPOS – Asia Timur menjadi salah satu kawasan yang memberikan dampak besar terhadap kestabilan di kawasan Pasifik. China dan Jepang menjadi salah satu negara yang menjadi kunci dalam menentukan keamanan tersebut. Sebagaimana historis yang ada, China dan Jepang cenderung memiliki kecurigaan satu sama lain yang mengakibatkan salah satu pihak merasa terancam.
Konflik kedua negara tidak hanya berasal dari persaingan ekonomi, namun juga persaingan dalam hal kekuatan militer. Jepang sebagai kekuatan ekonomi lama di Asia Timur harus berhadapan dengan China sebagai kekuatan baru dalam ekonomi dan militer. Hal inilah yang menimbulkan security dilemma antar kedua negara.
Security Dilemma dalam Hubungan China-Jepang
Security dilemma merupakan salah satu istilah dalam hubungan internasional yang mengacu pada situasi ataupun tindakan dalam sebuah negara dalam memperkuat kekuatan militer sehingga membuat aliansi lain terpaksa untuk mengambil sebuah tindakan yang sama. Adanya reaksi dan redaksi tidak lain disebabkan karena adanya sistem anarki internasional yang dimana potensi yang dimiliki suatu negara menjadi ancaman bagi negara lainnya. Pada saat negara meningkatkan kemampuan pertahanannya maka pada saat itu juga mereka terperangkap dalam logika “too much and too little”. Too much , mencapai tingkat kemampuan untuk melakukan agresi, sedangkan too little, meningkatkan kemampuan pertahanan sehingga mengurangi keamanan negara lainnya.
Fenomena diatas tidak lain menggambarkan kondisi security dilemma antar China dan Jepang, yang dimana mereka masing-masing terancam dengan adanya perkembangan militer dari negara rivalnya. Jika melihat kondisi saat ini, China sedang berfokus untuk membangun kekuatan militernya. Jepang sendiri masih befokus pada amandemen pasal 9 konstitusi untuk kembali memiliki angkatan bersenjata
Pengaruh China di Asia Timur
China telah mengalami perubahan yang sangat signifikan dalam diplomasi dan keamanan dalam taraf nasional maupun global dengan berbagai kebiijakan yang dibangunnya. Hal ini tidak lain didasarkan karena China melihat ancaman dan peluang yang muncul dari struktur internasional. Kebijakan pertahanan yang dibangun oleh china berada pada kestabilan ekonomi. Karena dengan kestabilan ekonomi maka China akan menjaga pembangunan dan keamanan nasional dengan kerjasama ekonomi internasional disisi lain ada Jepang yang menjadi kekuatan utama di Asia Timur dalam sejarahnhya.
R.P Smith mengemukakan, salah satu faktor eksternal yang menyebabkan suatu negara menaikkan anggaran militernya adalah munculnya konflik bersenjata dan aliansi-aliansi antar negara. Karena menurutnya konflik bersenjata itu akan mempunyai efek langsung dan nyata dalam peningkatan anggaran dan pengeluaran belanja militer suatu negara. Konflik bersenjata bukan hanya sebuah perang fisik saja, namun, perlombaan senjata, konflik wilayah, dan ancaman.
Tindakan Jepang Terhadap China
Dari sudut pandang China melihat Jepang sebagai negara yang memiliki potensi untuk berkonflik dengannya. Kedekatan Jepang dengan Amerika memberikan tantangan tersendiri untuk China. Disisi lain Jepang merespon modernisasi militer yang dilakukan oleh China dengan mengembangkan sistem pertahanannya yang telah dibangun bersama dengan AS, seperti halnya dengan kemampuan anti-rudal balistik dan juga melakukan upaya modernisasi pada angkatan laut dan udara sebagai garda terdepan dalam menghadapi ancaman yang muncul. Selain itu Jepang juga menaikkan anggaran pertahanannya sebanyak 2,1 Triliun Dollar untuk mengimbangi China.
Penaikan anggaran tidak mencukupi untuk menyeimbangi kekuatan militer China, karena itu Jepang memutuskan untuk menjalin kerjasama strategis dengan AS dalam keamanan sosial, namun dengan konsekwensi Jepang harus mempersilahkan tentara AS di Jepang. Tanpa adanya otoritas yang lebih tinggi akan menyebabkan kesenjangan, kecurigaan, ketakutan yang akan mendorong negara-negara untuk erkompetensi untuk mengembangkan kekuatan yang dia miliki.
Keamanan Kawasan Asia Timur dalam Persaingan China-Jepang
Ketegangan yang terjadi antar negara-negara Asia Timur menimbulkan kondisi rapuh. Hal ini tidak lain disebabkan karena memanasnya hubungan kedua negara. Asia Timur yang sejatinya adalah kawasan yang menjadi motor ekonomi dunia dengan kekuatan-kekuatan negara yang terdapat didalamnya. Walaupun begitu jalur ekonomi tidak akan terpengaruh dengan adanya konflik kedua negara ini. Kebijakan AS dalam menempatkan Asia Timur sebagai barometer kemanan Asia Pasifik membawa negara super power terilbat jauh, sehingga menimbulkan ketergantungan kepada AS sehingga dapat menjadi stabilitator bagi tiga negara power.
Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan kedua negara yang terjebak dalam security dilemma akan sulit keluar dalam keadaan tersebut. Sehingga dimasa depan nantinya hubungan antara China dan Jepang masih akan menjadi dinamika yang menarik untuk dianalisis lebih dalam lagi.