DEPOKPOS – Dalam kegiatan ekonomi, setiap perusahaan tentu memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan dan mempertahankan keberlangsungan usahanya. Namun, dalam menjalankan kegiatan produksi, perusahaan sering menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah kenaikan biaya produksi. Kenaikan harga bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya distribusi, serta biaya operasional dapat memengaruhi keuntungan yang diperoleh perusahaan.
Salah satu strategi yang dilakukan produsen untuk menghadapi kondisi tersebut adalah mengurangi ukuran atau isi produk tanpa menaikkan harga jualnya. Fenomena ini dikenal dengan istilah shrinkflation. Contohnya dapat ditemukan pada produk makanan ringan, minuman kemasan, sabun, dan berbagai kebutuhan sehari-hari. Konsumen tetap membayar dengan harga yang sama, tetapi jumlah produk yang diperoleh menjadi lebih sedikit.
Menurut saya, strategi ini merupakan salah satu bentuk penyesuaian produsen terhadap kondisi pasar. Namun, penerapannya juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kepercayaan dan kepuasan konsumen.
Dalam perspektif ekonomi mikro, produsen memiliki peran penting dalam menentukan jumlah produksi, biaya produksi, serta harga jual barang. Ketika biaya produksi mengalami kenaikan, perusahaan harus mempertimbangkan berbagai alternatif agar kegiatan usahanya tetap berjalan dan keuntungan tidak mengalami penurunan secara berlebihan.
Salah satu alternatif tersebut adalah melakukan penyusutan ukuran kemasan. Dengan mengurangi jumlah isi produk, produsen dapat menyesuaikan biaya yang dikeluarkan tanpa harus langsung menaikkan harga jual. Strategi ini dianggap dapat membantu perusahaan mempertahankan daya saing, terutama ketika konsumen cukup sensitif terhadap perubahan harga.
Penelitian Kim (2024) dalam Journal of Economics & Management Strategy menjelaskan bahwa konsumen dapat memberikan respons yang berbeda terhadap pengurangan ukuran kemasan dan kenaikan harga produk. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsumen dalam kasus industri susu di Korea Selatan cenderung lebih menyukai pengurangan ukuran kemasan dibandingkan kenaikan harga secara langsung.
Namun, strategi tersebut tidak selalu memberikan dampak positif bagi perusahaan. Penelitian Evangelidis (2024) dalam jurnal Marketing Science menunjukkan bahwa konsumen dapat menganggap penyusutan ukuran produk sebagai tindakan yang kurang adil, terutama ketika perubahan tersebut tidak disampaikan secara transparan. Konsumen bisa merasa dirugikan karena membayar dengan harga yang sama, tetapi mendapatkan jumlah produk yang lebih sedikit.
Fenomena serupa juga ditemukan dalam penelitian Alice dkk. (2025) mengenai penyusutan kemasan produk Momogi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perubahan ukuran kemasan berkaitan dengan persepsi konsumen terhadap nilai produk dan kepuasan pelanggan. Hal ini memperlihatkan bahwa keputusan produsen dalam mengurangi ukuran produk tidak hanya berkaitan dengan biaya produksi, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan perusahaan dengan konsumennya.
Selain itu, penelitian Janssen dan Kasinger (2026) dalam Marketing Science menjelaskan bahwa konsumen cenderung lebih responsif terhadap perubahan harga dibandingkan perubahan ukuran produk. Kondisi tersebut dapat menjadi salah satu alasan mengapa produsen memilih mengurangi ukuran kemasan sebagai strategi untuk mempertahankan penjualan.
Menurut pandangan saya, strategi penyusutan ukuran kemasan sebenarnya tidak selalu salah. Produsen juga memiliki hak untuk menentukan strategi bisnis sesuai dengan kondisi biaya dan persaingan pasar. Akan tetapi, perusahaan seharusnya tetap memperhatikan kepentingan konsumen. Perubahan ukuran produk perlu disampaikan secara jelas agar konsumen mengetahui jumlah produk yang sebenarnya mereka beli.
Di sisi lain, konsumen juga perlu lebih teliti ketika membeli suatu produk. Tidak hanya memperhatikan harga yang tertera pada kemasan, tetapi juga membandingkan berat bersih, volume, dan jumlah isi produk. Dengan demikian, konsumen dapat mengetahui apakah harga yang dibayarkan masih sesuai dengan nilai produk yang diterima.
Fenomena penyusutan ukuran kemasan merupakan salah satu strategi produsen dalam menghadapi kenaikan biaya produksi dan mempertahankan keuntungan perusahaan. Jika dilihat dari perspektif ekonomi mikro, strategi ini berkaitan dengan keputusan produksi, efisiensi biaya, penetapan harga, serta perilaku konsumen.
Menurut saya, strategi tersebut dapat menjadi solusi bagi produsen selama dilakukan secara terbuka dan tidak merugikan konsumen. Perusahaan tidak hanya perlu memikirkan keuntungan dalam jangka pendek, tetapi juga harus menjaga kepercayaan pelanggan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen menjadi hal penting dalam kegiatan ekonomi.
Disusun oleh:
Amanda Febriyanti
Annisa Rizqia Herdiyanti
Luara Herfa Bachtiar
Rini Marisya
Program Studi Manajemen,
Fakultas Ekonomin dan Bisnis
Universitas Pamulang