Pengabdian di Pangkalan Jati Baru menghubungkan edukasi DBD, pengenalan bahan alam, dan peran keluarga dalam menjaga lingkungan.
DEPOKPOS – Tatakan pot, ember terbuka, dan barang bekas yang menampung air mudah terlewat saat membersihkan rumah. Padahal, wadah semacam itu dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak. Pencegahan demam berdarah dengue (DBD) karena itu perlu dekat dengan keseharian keluarga, agar pengetahuan tentang penyakit ini dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan yang mudah dilakukan.
Pemikiran tersebut menjadi pijakan pengabdian kepada masyarakat Tim Herbal Shield Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Kelurahan Pangkalan Jati Baru, Kecamatan Cinere, Kota Depok, pada Selasa, 3 November 2026. Melalui program pemberdayaan kelompok PKK, dosen dan mahasiswa mempertemukan edukasi DBD dengan pengenalan formulasi sediaan berbahan alam.
Tim dosen Herbal Shield melibatkan Ayu Rana Esadini, Arini Nur Yunia P. R., Prisnu Tirtanirmala, Rifaldi Saputra, dan Fransiskus Samuel Renaldi.
Pencegahan yang dekat dengan keluarga
Keterlibatan PKK memberi ruang bagi pengetahuan kesehatan untuk dibicarakan kembali di rumah. Kader dan anggota PKK dekat dengan urusan kesehatan keluarga serta kegiatan warga. Kedekatan ini dapat membantu pesan pencegahan menjangkau anggota keluarga yang tidak hadir dalam pertemuan, termasuk anak, orang tua, dan tetangga di sekitar tempat tinggal.
Forum di kelurahan mempertemukan tim kampus, perangkat kelurahan, dan warga. Pemaparan materi serta tayangan visual menjadi sarana untuk membicarakan nyamuk penular DBD dan pemanfaatan bahan alam. Dari pertemuan ini, ada pelajaran yang dapat diterapkan lebih luas, yaitu menghubungkan penjelasan kesehatan dengan benda dan kebiasaan yang benar-benar ditemui di rumah.
Memutus perkembangbiakan nyamuk
Mengenali tempat perkembangbiakan nyamuk membantu keluarga menentukan tindakan yang perlu dilakukan. Nyamuk Aedes dapat memanfaatkan wadah berisi air di dalam maupun di luar rumah. Karena itu, pemeriksaan lingkungan perlu mencakup bak penampungan air, tatakan pot, botol, dan wadah lain yang dapat menyimpan air. Rumah yang terlihat rapi tetap perlu diperiksa tempat penampungan airnya.
Kementerian Kesehatan menganjurkan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus. Langkahnya meliputi menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air. Upaya tambahan, seperti memasang kasa dan mencegah gigitan nyamuk, melengkapi tindakan tersebut. Kebiasaan ini memerlukan keterlibatan seluruh penghuni rumah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan bahwa nyamuk penular dengue aktif pada siang hari. Perlindungan terhadap gigitan perlu disesuaikan dengan aktivitas keluarga, misalnya memakai pakaian yang menutupi kulit, memasang kasa, dan menggunakan penolak nyamuk sesuai petunjuk pemakaian. Wadah penyimpanan air perlu dikosongkan dan dibersihkan secara rutin setiap minggu.
Bagi keluarga, pesan tersebut bisa dimulai dengan pembagian tugas sederhana. Seseorang memeriksa wadah air, anggota lain mengumpulkan barang bekas, lalu hasil pemeriksaan dibicarakan bersama. Di tingkat lingkungan, PKK dan pengurus RT atau RW dapat membantu saling mengingatkan. Cara ini membuat pencegahan lebih mudah diulang karena setiap orang mengetahui bagian yang dapat dikerjakannya.
Pendekatan seperti inilah yang memberi arti pada edukasi di kelurahan. Penjelasan mengenai DBD menjadi lebih berguna ketika warga dapat mengaitkannya dengan kondisi rumah masing-masing. Pertemuan memberi kesempatan untuk mengenali risiko; kebiasaan memeriksa dan membersihkan lingkunganlah yang perlu diteruskan setelah kegiatan selesai.
Pelaksanaan program turut didukung enam mahasiswa Farmasi, yaitu Mochamad Rafi, Aisya Sasmita Muslim, Rathy Aulia Chandra, Maycha Batsyeba W Sinaga, Riska Tasya Amalia, dan Diah Ulvi Nasihah. Dukungan tenaga kependidikan diberikan oleh Eddy Haryanto, S.Pd., yang turut tergabung dalam tim pengabdian.
Mengenal bahan alam dengan cermat
Serai dan kelor menjadi bahan yang diperkenalkan dalam materi Herbal Shield. Program ini mengangkat pembelajaran formulasi penolak nyamuk atau repellent berbahan alam, termasuk bentuk semprot dan lilin aromaterapi. Pengenalan tersebut membawa pengetahuan farmasi lebih dekat kepada warga melalui bahan yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sesi pengenalan formulasi, dosen dan mahasiswa menampilkan alat, bahan, serta tayangan tahapan penyiapan bahan. Penimbangan menjadi salah satu langkah yang diperlihatkan. Proses ini memberi konteks bahwa membuat sediaan memerlukan ketelitian dalam memilih bahan, menentukan takaran, menjaga kebersihan alat, dan menyiapkan wadah yang sesuai. Pengetahuan tersebut berguna untuk memahami cara suatu formula disusun.
Pembelajaran bahan alam perlu disertai sikap cermat terhadap klaim manfaatnya. Asal bahan dari tanaman tidak otomatis menjamin keamanan atau daya lindung suatu sediaan. Formula hasil pelatihan merupakan media belajar; mutu, keamanan, dan efektivitas formula akhirnya tetap perlu dibuktikan melalui pengujian yang sesuai. Pemanfaatannya juga perlu ditempatkan sebagai pelengkap pencegahan, dengan pemberantasan sarang nyamuk tetap dikerjakan secara rutin.
Membawa pulang kebiasaan sehat
Bagi mahasiswa, kegiatan bersama warga menjadi kesempatan berlatih menjelaskan pengetahuan farmasi dengan bahasa yang mudah dipahami. Istilah teknis perlu dihubungkan dengan contoh sehari-hari. Bagi perguruan tinggi, perjumpaan ini membuka ruang untuk memahami kebutuhan masyarakat dan menyesuaikan cara menyampaikan informasi kesehatan agar lebih mudah digunakan.
Pengalaman di Pangkalan Jati Baru memperlihatkan pentingnya ruang belajar bersama antara kampus dan masyarakat. Edukasi DBD dan pengenalan formulasi dapat menjadi pintu masuk percakapan, sementara peran PKK membantu menghubungkan pesan itu dengan kehidupan keluarga. Keberlanjutannya dapat dimulai dari langkah yang terjangkau, seperti saling mengingatkan jadwal pemeriksaan wadah air dan membicarakan temuan di lingkungan.
Pesan yang dibawa pulang dari Herbal Shield adalah ajakan untuk lebih teliti terhadap lingkungan dan informasi kesehatan. Warga dapat memulai dari wadah air di rumah sendiri, lalu mengajak keluarga ikut memeriksa. Pengetahuan yang diperoleh dalam satu pertemuan akan lebih bermanfaat ketika digunakan berulang dalam kegiatan sehari-hari.