oleh

Dampak WFH Terhadap Kenaikan Berat Badan

Oleh: Annisa Muliawati, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Sudah hampir satu tahun seluruh dunia dihebohkan oleh sebuah penyakit menular yang disebabkan oleh salah 1 jenis coronavirus baru yaitu Sars-CoV-2. Virus ini pertama kali dilaporkan di Wuhan Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019. Secara umum, penularan paling efektif virus korona antar manusia adalah droplet atau cairan yang dikeluarkan saat kontak langsung dengan penderita. Mudahnya penularan yang terjadi, membuat pembatasan jarak dan sosial harus dilakukan dengan ketat. Oleh karena itu, upaya preventif perlu dilakukan dengan menjaga jarak berkisar 1-2 meter. Presiden menghimbau untuk dapat meminimalisasi penyebaran virus penyebab Covid-19, masyarakat diminta untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah, salah satunya menciptakan sistem bekerja dari rumah atau biasa kita kenal dengan istilah Work From Home (WFH).

Pada umumnya WFH diartikan dengan cara kerja karyawan yang berada di luar kantor. Setiap kantor atau perusahaan memiliki kebijakannya masing-masing terkait dengan sistem WFH. Seperti membagi dua tim yang secara bergantian bekerja di rumah dan di kantor dan ada pula yang memang mempekerjakan seluruh karyawannya dari rumah. Selain itu, pemberlakuan sistem WFH ini juga terjadi pada sekolah-sekolah, dimana murid dan guru menjalani aktifitas pembelajaran dari rumah masing-masing. Perubahan pola makan seseorang merupakan salah satu dampak dari adanya penerapan sistem WFH ini.

Pola makan menurut Depkes RI 2009, merupakan sebuah cara dalam mengatur jenis dan jumlah makanan dengan gambaran informasi yang meliputi mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit. Terdapat 3 komponen dalam pola makan yaitu jenis makanan, jumlah porsi makanan, dan frekuensi makan. Jenis makanan berarti makanan yang akan kita makan harus bervariasi. Karena tubuh kita memerlukan banyak asupan nutrisi yang tentunya tidak dapat kita peroleh hanya dari satu jenis makanan saja. Kemudian asupan makanan yang kita konsumsi ini harus mengandung zat gizi dalam jumlah atau porsi yang sesuai dengan kebutuhan diri kita masing-masing.

BACA JUGA:  Fenomena Hustle Culture

Apabila kekurangan atau kelebihan salah satu unsur zat gizi dapat menyebabkan suatu penyakit dan malnutrisi. Untuk itu kita perlu menerapkan kebiasaan mengonsumsi makanan yang seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh kita masing-masing. Di Indonesia sendiri, rekomendasi asupan makan seseorang berpedoman kepada tabel Angka Kecukupan gizi dan Pedoman Umum Gizi Seimbang yang telah tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan. Frekuensi makan seseorang umumnya meliputi 3x makanan utama yang terdiri dari, makan pagi, makan siang, dan makan malam. Namun beberapa individu ada juga yang menerapkan frekuensi makan 3x makanan utama dengan 2x makanan selingan. Jadwal makanan selingan biasanya terdapat diantara makan pagi dengan makan siang dan makan siang dengan makan malam.

Sistem WFH menjadikan seseorang selalu dekat dengan sumber makanan yang ada dirumah. Hal ini, tanpa sadar dapat membuat seseorang tersebut bekerja secara santai sembari mengemil. Aktivitas fisik yang biasanya dilakukan diluar ruangan juga menjadi berkurang. Biasanya kita perlu menempuh perjalanan terlebih dahulu untuk sampai ke kantor, sedangkan bila WFH kita dapat langsung mengerjakan di depan layar laptop saja.

WFH juga cenderung mengaburkan batasan antara waktu kerja dan rumah. Sehingga, secara tidak langsung dapat menyebabkan jam kerja yang lebih lama dibandingkan dengan saat bekerja di kantor. Karena hal tersebut sesorang menjadi sibuk dan tidak ada waktu untuk dapat memasak makanan sendiri, sehingga membuat seseorang tersebut untuk memilih makanan cepat saji sebagai alternatifnya. Dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Sidor dan Rzymski tahun 2020 menunjukkan bahwa terjadi penurunan konsumsi sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan, sementara itu terjadi peningkatan konsumsi daging, produk susu, dan makanan cepat saji selama masa karantina.

BACA JUGA:  Awas, terjadinya Sick Building Syndrome saat WFH!

Lamanya jam kerja juga dapat memicu stress dan rasa bosan, ditambah dengan suasana lingkup kerja yang biasanya ramai akan teman-teman, kini harus bekerja seorang diri di rumah masing-masing. Orang-orang yang baru mengenal dan harus beradaptasi dengan WFH rentan terhadap stres karena cara dan lingkungan kerja yang tidak seperti biasanya. Stress mempengaruhi status emosional, mengakibatkan hilangnya kendali yang mungkin mempengaruhi perilaku makan seseorang. Hal ini dilakukan dengan cara meningkatkan asupan makanan yang enak sebagai adaptasi terhadapnya.

Stress juga membuat seseorang makan berlebih dan tidak terkendali, terutama pada makanan tinggi kalori seperti gula sederhana. Gula sederhana dapat mengurangi stress dengan memproduksi hormon serotonin yang berpengaruh positif terhadap suasana hati. Sesuai dengan hasil penelitian Haddad, dkk yang menunjukkan stress, kecemasan dan ketakutan yang dipengaruhi oleh pandemik COVID-19 dikaitkan dengan masalah bentuk tubuh dan berat badan yang lebih tinggi,. Dimana hal ini sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang menunjukkan kecemasan dan ketakutan terjadi bersamaan dengan gangguan makan.

Untuk mengatasi kenaikan berat badan saat WFH, kita dapat mengatur pola makan dengan sebaik-baiknya sesuai kebutuhan tubuh kita. Dapat dilihat pada tabel Angka Kecukupan Gizi dan Pedoman Umum Gizi Seimbang, dimana kita dapat melihat rekomendasi jumlah asupan makanan yang harus kita konsumsi untuk setiap harinya. Seseorang yang masih sulit untuk menghilangkan kebiasaan mengemil, dapat mengatasinya dengan cara mengganti cemilannya dengan makanan yang lebih sehat dan sedikit kalori, seperti olahan snack yang berasal dari sayur dan buah. Apabila tidak sempat untuk memasak makanan sendiri, mungkin dapat membeli makanan siap saji namun yang memiliki nilai gizi yang cukup. Batasi konsumsi makanan yang manis dan berminyak, serta minum air putih setiap hari minimal 8 gelas per hari.

 

BACA JUGA:  Manajemen Resiko pada Online Shop

Referensi :
Depkes RI . (2009). Panduan Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam Rumah Tangga. Departemen Kesehatan. Jakarta.
Di Renzo L, et al. (2020). Eating habits and lifestyle changes during COVID-19 lockdown: an Italian survey. J Transl Med, 18(1).
Eurofound and the International Labour Office. (2017). Working anytime, anywhere: The effects on the world of work. Publications Office of the European Union, Luxembourg, and the International Labour Office, Geneva. http://eurofound.link/ef1658
Haddad, C., Zakhour, M., Bou kheir, M., Haddad, R., Al Hachach, M., Sacre, H. and Salameh, P., 2020. Association between eating behavior and quarantine/confinement stressors during the coronavirus disease 2019 outbreak. Journal of Eating Disorders, 8(1).
Kementrian Kesehatan RI. 2020. Panduan Gizi Seimbang Pada Masa Pandemi COVID-19. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.
Kompasiana.com. (2020). https://www.kompasiana.com/muhammadalifalhazmiadlan4084/5e897541d541df5d343c0c92/efektifkah-work-from-home-wfh-ditengah-pandemi-covid-19
Purwanto, A. (2020). Studi Eksplorasi Dampak Work From Home (WFH) Terhadap Kinerja Guru Selama Pandemi Covid-19. Journal of Education, Psychology and Counseling, 2(1).
Ramadani, A. (2017). Hubungan Jenis, Jumlah dan Frekuensi Makan dengan Pola Buang Air Besar dan Keluhan Pencernaan pada Mahasiswa Muslim Saat Puasa Ramadhan. Skripsi. Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya.
Sidor, A., & Rzymski, P. (2020). Dietary Choices and Habits during COVID-19 Lockdown: Experience from Poland. Nutrients, 12(6), 1657. https://doi.org/10.3390/nu12061657
Sinha, R., & Jastreboff, A. M. (2013). Stress as a common risk factor for obesity and addiction. Biological Psychiatry, 73(9), 827–835. https://doi.org/10.1016/j.biopsych.2013.01.032
Scarmozzino, F., & Visioli, F. (2020). Covid-19 and the Subsequent Lockdown Modified Dietary Habits of Almost Half the Population in an Italian Sample. Foods, 9(5), 675. https://doi.org/10.3390/foods9050675
WHO (2020) Coronavirus Disease (COVID-19). Available at: https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/question-and-answers-hub/q-a-detail/coronavirus-disease-covid-19.
Wiresti, Ririn. (2020). Analisis Dampak Work From Home pada Anak Usia Dini di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1).

Komentar

Berita lainnya