DEPOKPOS – “QRIS aja, Kak.” Kalimat ini mungkin sudah sering kamu ucapkan di kasir kafe, warung makan, atau saat patungan bareng teman. Dompet kadang ketinggalan, tapi HP hampir selalu ada di tangan. Scan, masukkan PIN, selesai dalam hitungan detik.
Kebiasaan kecil itu ternyata punya angka besar di belakangnya. Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi QRIS pada Agustus 2026 tumbuh 67,22% dibanding tahun sebelumnya, lebih tinggi daripada mobile banking (47,08%) dan internet banking (15,12%). Pendorongnya adalah bertambahnya pengguna dan merchant. Menurut Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta pada 26 September 2026, pengguna QRIS sudah mencapai 69,3 juta dengan 47,1 juta merchant, dan 96,7% di antaranya UMKM. Jadi QRIS bukan lagi milik kafe kekinian saja. Pedagang kaki lima hingga UMKM di pasar tradisional pun sudah menyediakannya.
Kenapa anak muda betah?
Menurut ulasan ANTARA (18/9/2026), ada empat alasan Gen Z menyukai QRIS. Pertama, praktis: tidak perlu menghitung uang atau menunggu kembalian. Kedua, satu kode bisa dibayar lewat aplikasi apa pun, baik m-banking maupun e-wallet. Ketiga, kodenya ada di mana-mana. Keempat, setiap transaksi otomatis tercatat di riwayat aplikasi sehingga pengeluaran mudah dipantau.
BI juga melihat arah yang sama. Filianingsih menyebut menguatnya peran generasi milenial, Z, dan Alpha dalam ekonomi sebagai salah satu pendorong transformasi digital. Dampaknya terasa di lapangan. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan di berbagai acara dan pasar, orang kini lebih suka QRIS daripada tunai, sehingga pemakaian uang tunai jadi terbatas.
QRIS ikut jalan-jalan
QRIS kini bisa dipakai lintas negara. Sejak 2022 sampai Agustus 2026, QRIS Antarnegara terhubung dengan enam negara: Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Turis asing di Indonesia mencatat 17,8 juta transaksi senilai Rp6,20 triliun. Sebaliknya, warga Indonesia di luar negeri baru 5 juta transaksi senilai Rp1,85 triliun. Jadi lebih banyak turis asing yang membayar pakai QRIS di sini daripada kita di luar negeri. Masih ada ruang tumbuh, karena 60,23% dari 15,39 juta wisatawan mancanegara pada 2025 berasal dari negara di luar cakupan QRIS Antarnegara.
Lalu, uang tunai benar-benar akan hilang?
Belum. BI mencatat Uang Kartal yang Diedarkan pada Agustus 2026 tumbuh 12,88% menjadi Rp1.332 triliun. Angka ini tidak otomatis berarti orang makin sering bayar tunai, tetapi menunjukkan rupiah fisik masih beredar luas. BI juga terus memastikan ketersediaan rupiah layak edar di seluruh wilayah, termasuk daerah 3T.
Alasannya jelas. Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, Anwar Bashori, menjelaskan bahwa di tempat yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi dan layanan digital, uang tunai masih dibutuhkan. Karena itu BI tetap mengirim rupiah ke pulau-pulau terpencil. Di saat yang sama, BI bersama pemerintah, OJK, dan industri terus mendorong pembayaran digital lewat FEKDI x IFSE 2026 pada 24–26 September.
Jadi, apakah tunai akan segera ditinggalkan anak muda? Di kehidupan sehari-hari seperti nongkrong, jajan, dan patungan, dompet memang makin jarang dibuka. Tapi untuk ditinggalkan sepenuhnya, masih jauh. Yang berubah bukan cuma alat bayarnya, melainkan cara kita memegang uang. Jadi lain kali ada yang bilang “QRIS aja, Kak,” ingatlah bahwa di balik kalimat itu ada pergeseran kebiasaan yang nyata, sementara uang tunai masih punya tempatnya.
