Menghafal Nama, Perlukah?

Ilustrasi. (Istimewa)

Ketika menghadiri sebuah pertemuan, kerap kali kita bertemu dengan orang-orang baru. Pada saat itu pula lazimnya kita saling memperkenalkan diri dan menanyakan nama satu sama lain. Akan tetapi, seringnya kita lupa nama orang tersebut beberapa detik kemudian. Padahal, menghafal nama termasuk salah satu faktor penting dan memiliki kesan yang dalam. Tanpanya, takkan ada kelekatan dan lahirnya rasa tsiqah (kepercayaan) antar individu. Ia adalah tali penghimpun janji kecintaan yang akan mengikat kembali hati-hati manusia manakala mereka berpisah. Jika ditanya siapa yang bahagia jika namanya diingat, maka setiap insan serempak menjawab “Ya”. Sebaliknya, betapa kecewanya orang yang mengingat nama kita sedangkan kita tidak demikian.
Andaikan Anda bertemu dengan seseorang yang sudah begitu lama tidak saling berjumpa dan frekuensi pertemuan denganya di masa lalu dapat dihitung jari, pada kesempatan yang tak diduga-duga orang tersebut berpapasan dengan Anda lalu tersenyum dan menyebut nama Anda. Bagaimana perasaan Anda? Bahagia? Terkejut? Atau bahkan terharu? Yang pastinya Anda tidak akan menyangkan bahwa orang tersebut masih mengingatnya meski Anda tidak yakin mengingat namanya.
Imam Hasan al-Banna, termasuk salah satu da’i yang memiliki perhatian besar dalam menghafal nama. Peristiwa berikut ini terjadi tahun 1941, tatkala ada instruksi militer memindahkan beliau ke wilayah Qana di Mesir. Dalam sebuah pertemuan kelompok kepanduan yang menyambut kedatangannya, para ikhwan menyaksikan bahwa al-Banna menyalami para pandu dengan menyebut nama mereka satu persatu. Ketika ditanya tentang hal itu, al-Banna menjelaskan: “Dahulu, ketika saya menandatangani kartu kepanduan setiap al-akh, saya hafal nama dan foto mereka…”
Berdasarkan kejadian di atas kita dapat mengetahui bahwa Imam Hasan al-Banna ialah sosok yang mampu mengikat hati siapa saja termasuk orang-orang yang baru ditemuinya. Hanya dengan menghapal nama, beliau mencontohkan metode sederhana untuk meraih hati orang lain.
Begitu pula dengan Abbas as-Sisi, ketika ia berada dalam sebuah bis kota, naiklah seorang pemuda yang usianya kurang lebih tujuh belas tahun. Ia duduk persis di samping beliau. Saat itu, tahun 1975, masih jarang dan asing sekali orang yang memelihara jenggot. Sebelum pemuda itu turun dari bis kota, Abbas berusaha mengenalkan diri kepadanya. Beliau tersenyum tipis sambil menanyakan alasan si pemuda memelihara jenggot. Sang pemuda pun menjawab bahwa ia memelihara jenggotnya sebagai sunnah Rasulullah SAW. Lantas Abbas pun bertakbir. Kemudian ia pun memperkenalkan namanya dan dibalas dengan pemuda tersebut yang menyebutkan identitas dirinya. “Saya akhukum fillah, pelajar dari tsanawiyah Abasiyah.” Abbas pun menghafalkan nama dan alamat pemuda tersebut dengan sungguh-sungguh.
Berdasarkan penuturannya, Abbas memilih untuk memperkenalkan dirinya terlebih dahulu dengan menyebutkan namanya, karena bisa jadi sang pemuda memiliki prasangka buruk jika Abbas memintanya lebih dulu mengenalkan dirinya, apalagi dalam situasi saat itu. Setelah melewati beberapa terminal berikutnya, pemuda itu meninggalkan beliau, dengan ucapan salam dan perasaan senang. Sejak peristiwa tersebut, beliau selalu menjalin hubungan dengannya dalam acara-acara Islam.
Subhanallah. Imam Hasan al-Banna dan Abbas as-Sisi telah membuktikan bahwa sederhanaya menghapal nama dapat menjadi benang utama pengikat hati insan-insan yang begitu lama terpisah. Memberi kesan yang membekas bahwa selama ini ada orang yang mengingat walau hanya sekadar namanya saja. Hal yang selama ini dianggap remeh menyadarkan kita bahwa ia ternyata merupakan wasilah untuk kita yang sedang berusaha memikat dan mengikat hati objek dakwah. Bagaimana bisa hati seseorang tertarik ke dalam lingkaran dakwah jika namanya saja tidak diketahui.
Bagi sebagian orang, menghafal wajah memang lebih mudah daripada menghafal nama. Namun alangkah baiknya jika keduanya dapat diingat secara bersamaan. Dalam buku “Sentuhan Hati Sang Juru Da’wah”, Abbas as-Sisi memaparkan beberapa kiat dalam menghafal nama:

  • Memiliki keinginan kuat untuk menghafal nama.
  • Saat perkenalan berlangsung, konsentrasikan hati dan pikiran untuk menyimak nama yang disebutkan. Ingat baik-baik, dan mulailah sejak itu menggunakan namanya bila bertemu.
  • Bandingkanlah nama itu dengan nama orang-orang terdahulu yang anda kenal dan mirip dengan namanya.
  • Pusatkanlah perhatian anda kepada sosok dan bentuk orang yang mengenalkan diri.
  • Perhatikan apakah ia memiliki jenggot, memakai kacamata, bagaimana warna kulitnya, suaranya, postur tubuhnya, dan ingat pula dalam kesempatan apa anda bertemu dengannya.
  • Supaya lebih ingat, catatlah nama-nama tersebut ke dalam buku khusus.
  • Perkenalan atau saling kenal dengan siapapun, berarti anda memiliki banyak kesempatan untuk juga berkenalan dengan kawan-kawan dan keluarganya.
BACA JUGA:   Jadi Saksi Bisu Sejarah, Begini Kondisi Rumah 7 Jenderal Korban G 30S PKI

Akan tetapi, dalam perkenalan tidak selalu harus menyebutkan nama, bila kondisinya tidak memungkinkan. Yang penting, yang menjadi tema pembicaraan pada saat itu setidaknya merupakan salah datu dari sisi dakwah Islam. Di antara manfaatnya adalah menyebarkan kesadaran Islam di kalangan masyarakat, dan semoga saja di lain kesempatan, Allah mempertemukan kembali dua orang itu dengan penuh kasih sayang dan kerinduan.
Ditulis Oleh: Nabilah Maulida
Mahasiswa STEI SEBI jurusan Bisnis Syariah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.