oleh

Tak Lekang Oleh Waktu

Untitled-1.jpg

Depok – Pasar tak hanya sebagai tempat proses jual beli saja, pasar merupakan sumber pencaharian bagi sebagian orang. Penjual membutuhkan pembeli, pembeli juga demikian. Tak akan pernah ada matinya pasar tradisional berdiri untuk memenuhi setiap kebutuhan masyarakat.

Mulai dari tukang becak, tukang parkir, tukang angkut, dan segala jenis tukang bercampur di pasar. Juga penjual sayur-mayur, alat-alat rumah tangga, buah-buahan, hingga pakaian dapat dijumpai di sini. Tak diragukan lagi mengapa pasar menjadi pusat kehidupan banyak orang.

Seperti halnya Pasar Kemiri yang terletak di kelurahan Kemiri Muka, kecamatan Beji. Pasar ini menjadi sumber penghasilan berbagai masyarakat. Beragam latar belakang manusia dapat dilihat di sini.

Bunyi suara kereta api terdengar jelas di Pasar Kemiri. Lokasinya yang strategis membuat pembeli lebih mudah untuk mengaksesnya. Tidak hanya melalui jalur commuter line, tapi juga angkot-angkot banyak yang melewati jalur ini.
Keadaan pasarnya tampak kotor, lusuh, penuh sampah, dan bau dari tanah yang becek seakan membuat pasar ini terlihat kumuh. Padahal, setiap harinya selalu ada petugas kebersihan yang rutin membuangi sampah. Belum lagi tempatnya yang berada di ruang terbuka, membuat pasar ini terasa panas dan sesak, ditambah jika pengunjung pasar sedang ramai.

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Pasar tradisional dulunya tempat favorit bagi warga, namun kini keberadaannya mulai tergeserkan oleh mall-mall pencakar langit. Kemajuan zaman membuat masyarakat berangsur meninggalkan pasar tradisional. Entah itu karena alasan sarana dan prasarana yang ditawarkan mall lebih nyaman, atau kebiasaan masyarakat yang konsumerisme. Atau mungkin, masyarakat zaman sekarang lebih melihat merk ketimbang harga.

BACA JUGA:  Istilah-Istilah Pinjaman Online yang Wajib Diketahui

Remaja mulai biasa untuk hangout ke mall. Sekedar cuci mata atau memang melakukan transaksi jual beli yang menurutnya lebih bergengsi. Remaja sudah mulai takut turun ke pasar, karena alasan takut kotor dan kepanasan. Apalagi jika produk yang mereka cari itu bermerk yang pada umumnya hanya ada di mall bahkan di toko online kesukaan mereka.

Ifa (64) masih saja terlihat lincah untuk berkeliling pasar. Ia biasanya membeli kebutuhan dapur di Pasar Kemiri. Ia mengaku masih ketergantungan dengan pasar tradisional, meski sesekali ia harus mencari barang yang tidak ada di pasar ini ke mall.

Sudah banyak kini akses jual beli yang dapat dilakukan. Sedikit demi sedikit, pasar tradisional mulai tersingkirkan. Namun demikian, pasar tradisional masih dibutuhkan. Disinilah proses tawar-menawar bisa terjadi. Disinilah banyak sayur-mayur segar dan keperluan rumah tangga mudah dicari.

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Iwan (30) pedagang sayur-sayuran yang telah berjualan di Pasar Kemiri selama lima tahun lebih. Ia mengandalkan pasar untuk mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Menurutnya, pasar tradisional meski dikeluhkan panas tapi tak kalah bagus dengan mall. “Di sini mah pak ac alami, gak kalah sama di mall,” belanya. Bagi Iwan dan pedagang lainnya, pasar tradisional sudah jadi bagian dari hidup mereka. Pasar Kemiri dan pasar tradisional lainnya masih harus tetap dipertahankan, di sinilah mereka menemukan sumber kehidupan.

Annisa Ramadhani

Komentar

Berita lainnya