oleh

Dijamin Segar, Pilih Lalu Potong di Tempat

(foto: Savira)

Pembeli jadi tau kalo ayam ini masih segar, makanya dipotong dan dibersihin di depan pembeli pas ada yang mau beli

Tempat ini letaknya tidak jauh dari jalan raya yang biasa dilewati orang-orang. Saat matahari hendak bersiap-siap untuk menampakan dirinya, tempat ini justru sudah siap dan mulai didominasi oleh wanita muda bahkan paruh baya. Semua orang sibuk bertanya, menawar, dan menetapkan harga.

Pasar Timbul letaknya memang agak jauh dari pusat Ibu Kota dan lebih dekat ke kawasan Depok. Sekilas, pasar ini nampak tidak menarik dan biasa saja seperti pasar pada umumnya. Namun jika diteliti lebih dalam, pengunjung dan pembeli dapat menemukan hal menarik dari pasar ini.

BACA JUGA:  Hati-hati Jangan Jongkok di WC Duduk

Pasar tradisional yang terletak di Jl. Moh Kahfi 1 ini memiliki penjual ayam yang ayamnya dijual dalam keadaan hidup. Penjual ayam ini sudah berjualan sejak 2010. Pembeli bisa mendapatkan ayam yang baru keluar dari kandang dan masih segar.

Pembeli juga bisa melihat proses pemotongan ayam. Mereka berpendapat, bahwa ayam disana segar dan dapat dibersihkan kembali setelah sampai dirumah.

Awalnya ayam disembelih seperti biasa, setelah itu dimasukkan ke dalam air panas. Saat dikeluarkan, ayam tersebut sudah dalam keadaan bersih dan siap dimasak. Proses unik inilah yang membuat para pembeli tertarik untuk membeli ayam disini,

BACA JUGA:  Istilah-Istilah Pinjaman Online yang Wajib Diketahui

“Pembeli jadi tau kalo ayam ini masih seger, makanya dipotong dan dibersihin di depan pembeli pas ada yang mau beli,” ujar Jamal (34) yang saat itu sedang membersihkan ayam.

Setiap harinya, ayam yang laku terjual berkisar 100 ekor. Jika ada hari-hari besar, ayam yang terjual bisa mencapai tiga kali lipatnya. Ayam-ayam ini dijual sesuai dengan ukurannya. Jika ukurannya lebih besar, maka semakin mahal pula harga ayam tersebut.

BACA JUGA:  Filosofi Ngopi Bareng, Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kamu Dustakan?

Aktivitas pasar tradisional ini akan berhenti ketika waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Dibalik pasar tradisional yang sering dikeluhkan karena kotor dan terlalu banyak preman-preman nakal, sejatinya pasar tradisional tetap ada dihati masyarakat. Keunikan dan kekeluargaan yang terjalin antara pembeli dan penjual di pasar tradisonal membuat pembelinya ingin kembali lagi dan selalu teringat pada pasar yang tak pernah sepi pengunjung ini.

Savira Tavana Dewi

Komentar

Berita lainnya