Opini

Islam Atasi Fenomena Brain Rot

×

Islam Atasi Fenomena Brain Rot

Sebarkan artikel ini

Oleh: Anisa Bella Fathia, S.Si., Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok (KMM)

Belakangan ini muncul istilah fenomena brain rot. Brain rot adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi penurunan fungsi kognitif dan kesehatan mental yang disebabkan oleh paparan berlebihan terhadap konten digital yang tidak bermanfaat atau bahkan merusak. Pada dasarnya, brain rot adalah keadaan di mana otak kita menjadi “tumpul” atau “berkarat” akibat konsumsi informasi yang berlebihan dan tidak terfilter. Ini dapat menyebabkan kesulitan dalam memproses informasi, mengurangi kreativitas, dan menurunkan kemampuan berpikir kritis (Liputan6.com, 28/7/24).

Brain rot bukanlah keadaan sebenarnya pembusukan otak namun istilah ketika otak sudah memiliki penurunan fungsi kognitif. Hal ini bisa disebabkan ketika terus menerus melakukan scrolling konten receh dan tidak bermanfaat. Konten video-video pendek seperti hiburan di TikTok. Dan algoritma sosial media terus menawarkan video serupa yang kita tonton, sehingga bila sudah kecanduan video-video pendek receh yang tidak ada manfaatnya maka sosial media akan terus menerus menawarkan lagi video serupa. Akhirnya pengguna akan masuk ke dalam kebiasaan scrolling yang lama kelamaan membuat otak brain rot.

Brain rot lebih berisiko pada generasi Z dan generasi Alpha. Mereka adalah generasi yang sudah dekat dengan gadget sejak lahir. Berbeda dengan generasi milenial yang pernah mengalami masa-masa mudanya tanpa gadget dan menghabiskan interaksi sosialnya di dunia nyata. Zaman dulu generasi milenial untuk bisa menikmati hiburan dalam layar (televisi) harus bersabar menunggu jadwal tayang.

Namun pada gen Z dan gen Alpha mereka sudah terbiasa instan, ingin hiburan apa tinggal cari di YouTube dan sosial media. Bila tidak suka, mereka tinggal skip videonya. Kemajuan teknologi seperti ini secara tidak sadar membentuk karakter generasi. Gen Z dan gen Alpha cenderung menghindari masalah dibanding menyelesaikan masalah. Karena mereka tidak terbiasa dengan yang namanya proses. Gawai sudah amat sangat memanjakan kehidupan mereka. Sehingga kesabaran mereka melemah.

Di kalangan mahasiswa pun begitu, dosen memberikan tugas yang sudah ia berikan seperti itu dari zaman sebelumnya, tapi dirasa berat oleh generasi Z. Padahal mahasiswa zaman dulu berupaya keras menyelesaikan, namun generasi Z cenderung merasa tugas-tugas sangat berat dan ingin melewatkannya. Pun di kalangan pekerjaan, gen Z dinilai memiliki kesabaran setipis tisu, dimarahi atasan langsung ingin resign, berbeda mentalnya dengan gen Milenial.

Memahami karakteristik gen Z amat penting. Karena mereka akan menjadi pemimpin di masa depan. Seharusnya hal ini menjadi perhatian pemerintah. Bagaimana pemerintah mampu menjaga kesehatan mental, produktivitas dan kreativitas anak-anak muda pemimpin calon masa depan. Yang terjadi saat ini kebanyakan generasi muda kita lebih lama menatap layar. Dan bisa diperhatikan bagaimana kualitas pendidikan saat ini, apakah semakin maju. Bagaimana tren tontonan generasi muda saat ini apakah tontonan yang berkualitas, bermanfaat, menginspirasi, menambah kedekatan diri kepada Allah atau hanya tontonan viral yang sarat makna dan manfaat?

Karena tontonan atau kesukaan akan menggambarkan pola pikir dan sikap yang akan terbentuk pada diri seseorang. Generasi muda yang berkualitas terbentuk dari kebiasaan baik, sehingga baik pula outputnya. Tapi bila yang dikonsumsi adalah tontonan receh yang tidak ada tuntutan maka akan seperti itu pula lah hasilnya.

Bisa kita lihat, saat ini mengapa banyak kejahatan kekerasan, kejahatan seksualitas, pelaku judol, pinjol di kalangan pemuda. Itu semua salah satu pemicunya karena rangsangan tayangan yang masuk terus ke alam bawah sadar. Generasi muda saat ini juga sudah tidak peduli dengan keadaan umat dan agamanya. Sangat sedikit gen Z yang melek politik, kebanyakan abai dan merasa bukan urusannya. Karena terlalaikan oleh hiburan dalam gawainya. Padahal kelak mereka adalah calon-calon pemimpin negeri ini.

Berbeda dengan sistem dalam Islam, pemuda adalah barisan terdepan perjuangan. Bahkan berada dalam tinta emas sejarah dakwah Islam. Barisan pengikut Rasulullah SAW yang pertama beriman didominasi oleh anak dan remaja. Dengan gigih dan kokohnya akidah membela agama Allah.

Kecerdasannya tidak diragukan lagi, hafal Qur’an, hadits, ilmu fiqih dan ilmu kehidupan. Mereka tidak mengalami brain rot karena tidak ada kesempatan yang menyebabkan penurunan fungsi otak. Karena pemikiran mereka disibukkan hanya untuk kemuliaan Islam dan dakwah saja. Justru dengan senantiasa otak mereka disibukkan dalam dakwah, Allah jaga fungsinya.

Betapa banyak lahir ilmuan Islam sehingga ilmunya bisa kita pakai sampai sekarang. Betapa cerdasnya sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam fiqihnya, kecerdasan Ibnu Abbas yang menjadi Ahli tafsir Al-Qur’an, Periwayat hadis, Penasehat Khalifah dan dihormati karena luasnya pengetahuan dan ahli dalam ilmu fikih.

Negara dalam Islam sangat memperhatikan generasi pemuda, karena merekalah tonggak peradaban kelak. Maka negara sangat menjaga dari masuknya paham-paham atau pemikiran yang akan merusak generasi. Islam akan menjaga pemikiran dan kebiasaan generasi muda dalam kejernihannya agar tetap dalam ketaatan. Sehingga umat dan negara bersinergi untuk sama-sama bisa mewujudkan ridha Allah. Hanya Islamlah solusi sempurna yang mampu atasi fenomena brain rot.[]