Oleh: Sri Wulandari, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
DEPOKPOS. – Healing kini menjadi hal yang akrab bagi Generasi Z. Saat merasa lelah, stres, jenuh, atau tertekan, banyak yang memilih berlibur, berbelanja, nongkrong, atau mencari hiburan untuk mengembalikan suasana hati. Beristirahat tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, apakah semua persoalan hidup dapat diselesaikan dengan healing?
Jika setelah liburan kecemasan kembali, setelah berbelanja justru muncul masalah keuangan, dan setelah mencari hiburan hati tetap terasa kosong, mungkin persoalannya bukan sekadar membutuhkan istirahat. Bisa jadi, Gen Z sedang menghadapi tekanan kehidupan yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa lelah.
Gen Z hidup di tengah persaingan, tekanan ekonomi, derasnya arus media sosial, dan ketidakpastian masa depan. Biaya hidup menjadi beban, pekerjaan yang layak tidak selalu mudah didapatkan, sementara media sosial terus menampilkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Akibatnya, muncul perasaan tertinggal, FOMO (fear of missing out), hingga kecemasan terhadap masa depan.
Dalam kondisi seperti ini, healing dapat berubah menjadi sekadar pelarian, stres → healing → mengeluarkan uang → muncul masalah baru → stres kembali. Siklus tersebut terus berulang tanpa benar-benar menyelesaikan akar persoalan.
Karena itu, persoalannya tidak cukup dijawab hanya dengan nasihat, “Harus bersyukur,” atau “Pandai-pandailah mengatur keuangan.” Sebab ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu tekanan ekonomi, budaya konsumtif, serta hilangnya tujuan hidup yang membuat seseorang tidak lagi memiliki arah yang jelas dalam menjalani kehidupan.
Ketika Hidup Kehilangan Arah
Lalu, apa yang sebenarnya salah dengan hidup Gen Z? Bukan semata karena mereka kurang healing, kurang liburan, atau kurang hiburan. Ada persoalan yang lebih mendasar yakni kehidupan yang semakin menekan, budaya konsumtif yang menjadikan kesenangan sebagai pelarian, serta hilangnya arah tentang untuk apa manusia hidup.
Islam memberikan jawaban mendasar tentang tujuan hidup manusia. Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzariyat: 56).
Ayat ini menunjukkan, manusia tidak diciptakan sekadar untuk mengejar kesenangan dunia, mengumpulkan materi, mendapatkan pengakuan, atau mengikuti standar kebahagiaan yang dibentuk oleh lingkungan dan media sosial. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Ketika tujuan hidup menjadi jelas, ukuran keberhasilan pun berubah. Keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, popularitas, penampilan, maupun kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial. Seorang Muslim menyadari kehidupan dunia adalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan akhirat, sehingga setiap aktivitasnya diarahkan untuk mendapatkan Ridha Allah SWT.
Dengan cara pandang seperti ini, tekanan kehidupan memang tidak serta-merta hilang. Namun, seseorang memiliki pijakan untuk menghadapinya. Ia tidak lagi menjadikan kesenangan sesaat sebagai satu-satunya cara untuk merasa bahagia, karena ia memiliki tujuan yang lebih besar dalam kehidupan.
Bukan Sekadar Masalah Individu
Namun, Islam juga tidak membebankan seluruh persoalan kehidupan kepada individu. Tidak tepat jika setiap persoalan masyarakat hanya dikembalikan pada kemampuan seseorang untuk “mengelola dirinya”. Manusia hidup di tengah masyarakat dan berada dalam sistem kehidupan yang turut memengaruhi kehidupannya.
Rasulullah SAW bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab untuk mengurus rakyat. Negara tidak boleh melepaskan masyarakat berjuang sendiri menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Pemenuhan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, serta berbagai fasilitas yang dibutuhkan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab pengurusan rakyat.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran. Lingkungan sosial seharusnya menjadi tempat untuk saling menolong, menasihati dalam kebaikan, dan membangun pola kehidupan yang tidak menjadikan konsumsi serta kesenangan sebagai ukuran kebahagiaan.
Dengan demikian, persoalan Gen Z tidak cukup diselesaikan dengan menyuruh mereka lebih sering healing. Mereka membutuhkan tujuan hidup yang jelas, kehidupan yang layak, lingkungan yang sehat, sekaligus sistem yang mampu mengurus kebutuhan masyarakat.
Islam Menawarkan Solusi Menyeluruh
Di sinilah Islam menawarkan solusi yang menyeluruh. Akidah memberikan arah tentang untuk apa manusia hidup. Syariat memberikan aturan agar kehidupan berjalan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Negara memiliki tanggung jawab dalam mengurus rakyat, sementara masyarakat berperan membangun lingkungan yang saling menolong dan menjaga kebaikan.
Dengan solusi seperti ini, persoalan kehidupan tidak hanya ditangani pada permukaannya. Bukan sekadar mengatasi rasa lelah dengan liburan, mengatasi kejenuhan dengan hiburan, atau mengatasi tekanan dengan belanja. Lebih dari itu, Islam mengarahkan manusia untuk memperbaiki cara pandang terhadap kehidupan sekaligus menghadirkan pengaturan kehidupan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Maka, manusia tidak hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat dari kehidupan, tetapi juga kehidupan yang layak untuk dijalani dan tujuan yang layak untuk diperjuangkan. Bagi seorang Muslim, tujuan itu bukan sekadar mencapai kenyamanan dunia, melainkan meraih Ridha Allah SWT.
Maka, ketika healing tak lagi menyembuhkan, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar liburan berikutnya. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang, dari mengejar kesenangan dunia menuju kehidupan yang berorientasi pada ridha Allah SWT, dengan menjadikan aturan Islam sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Sebab yang sedang dicari manusia terkadang bukan sekadar tempat untuk healing, tetapi arah untuk hidup.[]
