Scroll untuk baca artikel
Opini

Di Balik Kecanggihan AI

×

Di Balik Kecanggihan AI

Sebarkan artikel ini

Oleh: Hana Sheila, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Di Balik Kecanggihan AI

DEPOKPOS – Penggunaan artificial intelligence (AI) membutuhkan energi yang besar karena proses pelatihan dan pengoperasian model AI berlangsung terutama di pusat data (data center) yang menggunakan banyak server dan sistem pendingin.

International Energy Agency (IEA) mencatat, pusat data mengonsumsi sekitar 415 TWh listrik pada 2024, atau sekitar 1,5% konsumsi listrik dunia. Pada 2025, konsumsi listrik pusat data meningkat sekitar 17%, sementara pusat data yang berfokus pada AI meningkat sekitar 50%. IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data secara global dapat mencapai sekitar 950 TWh pada 2030, hampir dua kali lipat dibandingkan 2025.

Besarnya kebutuhan energi AI didorong oleh semakin banyaknya model yang dilatih, meningkatnya jumlah pengguna, pembangunan pusat data berskala besar, serta penggunaan AI yang semakin kompleks. Infrastruktur tersebut membutuhkan listrik bukan hanya untuk menjalankan chip dan server, tetapi juga untuk penyimpanan data, jaringan, dan pendinginan. Ketika kebutuhan listrik dipenuhi dari sumber energi berbasis fosil, penggunaan AI dan pusat data dapat berkontribusi terhadap emisi karbon.

IEA memperkirakan emisi tidak langsung dari konsumsi listrik pusat data mencapai sekitar 180 juta ton CO₂ pada 2024 dan dapat meningkat hingga sekitar 300 juta ton pada 2035 dalam skenario dasarnya. Dampaknya bukan hanya pada perubahan iklim, tetapi juga dapat berupa tekanan terhadap jaringan listrik dan kebutuhan pembangunan infrastruktur energi di wilayah yang menjadi pusat data.

Jika dilihat melalui kritik terhadap sistem kapitalisme, perkembangan AI tidak hanya didorong oleh kebutuhan manusia, tetapi juga oleh kompetisi bisnis, investasi, dan upaya perusahaan memperoleh keuntungan serta memperluas pasar. IEA mencatat investasi pusat data hampir dua kali lipat sejak 2022 dan mencapai sekitar setengah triliun dolar pada 2024.

Dalam konteks ini, pertumbuhan teknologi yang sangat cepat dapat menciptakan dorongan untuk terus meningkatkan kapasitas komputasi dan konsumsi sumber daya sebelum seluruh dampak lingkungan dapat dikelola secara optimal.

Namun, penting dibedakan, data tersebut tidak membuktikan kapitalisme sebagai satu-satunya penyebab konsumsi energi AI. AI juga memiliki manfaat potensial, termasuk membantu optimalisasi penggunaan energi dan mengurangi emisi pada sektor tertentu.

Solusi Islam

Dalam perspektif Islam, perkembangan teknologi perlu diarahkan untuk kemaslahatan manusia dan tidak boleh mengabaikan amanah menjaga alam. Al-Qur’an melarang manusia melakukan kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya (QS al-A’raf: 56) dan mengingatkan agar manusia tidak berlebih-lebihan (QS al-A’raf: 31).

Karena itu, AI dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, kesehatan, penelitian, pelayanan masyarakat, dan berbagai kemaslahatan, tetapi penggunaannya perlu mempertimbangkan kebutuhan dan dampak lingkungan.

Dalam perspektif pengelolaan Islam, sumber daya yang menyangkut kepentingan masyarakat luas juga tidak semestinya hanya dikelola berdasarkan kepentingan keuntungan, melainkan harus memperhatikan kemaslahatan umum.

Dengan prinsip tersebut, pembangunan teknologi dapat diarahkan pada efisiensi energi, penggunaan sumber energi yang lebih bersih, pengawasan terhadap dampak lingkungan, serta pemanfaatan AI untuk kebutuhan yang benar-benar memberikan manfaat bagi manusia dan alam.[]

Hana Sheila
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok