Scroll untuk baca artikel
Opini

Bukan Hanya Mencari Karyawan, Perusahaan juga Harus Mencari Kompetensi

×

Bukan Hanya Mencari Karyawan, Perusahaan juga Harus Mencari Kompetensi

Sebarkan artikel ini

Oleh Muhammad Ferdiansyah, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang

Bukan Hanya Mencari Karyawan, Perusahaan juga Harus Mencari Kompetensi

DEPOKPOS – Ketika perusahaan membutuhkan tambahan tenaga kerja, langkah yang umum dilakukan adalah membuka lowongan dan mencari kandidat yang sesuai. Namun, kebutuhan tenaga kerja sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan jumlah karyawan.

Perusahaan juga perlu memastikan bahwa orang yang direkrut memiliki kemampuan yang sesuai dengan pekerjaan dan tujuan organisasi.

Hal ini menjadi semakin penting jika melihat kondisi ketenagakerjaan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2025 jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154 juta orang, sedangkan jumlah penduduk yang bekerja mencapai 146,54 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,85 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja yang besar. Namun, banyaknya tenaga kerja tidak otomatis berarti seluruh kebutuhan perusahaan terhadap SDM telah terpenuhi. Persoalannya dapat bergeser dari sekadar jumlah tenaga kerja menjadi kesesuaian antara kompetensi yang dimiliki dengan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.

Dalam perencanaan sumber daya manusia (SDM), perusahaan tidak cukup hanya mengetahui berapa banyak karyawan yang diperlukan. Perusahaan juga harus memahami kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan setiap posisi.

Sebagai contoh, seorang staf administrasi tidak hanya dituntut mampu mengelola dokumen. Perkembangan pekerjaan saat ini juga membuat staf administrasi perlu memiliki kemampuan menggunakan aplikasi digital, mengolah data, berkomunikasi, serta bekerja secara teliti. Kebutuhan tersebut tentu berbeda dengan posisi di bidang pemasaran, keuangan, teknologi, maupun operasional.

Data BPS juga memberikan gambaran menarik mengenai hubungan pendidikan dan dunia kerja. Pada 2025, TPT lulusan SMA kejuruan atau SMK tercatat 8,63 persen, sedangkan TPT lulusan universitas sebesar 5,39 persen. Data ini tidak berarti pendidikan tertentu menjadi penyebab tunggal pengangguran, tetapi menunjukkan bahwa memiliki latar belakang pendidikan saja belum tentu menjamin seseorang langsung terserap sesuai kebutuhan pasar kerja.

Di sinilah perusahaan memiliki peran penting. Sebelum melakukan rekrutmen, perusahaan perlu menganalisis kebutuhan SDM berdasarkan beban kerja, tujuan organisasi, perkembangan bisnis, serta kompetensi yang sudah dimiliki karyawan.

Dari analisis tersebut, perusahaan dapat menentukan posisi yang benar-benar membutuhkan tambahan tenaga kerja dan kemampuan apa yang harus dicari.

Perusahaan juga tidak selalu harus menyelesaikan kekurangan kompetensi dengan merekrut orang baru. Jika jumlah karyawan sebenarnya sudah cukup, pilihan lain adalah meningkatkan kemampuan karyawan melalui pelatihan, mentoring, coaching, pendidikan, atau pengembangan karier. Dengan cara ini, perusahaan dapat memanfaatkan potensi SDM yang sudah dimiliki sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi perubahan pekerjaan.

Perubahan tersebut semakin terasa karena perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Beberapa pekerjaan mulai mengalami otomatisasi, sementara pekerjaan lainnya membutuhkan kemampuan baru. Artinya, perusahaan perlu memikirkan kompetensi yang dibutuhkan bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk beberapa tahun ke depan.

Bagi perusahaan, kondisi ini menunjukkan bahwa perencanaan SDM harus berjalan sejalan dengan perencanaan bisnis. Ketika perusahaan ingin memperluas pasar, menggunakan teknologi baru, atau mengembangkan produk, kebutuhan kompetensinya juga dapat berubah. Tanpa perencanaan yang baik, perusahaan bisa saja memiliki banyak karyawan tetapi masih kesulitan menemukan orang dengan kemampuan tertentu.

Dari sisi karyawan, pendekatan berbasis kompetensi juga memberikan manfaat. Karyawan dapat mengetahui kemampuan apa yang perlu dikembangkan agar pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih baik dan peluang karier dapat terbuka lebih luas.

Menurut saya, perusahaan seharusnya tidak hanya bertanya, “Berapa orang yang harus kita rekrut?”, tetapi juga “Kompetensi apa yang kita butuhkan untuk mencapai tujuan perusahaan?”

Pada akhirnya, perencanaan SDM bukan sekadar memastikan jumlah tenaga kerja terpenuhi. Yang tidak kalah penting adalah memastikan adanya kesesuaian antara orang, kompetensi, pekerjaan, dan kebutuhan perusahaan. Dengan perencanaan yang tepat, perusahaan tidak hanya mendapatkan karyawan, tetapi juga membangun SDM yang mampu mengikuti perubahan dan mendukung tujuan organisasi di masa depan.

Muhammad Ferdiansyah
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang