DEPOK – Di balik hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, ada yang kenyataan yang sering kali luput dari perhatian kita. Setiap beberapa detik, seseorang di rumah sakit membutuhkan darah hanya untuk bertahan hidup. Siapakah mereka? Ya mereka adalah saudara kita yang menderita anemia berat, penyinta thallasemia, pasien operasi berat, ibu yang mengalami pendarahan saat melahirkan hingga korban kecelakaan lalu lintas. Sayangnya, sains hingga saat ini belum mampu menciptakan darah sintesis sehingga kebutuhan akan cairan penopang kehidupan ini sepenuhnya bergantung pada satu hal, yaitu kesukarelaan dan kepedulian sesame manusia.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ketersediaan darah ideal bagi suatu negara minimal adalah 2% dari total jumlah penduduknya. Bagi Indonesia, angka tersebut berarti kita membutuhkan sekitar 5,1 hingga 5,5 juta kantong darah setiap tahunnya. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa pemenuhan stok darah nasional kita kerap mengalami defisit atau ketimpangan antarwilayah. Di banyak daerah, fasilitas kesehatan masih harus berjuang mengatasi kekurangan stok darah yang berpotensi menunda penanganan medis darurat.
Sejak 2019 hingga 2026 sekarang, kebutuhan darah tidak pernah berkurang, namun apakah kesadaran kita sudah meningkat?
Di tengah kebutuhan yang tak pernah berhenti ini, ketimpangan pasokan kerap terjadi karena masyarakat masih ragu untuk menjadi pendonor berkala. Alasan utamanya bervariasi mulai dari rasa takut terhadap jarum suntik, mitos bahwa mendonorkan darah dapat membuat tubuh lemas atau gemuk, hingga rasa acuh tak acuh karena merasa hal tersebut bukan urusannya.
Padahal, jika kita menengok lebih dalam, donor darah bukan sekadar aksi sosial sukarela belakangan hari, melainkan bentuk kewajiban moral yang paling nyata. Prosedur donor darah hanya membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 30 menit, sebuah durasi singkat yang tidak mengganggu rutinitas harian kita, namun berdampak besar pada keberlangsungan hidup orang lain.
Selain dampak sosial yang menyelamatkan nyawa, donor darah rutin sebenarnya menyimpan manfaat medis yang luar biasa bagi si pendonor. Secara medis, mendonorkan darah secara berkala merangsang sumsum tulang belakang untuk memproduksi sel-sel darah baru yang lebih segar dan sehat. Selain itu, donor darah membantu menjaga keseimbangan kadar zat besi dalam tubuh, mengurangi risiko penyakit jantung, dan menurunkan risiko serangan stroke. Belum lagi fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis (health screening) yang kita dapatkan setiap kali hendak mendonor, seperti pemeriksaan tekanan darah, kadar hemoglobin, serta penapisan penyakit menular. Dengan kata lain, donor darah adalah bentuk investasi kesehatan dua arah yang menyehatkan diri sendiri sekaligus menyembuhkan orang lain.
Sudah saatnya kita menggeser stigma dan pola pikir lama. Donor darah hendaknya tidak lagi dipandang sebagai “tugas darurat” yang baru dilakukan ketika ada kerabat yang membutuhkan, melainkan bagian dari gaya hidup sehat masyarakat modern. Komunitas, instansi pendidikan, dan tempat kerja perlu aktif mengintegrasikan kegiatan donor darah berkala sebagai bagian dari budaya peduli lingkungan sekitar.
Jarum suntik mungkin hanya terasa sakit selama satu detik, tetapi setetes darah yang mengalir dari lengan kita mampu menjadi jembatan menuju masa depan bagi mereka yang sedang berjuang di ambang kematian. Mari manfaatkan kesehatan yang kita miliki hari ini untuk berbagi kehidupan bagi sesama. Jangan tunggu besok, jadilah pendonor darah sekarang.
Bunga Anggreini Sari.
Dosen S1 Kedokteran, Departemen Patologi Klinik, FK UPN Veteran Jakarta
