Scroll untuk baca artikel
Opini

Kemerdekaan dari Belenggu Dunia

×

Kemerdekaan dari Belenggu Dunia

Sebarkan artikel ini
Kemerdekaan dari Belenggu Dunia

Oleh: Hana Sheila, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaan sebagai momentum terbebasnya negeri ini dari penjajahan fisik. Kemerdekaan tersebut diraih melalui perjuangan panjang dan pengorbanan para pahlawan. Namun, di era modern, muncul pertanyaan yang patut direnungkan, apakah kita benar-benar telah merdeka? Meski tidak lagi dijajah secara fisik, banyak remaja hari ini justru menghadapi bentuk “penjajahan” yang berbeda, yaitu penjajahan pemikiran, gaya hidup, dan hawa nafsu.

Mereka hidup di tengah arus informasi yang begitu deras, tetapi semakin sulit menemukan arah hidup yang benar. Tidak sedikit yang merasa nilai dirinya ditentukan oleh jumlah pengikut di media sosial, penampilan, kekayaan, prestasi akademik, atau pengakuan dari orang lain. Akibatnya, kebahagiaan menjadi bergantung pada standar dunia yang terus berubah.

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Salah satu penyebabnya adalah kuatnya budaya materialisme dan konsumerisme yang berkembang di tengah masyarakat. Keberhasilan seseorang sering diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari siapa dirinya di hadapan Allah. Media sosial memperkuat budaya tersebut dengan menampilkan kehidupan yang tampak sempurna sehingga banyak remaja terdorong untuk terus membandingkan diri, mengejar validasi, dan takut tertinggal (fear of missing out).

Dalam perspektif kritik terhadap sistem kapitalisme, kondisi ini juga dipengaruhi oleh sistem yang mendorong manusia menjadi konsumen sekaligus mengejar produktivitas tanpa henti. Sejak usia muda, seseorang didorong untuk terus berkompetisi, mengejar materi, membangun citra diri, dan menjadikan kesuksesan dunia sebagai tujuan utama. Akibatnya, kehidupan spiritual sering kali tersisih, sementara hati dipenuhi rasa cemas, iri, tidak pernah merasa cukup, dan kehilangan makna hidup.

Islam memandang, akar persoalan tersebut ketika manusia menjadikan dunia sebagai tujuan, bukan sebagai sarana menuju akhirat. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Sebaliknya, barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menyatukan urusannya, menjadikan kecukupan di dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (HR. Ibnu Majah).

Hadits tersebut menunjukkan, keterikatan berlebihan pada dunia justru melahirkan kegelisahan, sedangkan menjadikan akhirat sebagai orientasi hidup akan menghadirkan ketenangan.

Karena itu, kemerdekaan sejati menurut Islam adalah terbebas dari penghambaan kepada selain Allah. Remaja tidak dilarang untuk belajar, bekerja, berprestasi, atau meraih kesuksesan, tetapi seluruh aktivitas tersebut harus diniatkan sebagai bentuk ibadah dan dilakukan sesuai syariat.

Islam juga menempatkan pendidikan akidah sebagai fondasi utama agar remaja memiliki cara pandang yang benar terhadap kehidupan. Dunia diposisikan sebagai ladang amal, bukan tujuan akhir. Negara dan masyarakat pun memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung terbentuknya generasi yang bertakwa, bukan sekadar generasi yang sukses secara materi.

Dengan demikian, kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya bebas dari penjajahan suatu bangsa, tetapi juga bebas dari belenggu hawa nafsu, materialisme, dan penghambaan kepada dunia. Ketika seorang Muslim menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup, ia akan mampu memanfaatkan dunia tanpa diperbudak olehnya. Inilah kemerdekaan hakiki yang akan menghadirkan ketenangan di dunia sekaligus kebahagiaan di akhirat.[]