DEPOK – Pegiat Komunitas Remaja Hi.Mpok Kak Chusna menegaskan, belenggu FOMO (Fear of Missing Out) yang terjadi pada remaja perlu diatasi dengan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara kaffah.
Hal tersebut diungkapnya dalam Girls Talk Hi.Mpok, FOMO: Dari Belenggu yang Tak Terlihat, Ahad (23-8-2026).
Menurutnya, dengan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara kaffah dan berada di lingkungan yang saling menguatkan seperti Hi.Mpok, seorang Muslimah dapat belajar menjadi pribadi yang lebih tenang, fokus, produktif, dan tidak mudah dikendalikan oleh penilaian manusia.
“Sebab, kita tidak harus disukai semua orang, tidak harus mengikuti semua tren, dan tidak harus memiliki semua yang orang lain punya. Yang perlu kita cari adalah ridha Allah,” jelasnya di hadapan puluhan remaja putri.
Kak Chusna pun menilai, dengan memahami Islam kaffah, akan menjadikan para remaja Muslimah mempunyai kepribadian Islam, sehingga menjadikan ridha Allah sebagai standar dalam menentukan pilihan, bukan mengikuti tren atau mencari validasi manusia.
Pasalnya, menurut Kak Chusna, nilai diri seorang Muslimah tidak seharusnya ditentukan oleh seberapa banyak orang menyukai pilihan hidupnya, tetapi oleh sejauh mana pilihannya sesuai dengan standar yang Allah tetapkan.
Tak lupa Ka Chusna juga mengajak para remaja Muslimah untuk mulai membebaskan diri dari belenggu FOMO melalui langkah-langkah sederhana, yakni berani berbeda ketika berada di jalan yang benar, tidak menganggap sesuatu harus diikuti hanya karena sedang viral, menjadikan Islam sebagai standar sebelum mengambil keputusan, serta mengurangi ketergantungan terhadap validasi manusia.
“Selain itu, waktu di media sosial perlu dibatasi dan dialihkan pada aktivitas yang lebih bermanfaat seperti belajar, beribadah, berkarya, dan mengembangkan potensi diri,” terangnya.
Dengan begitu, lanjutnya, hidup tidak lagi berpusat pada highlight orang lain, tetapi pada tujuan hidup yang ingin dicapai.
Tak lupa juga Kak Chusna mengajak para Muslimah untuk melakukan refleksi sederhana. “Apakah selama ini kita memilih karena memang menginginkannya atau karena takut tertinggal? Apakah kita melakukan sesuatu karena Allah ridha atau karena ingin dipuji manusia?” tanyanya.
Menurutnya, melepaskan diri dari FOMO bukan berarti menjadi pribadi yang tidak peduli dengan lingkungan, melainkan memiliki prinsip dan keberanian untuk menentukan pilihan berdasarkan kebenaran.[Najwa Nazahah]
