DEPOKPOS – Berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat sering kali dikaitkan dengan persoalan moral individu. Ketika korupsi terjadi, kita berbicara tentang kejujuran. Ketika kekerasan meningkat, kita menyerukan pentingnya akhlak. Ketika pergaulan generasi muda semakin mengkhawatirkan, solusi yang ditawarkan sering kali berupa penguatan pendidikan karakter dan pembinaan moral.
Tidak ada yang keliru dari upaya tersebut. Membentuk individu yang beriman, berakhlak, dan memiliki kepribadian baik merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan yang baik. Namun, muncul pertanyaan yang perlu direnungkan: jika individu sudah diperbaiki, mengapa berbagai persoalan tetap muncul dan berulang?
Pertanyaan ini penting karena tidak semua persoalan semata-mata disebabkan oleh kelemahan pribadi. Ada persoalan yang telah berkembang menjadi persoalan sistemik, yaitu persoalan yang terus muncul karena dipengaruhi aturan, kebijakan, nilai, serta cara pandang yang menjadi dasar kehidupan masyarakat.
Dalam kondisi seperti ini, memperbaiki perilaku individu tetap diperlukan, tetapi tidak cukup jika akar persoalannya tidak disentuh. Setiap individu dapat diajarkan untuk jujur. Namun, jika lingkungan kehidupannya memberikan ruang bagi kecurangan dan menjadikan keuntungan materi sebagai ukuran keberhasilan, individu tersebut hidup dalam sistem yang terus memberikan tekanan terhadap nilai yang telah diajarkan.
Demikian pula, seorang anak dapat diajarkan untuk menjaga kehormatan dan batasan pergaulan. Namun, pada saat yang sama, ia hidup dalam lingkungan yang setiap hari menghadirkan berbagai nilai yang bertentangan dengan prinsip tersebut. Artinya, persoalannya bukan hanya bagaimana membentuk manusia yang baik, tetapi juga bagaimana menghadirkan lingkungan dan aturan kehidupan yang mendukung kebaikan tersebut.
Tidak Lahir dari Ruang Kosong
Perilaku manusia tidak lahir dalam ruang kosong. Cara seseorang berpikir, menentukan pilihan, memandang kebahagiaan, memahami kesuksesan, bahkan menentukan benar dan salah, sangat dipengaruhi oleh pemikiran di sekitarnya, baik dari keluarga maupun masyarakat.
Pemikiran tersebut melahirkan pemahaman dan standar nilai yang pada akhirnya turut membentuk kehidupan masyarakat. Karena itu, ketika kerusakan telah menyentuh tataran sistem, penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan memperbaiki perilaku individu. Diperlukan perubahan terhadap pemikiran yang menjadi landasan sistem tersebut.
Dengan kata lain, harus ada perubahan yang mendasar dan menyentuh akar persoalan, bukan sekadar memperbaiki gejala di permukaan.
Islam Tidak Berhenti pada Individu
Dalam perspektif Islam, manusia memang diperintahkan untuk memperbaiki dirinya. Islam membentuk manusia agar memiliki keimanan yang kokoh, berakhlak mulia, serta terikat dengan hukum-hukum Allah SWT.
Namun, Islam tidak berhenti pada pembentukan individu. Islam juga memberikan aturan yang mengatur kehidupan keluarga, pendidikan, ekonomi, kehidupan sosial, peradilan, pemerintahan, hingga hubungan antarnegara.
Hal ini menunjukkan, Islam tidak menempatkan agama hanya sebagai urusan pribadi antara manusia dengan Tuhannya. Islam memiliki seperangkat aturan yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia.
Karena itu, ketika membicarakan solusi Islam terhadap berbagai persoalan kehidupan, pembahasannya tidak semestinya berhenti pada ajakan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga melihat bagaimana kehidupan masyarakat diatur berdasarkan aturan yang bersumber dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan” (QS al-Baqarah: 208)
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa Islam tidak semestinya dipahami secara parsial, dengan mengambil sebagian ajarannya dan meninggalkan sebagian lainnya. Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, serta hubungan manusia dengan sesamanya.
Karena itu, penerapan Islam secara kaffah berarti menempatkan Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan sesuai dengan ketentuan Allah SWT.
Dalam Islam, kehidupan tidak diserahkan sepenuhnya kepada manusia untuk menentukan sendiri standar benar dan salah berdasarkan kepentingan atau perkembangan zaman. Sebagai seorang Muslim, standar tersebut dikembalikan kepada wahyu Allah SWT.
Dari sinilah lahir pandangan hidup Islam yang menempatkan keridaan Allah SWT sebagai orientasi kehidupan dan hukum syariat sebagai pedoman dalam mengatur berbagai persoalan manusia.
Perubahan yang Menyentuh Akar
Karena itu, membangun perubahan tidak cukup hanya dengan menyerukan, “Mari kita menjadi manusia yang lebih baik.”
Seruan tersebut perlu dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih mendasar: kehidupan seperti apa yang hendak kita bangun? Pemikiran apa yang menjadi landasannya? Dan aturan siapa yang menjadi pedomannya?
Jika persoalan yang dihadapi hanya persoalan individu, pembinaan individu tentu menjadi bagian utama dari penyelesaiannya. Namun, ketika persoalan telah bersifat sistemik, penyelesaiannya pun membutuhkan perubahan yang menyentuh sistem dan fondasinya.
Memperbaiki individu adalah penting. Namun, membiarkan sistem yang turut melahirkan berbagai kerusakan tetap berjalan tentu tidak akan menyelesaikan persoalan secara tuntas.
Pada akhirnya, perubahan yang diharapkan bukanlah sekadar perubahan perilaku sebagian individu, melainkan perubahan yang berangkat dari kesadaran terhadap persoalan, perubahan pemikiran, dan penerapan aturan kehidupan yang benar.
Bagi seorang Muslim, landasan tersebut tidak lain adalah Islam yang dipahami dan diterapkan secara menyeluruh. Sebab, memperbaiki individu adalah awal dari perubahan. Namun, ketika persoalan telah menyentuh sistem, perubahan tidak boleh berhenti pada individu.[]
