Oleh: Moh Rafli
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai membawa perubahan besar dalam dunia kerja. Saat ini, perusahaan tidak hanya membutuhkan karyawan yang memiliki ijazah pendidikan tinggi, tetapi juga tenaga kerja yang mempunyai keterampilan, kemampuan beradaptasi, dan komunikasi yang baik. Perubahan ini menjadi tantangan bagi generasi muda, khususnya mahasiswa dan lulusan baru yang sedang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja.
Berdasarkan berita ANTARA News pada 15 Juni 2026, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menyampaikan bahwa dunia industri semakin membutuhkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi nyata, adaptif, dan siap kerja di tengah perkembangan teknologi digital dan AI. Berita tersebut menunjukkan bahwa kesesuaian antara kemampuan tenaga kerja dan kebutuhan perusahaan menjadi hal yang penting dalam menghadapi persaingan kerja.
Menurut saya, kondisi ini harus menjadi perhatian bagi mahasiswa dan para pencari kerja. Memiliki ijazah memang penting, tetapi ijazah saja belum tentu menjamin seseorang dapat memperoleh pekerjaan. Mahasiswa perlu membekali diri dengan keterampilan tambahan, seperti kemampuan menggunakan teknologi, berpikir kritis, bekerja sama dalam tim, serta berkomunikasi secara efektif. Kemampuan public speaking juga perlu dilatih karena dapat membantu seseorang menyampaikan ide, mempresentasikan pekerjaan, dan membangun kepercayaan diri ketika menghadapi wawancara kerja.
Selain kesiapan individu, perusahaan juga mempunyai tanggung jawab dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Perusahaan sebaiknya tidak hanya menuntut karyawan untuk langsung menguasai pekerjaan, tetapi juga memberikan pelatihan, pendampingan, dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan. Dengan demikian, karyawan dapat mengikuti perkembangan teknologi tanpa merasa tertinggal. Pemerintah dan perguruan tinggi pun perlu memperkuat kerja sama dengan dunia industri agar pendidikan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan saat ini.
Sebagai penutup, saya berpendapat bahwa kualitas sumber daya manusia tidak cukup diukur dari tingkat pendidikan atau gelar yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan, sikap, dan kemauan untuk terus belajar. Perkembangan AI seharusnya menjadi dorongan bagi generasi muda untuk meningkatkan kualitas diri, bukan alasan untuk merasa takut menghadapi masa depan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mulai mempersiapkan diri sejak sekarang agar mampu bersaing, beradaptasi, dan memberikan kontribusi positif bagi dunia kerja Indonesia.
