Scroll untuk baca artikel
Opini

Gaza: Krisis yang Tidak Pernah Selesai, Dunia Menutup Mata

×

Gaza: Krisis yang Tidak Pernah Selesai, Dunia Menutup Mata

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Retno Muninggar , S.Pi, M.E (Dosen PTN, alumni UI, aktivis dakwah)

DEPOKPOS – Gaza kembali diterjang derita. Warga Palestina yang sebagian besar tinggal di tenda-tenda pengungsian kini harus menghadapi bencana alam, dengan badai dan banjir yang merobohkan tenda mereka serta semakin memperburuk kondisi yang sudah sangat memprihatinkan.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat, United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East-UNRWA) mengatakan hujan yang mengguyur jalur Gaza memperburuk situasi sudah sangat mengkhawatirkan di wilayah tersebut.

Dilaporkan bahwa keluarga di Jalur Gaza
terpaksa mencari pengungsian, termasuk di tenda-tenda darurat (https://www.antaranews.com/15112025).

Militer Israel kembali melancarkan rangkaian serangan ke sejumlah wilayah Gaza pada Rabu (19/11/2025) waktu setempat.

Sedikitnya 93 warga Palestina tewas, dengan lebih dari 330 lainnya terluka, beberapa korban luka berada dalam kondisi kritis.

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan ini merupakan pelanggaran terbaru terhadap kesepakatan gencatan  senjata rapuh yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 (https://aktualitas.id/)28102025 ).

Namun, dunia internasional yang mengklaim bahwa “Gaza baik-baik saja” tampaknya menutup mata terhadap kenyataan yang terjadi di lapangan.

Negara-negara besar, terutama Amerika Serikat, terus menutup mata terhadap
penderitaan yang dialami oleh warga Gaza.

Gencatan senjata yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara dan tidak mengatasi akar masalah yang sebenarnya: penjajahan yang dilakukan oleh Zionis Israel terhadap Palestina.

Solusi-solusi yang ditawarkan oleh Barat, termasuk AS dan sekutunya seperti two states solution terbukti tidak mampu menyelesaikan masalah ini.

Bahkan, mereka cenderung melanggengkan penjajahan yang sudah berlangsung lama, alih-alih mencari jalan keluar yang adil dan hakiki.

Dalam konteks ini, solusi yang lebih komprehensif dan ideologis diperlukan.

Solusi Islam, dengan konsep jihad dan Khilafah harus menjadi pegangan bagi para pemimpin negeri-negeri muslim dalam menghadapi penindasan yang terus berlangsung.

Khilafah bukan hanya sekadar konsep pemerintahan, tetapi sebuah perisai (junnah) yang dapat melindungi Palestina dari segala bentuk penjajahan.

Gaza membutuhkan lebih dari sekadar gencatan senjata; Gaza membutuhkan solusi hakiki yang dapat mengakhiri penjajahan dan mengembalikan martabat bangsa Palestina, yaitu jihad dan khilafah.

Solusi ini harus terus dikampanyekan melalui dakwah Islam ideologis.

Dakwah yang mengajak umat untuk menyadari bahwa hanya dengan tegaknya sistem Islam, penjajahan dapat dihentikan dan hak-hak rakyat Palestina dapat dikembalikan.

Melalui dakwah, kita mengajarkan umat bahwa Palestina bukan hanya masalah satu bangsa atau satu wilayah, tetapi masalah seluruh umat muslim di dunia.

Negara-negara muslim harus bersatu untuk mengakhiri penderitaan ini, dengan komitmen dan langkah-langkah konkret yang mengarah pada pembebasan Palestina.

Ini bukan hanya tanggung jawab moral, tetapi juga tanggung jawab agama, karena umat Islam memiliki kewajiban untuk melindungi tanah suci dan menjaga kehormatan sesama Muslim di seluruh dunia.

Kebijakan luar negeri negara-negara muslim perlu berorientasi pada satu tujuan bersama: mengembalikan Palestina sebagai tanah yang merdeka, tanpa intervensi dan penjajahan.

Semua ini harus dikerjakan dengan tekad bulat dan dalam kerangka sistem Islam yang holistik, yang memandang Palestina sebagai bagian dari kewajiban global umat Islam.