Tak Sekedar Viral, Pentingnya Menilai Kebenaran dari Dua Sisi!

Tak Sekedar Viral, Pentingnya Menilai Kebenaran dari Dua Sisi!

DEPOKPOS – Baru-baru ini ramai di media sosial sebuah video yang diduga sebagai video tindakan abusive terhadap anjing K9 jenis Belgian Malinois yang dilakukan oleh seorang petugas keamanan di salah satu mall besar di Jakarta, Plaza Indonesia.

Video tersebut mendadak viral dan menjadi topik panas di kalangan netizen. Banyak pihak, khususnya mereka para pecinta binatang mengecam kejadian tersebut. Komentar-komentar pedas dan desakan klarifikasi pun tak mampu dibendung, tak terkecuali komentar-komentar yang memenuhi akun media sosial Mall Plaza Indonesia.

Bacaan Lainnya

Akhirnya, pada 06 Juni 2024, pihak manajemen Plaza Indonesia melakukan permintaan maaf secara terbuka dan menyesali kejadian tersebut. Plaza Indonesia pun mengambil langkah tegas dengan memutus hubungan kerja dengan petugas keamanan dan vendor penyedia jasa keamanan tersebut.

BACA JUGA:  Mewujudkan Masyarakat Digital yang Cerdas dan Bertanggung Jawab di Indonesia: Tantangan dan Peluang di Era Transformasi Digital

Namun, beberapa hari kemudian santer beredar video rekaman CCTV yang memperlihatkan keadaan sebelum terjadinya pemukulan terhadap anjing K9 tersebut. Di video itu terlihat petugas keamanan yang sedang berjaga bersama anjingnya, lalu tiba-tiba ada seekor anak kucing yang datang menghampiri ke arah mereka dan saat petugas keamanan lengah si anjing tiba-tiba sudah menggigit si anak kucing.

Menyadari hal itu petugas keamanan pun berusaha melepaskan gigitan si anjing pada anak kucing hingga kejadian yang diduga sebagai pemukulan kepada anjing pun terjadi. Setelah video itu beredar luas dan ikut menjadi viral, pro kontra tentang isu ini pun semakin memanas.

Opini publik pun terpecah menjadi dua kubu, ada yang berbalik mendukung si petugas keamanan karena menurut mereka anjing K9, yang merupakan salah satu jenis anjing professionally trained memang perlu sesekali diberi tindakan koreksi jika tingkah lakunya sudah terlalu agresif,.

Ada juga kubu yang tetap mempertahankan opini mereka bahwa mau bagaimanapun keadaannya seharusnya si petugas keamanan sebagai handler tidak perlu sampai melakukan tindakan pemukulan tersebut apalagi santer beredar kabar bahwa setelah tindakan pemukulan pertama untuk melepaskan gigitan si anjing pada anak kucing, si anjing masih dipukuli.

BACA JUGA:  Imam al-Ghazali tentang Mekanisme Pasar dalam Ekonomi Islam

Sebenarnya, setelah beredar rekaman sebelum kejadian pun tidak bisa membuat si petugas keamanan menjadi pihak yang tidak bersalah. Tetapi, dari kasus ini yang sangat disayangkan adalah bagaimana tanggapan publik bahkan pihak manajemen mall yang terkesan terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan.

Apalagi membuat seolah-olah sang petugas keamanan dengan sengaja melakukan tindakan pemukulan itu. Dari keterburu-buruan dalam mengambil kesimpulan, membuat sang petugas keamanan harus kehilangan pekerjaan dan harus berpisah dengan sang anjing yang sudah membersamainya selama beberapa tahun, apalagi anjing K9 biasanya dikenal hanya mempunyai 1 orang handler yang artinya sang handler tidak bisa tiba-tiba digantikan kehadirannya oleh orang lain.

Pada tulisan ini, penulis tidak bermaksud untuk meng-highlight isu abusive yang sedang ramai di atas. Tetapi tulisan ini bertujuan untuk memberikan contoh kasus pada masyarakat bahwa sebuah keputusan tidak bisa diambil dengan terburu-buru, hanya menilai dari satu sisi, dan tidak ada analisis terhadap kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa terjadi karena bisa menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan.

BACA JUGA:  Menanggulangi Ancaman Keamanan Siber: Upaya Penguatan Kapasitas SDM dan Infrastruktur

Menurut Herbert A. Simon mengemukakan tiga proses dalam pengambilan keputusan yaitu:

(1) Inteligence Activity, yaitu : proses pemilihan situasi dan kondisi dengan wawasan yang inteligen;

(2) Design Activity, yaitu proses menemukan masalah, mengembangkan pemahaman dan menganalisis kemungkinan pemecahan masalah serta tindakan lebih lanjut, ada perencanaan pola kegiatan; dan

(3) Choise Activity, yaitu memilih salah satu tindakan dari sekian banyak alternatif atau kemungkinan pemecahan, dan diambil keputusan.

Dengan memperhatikan pembelajaran dari kasus ini, diharapkan bahwa masyarakat dapat lebih berhati-hati dan teliti dalam menanggapi situasi yang rumit dan kontroversial di masa depan.

Sabrina Putri Afrilia, mahasiswa Universitas Pamulang

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait