DEPOKPOS – Pernah nggak sih kamu merasa pekerjaan di kantor semakin hari semakin banyak, tetapi orang yang mengerjakannya tetap itu-itu saja? Awalnya mungkin masih terasa biasa. Namun, lama-kelamaan pekerjaan mulai menumpuk dan waktu istirahat pun kadang ikut berkurang. Ada karyawan yang harus mengerjakan tugas milik bagian lain karena pekerjaan sedang banyak. Bahkan, ada juga yang harus lembur supaya semua pekerjaan bisa selesai tepat waktu. Kondisi seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi kalau terus terjadi, tentu bisa menjadi masalah bagi karyawan maupun perusahaan.
Ketika sebuah perusahaan berkembang, pekerjaan memang biasanya ikut bertambah. Pesanan semakin banyak, pelanggan bertambah, target naik, dan tanggung jawab karyawan juga semakin besar. Sayangnya, tidak semua perusahaan langsung memikirkan apakah jumlah karyawannya masih cukup untuk menghadapi kondisi tersebut. Akhirnya, pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh beberapa orang harus diselesaikan oleh orang yang sama. Karyawan memang bisa membantu untuk sementara waktu, tetapi kalau keadaan ini berlangsung terus, mereka juga bisa merasa lelah dan mulai kehilangan semangat dalam bekerja.
Sebenarnya, menambah karyawan juga bukan satu-satunya jalan. Perusahaan perlu melihat dulu kenapa pekerjaan menjadi semakin banyak. Bisa jadi ada pekerjaan yang sebenarnya bisa dibuat lebih sederhana. Bisa juga pembagian tugasnya kurang merata, sehingga ada karyawan yang sangat sibuk sementara pekerjaan di bagian lain tidak terlalu banyak. Hal-hal seperti ini perlu diperhatikan sebelum perusahaan mengambil keputusan untuk merekrut orang baru.
Menurut saya, perusahaan seharusnya tidak hanya memikirkan target yang ingin dicapai, tetapi juga memikirkan orang-orang yang menjalankan target tersebut. Target yang tinggi memang penting, tetapi jangan sampai target tersebut membuat karyawan merasa terus dikejar pekerjaan. Kalau satu orang terus diberikan pekerjaan tambahan tanpa melihat kemampuannya, cepat atau lambat pasti akan terasa berat. Pada akhirnya, pekerjaan yang seharusnya selesai dengan baik justru bisa dikerjakan terburu-buru karena karyawan sudah terlalu banyak memegang tanggung jawab.
Hal lain yang sering terjadi adalah perusahaan baru mencari karyawan ketika masalah sudah muncul. Misalnya, ketika banyak karyawan mengundurkan diri atau ketika pekerjaan sudah terlalu menumpuk, barulah perusahaan mulai membuka banyak lowongan. Padahal, kebutuhan tenaga kerja sebenarnya bisa diperkirakan lebih awal. Perusahaan bisa melihat rencana perkembangan bisnis, jumlah pekerjaan, kemampuan karyawan yang ada, dan kemungkinan adanya karyawan yang keluar atau pensiun.
Kalau melihat kondisi ketenagakerjaan Indonesia, kebutuhan tenaga kerja memang terus bergerak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026, jumlah penduduk usia kerja mencapai 219,54 juta orang. Dari jumlah tersebut, 154,91 juta orang termasuk dalam angkatan kerja dan 147,67 juta orang sudah bekerja. Sementara itu, jumlah pengangguran terbuka tercatat sekitar 7,24 juta orang. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja berada di sekitar 70,56 persen, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka mencapai 4,68 persen.
Angka tersebut juga menunjukkan adanya perubahan dibandingkan tahun sebelumnya. BPS mencatat jumlah angkatan kerja pada Februari 2026 bertambah sekitar 1,862 juta orang dibandingkan Februari 2025. Jumlah penduduk yang bekerja juga meningkat sekitar 1,896 juta orang. Pada saat yang sama, rata-rata upah buruh pada Februari 2026 tercatat sekitar Rp3,29 juta per bulan. Data ini memberikan gambaran bahwa pasar tenaga kerja terus mengalami perubahan, baik dari sisi jumlah orang yang masuk ke dunia kerja maupun jumlah orang yang sudah bekerja.
Menariknya, penyerapan tenaga kerja juga tidak terjadi secara merata pada semua bidang. BPS mencatat sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi lapangan usaha dengan jumlah pekerja terbesar pada Februari 2026, yaitu sekitar 42,49 juta orang atau 28,78 persen dari penduduk yang bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja sangat bergantung pada jenis usaha dan perkembangan masing-masing sektor. Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya melihat jumlah orang yang sedang mencari pekerjaan. Perusahaan juga harus melihat keterampilan apa yang dibutuhkan dan apakah tenaga kerja yang tersedia sesuai dengan pekerjaan yang ada.
Data tersebut memang merupakan gambaran kondisi tenaga kerja secara nasional dan tidak secara langsung menunjukkan bahwa setiap perusahaan sedang kekurangan karyawan. Namun, data BPS dapat menjadi salah satu bahan untuk memahami bahwa dunia kerja terus berubah. Di tingkat perusahaan, data sekunder seperti laporan jumlah karyawan, tingkat keluar-masuk karyawan, data lembur, perkembangan penjualan, jumlah produksi, dan laporan kebutuhan tenaga kerja juga dapat digunakan untuk memperkirakan apakah perusahaan membutuhkan tambahan orang atau justru perlu memperbaiki pembagian pekerjaan.
Perencanaan seperti ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya cukup besar. Kalau perusahaan tahu kapan membutuhkan tambahan orang dan orang seperti apa yang dibutuhkan, proses kerja bisa berjalan lebih lancar. Karyawan yang sudah ada juga tidak harus terus-menerus menanggung pekerjaan tambahan. Sebaliknya, perusahaan juga tidak asal merekrut banyak orang hanya karena sedang mengejar target.
Pada akhirnya, ketika pekerjaan semakin banyak tetapi jumlah karyawan tidak bertambah, mungkin masalahnya bukan hanya soal kurangnya orang. Bisa jadi perusahaan memang belum menghitung kebutuhan tenaga kerjanya dengan baik. Yang perlu dipikirkan bukan hanya bagaimana pekerjaan hari ini selesai, tetapi juga bagaimana pekerjaan beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan dapat berjalan dengan baik.
Perusahaan boleh mengejar pertumbuhan dan target yang tinggi. Namun, jangan sampai lupa bahwa di balik setiap target ada orang yang bekerja untuk mencapainya. Kalau perusahaan ingin berkembang dalam jangka panjang, karyawannya juga perlu diperhatikan. Sebab, pekerjaan yang banyak akan terasa lebih ringan ketika jumlah orang, pembagian tugas, dan kemampuan yang dimiliki memang sesuai dengan kebutuhan.
Faizal Afif
Mahasiswa Universitas Pamulang

