Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Quiet Budgeting, Cara Mengatur Keuangan dengan Tenang dan Fleksibel

×

Quiet Budgeting, Cara Mengatur Keuangan dengan Tenang dan Fleksibel

Sebarkan artikel ini

Oleh Emery Aretha Serena, Mahasiswi Manajemen Bisnis Syariah Universitas Tazkia

Quiet Budgeting, Cara Mengatur Keuangan dengan Tenang dan Fleksibel

DEPOKPOS – Pernahkah kita menolak ajakan hangout bersama teman dengan alasan sedang berhemat? Atau membagikan kondisi keuangan di media sosial agar orang lain mengetahui kondisi tersebut dan dapat memberikan saran?

Cara mengatur keuangan seperti ini dikenal dengan istilah loud budgeting. Konsep loud budgeting sendiri mendorong seseorang untuk lebih terbuka mengenai keputusan finansialnya, seperti apa yang mampu dibeli, apa yang tidak ingin dibeli, atau pengeluaran apa yang sedang ingin dikurangi. Keterbukaan tersebut dapat membantu sebagian orang mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar.

Namun, pendekatan tersebut belum tentu cocok bagi semua orang. Ketika seseorang terlalu sering memperlihatkan target keuangan pribadi atau dibuat terlalu ketat, hal itu justru dapat membebani dirinya sendiri. Alih-alih merasa terbantu, proses mengatur keuangan dapat berubah menjadi tekanan karena muncul perasaan bahwa dirinya harus selalu berhasil memenuhi aturan yang telah dibuat.

Lalu, apa alternatif untuk mengatur keuangan dengan cara yang lebih tenang dan fleksibel?. Kita dapat menggunakan konsep sebaliknya, yaitu Quiet budgeting. Quiet budgeting sendiri merupakan cara mengatur keuangan secara lebih pribadi, sederhana, dan fleksibel, tanpa harus menjadikan budgeting sebagai pusat perhatian. Fokusnya bukan pada seberapa banyak orang lain mengetahui keputusan finansial kita, melainkan pada bagaimana kita benar-benar memahami dan mengelola kondisi keuangan sendiri.

Sebagai contoh, Budi memiliki uang 3 juta setiap bulan dan ingin mulai menabung. Alih-alih menetapkan aturan kaku bahwa ia harus selalu menabung 1 juta setiap bulan, Budi terlebih dahulu melihat kebutuhan dan pengeluaran bulanannya. Jika pada suatu bulan terdapat kebutuhan tambahan, ia dapat menyesuaikan jumlah uang yang ia ditabung. Ketika kondisi keuangannya lebih longgar pada bulan berikutnya, jumlah uang tersebut dapat kembali disesuaikan.

Dengan demikian, budgeting bukanlah suatu aktivitas yang kaku, melainkan dapat kita sesuaikan dengan kondisi harian pribadi.

Lalu, bagaimana cara menerapkannya?

1. Kenali kondisi keuangan

Kita perlu mengetahui kondisi keuangan terlebih dahulu, seperti berapa pemasukan dan uang yang tersedia, berapa tabungan yang dimiliki, serta untuk apa saja uang biasanya digunakan.

2. Sisihkan waktu untuk mengecek keuangan

Luangkan waktu secara rutin untuk mengecek pemasukan, pengeluaran, dan kebutuhan yang akan datang agar kita mengetahui apakah kondisi keuangan masih sesuai dengan rencana.

3. Pisahkan pengeluaran wajib

Dahulukan pengeluaran yang memang harus dibayar, seperti tagihan listrik, air, biaya pendidikan, dan kebutuhan rutin lainnya.

4. Perhatikan pengeluaran kecil

Pengeluaran seperti membeli snack, minuman, atau hal-hal kecil lainnya juga perlu diperhatikan. Jumlahnya mungkin terlihat kecil, namun jika dilakukan terus menerus, makandapat membuat pengeluaran membengkak.

5. Buat kebiasaan menabung secara konsisten

Sebagian uang dapat langsung dialokasikan untuk tabungan setelah menerima pemasukan. Dengan begitu, kita tidak perlu menunggu sampai akhir bulan untuk melihat apakah masih ada uang yang tersisa.

6. Berani mengatakan tidak

Kita tidak harus selalu mengikuti ajakan untuk mengeluarkan uang. Jika memang tidak ingin ikut, kita bisa menolak dengan sederhana tanpa harus menjelaskan kondisi keuangan secara panjang lebar.

Emery Aretha Serena, Mahasiswi Manajemen Bisnis Syariah Universitas Tazkia