Prenuptial Agreement: Strategi Efektif Sebagai Tahapan Awal Untuk Membentuk Pondasi Kesejahteraan Keluarga

Prenuptial Agreement: Strategi Efektif Sebagai Tahapan Awal Untuk Membentuk Fondasi Kesejahteraan Keluarga

DEPOKPOS – Pernikahan merupakan suatu komitmen emosional dan hukum yang diakui di antara dua individu yang mengacu pada kesepakatan untuk saling berdekatan secara emosional dan fisik serta mencakup tanggung jawab dalam menjalani tugas sehari-dari dan mengelola sumber daya ekonomi bersama agar dapat membangun kehidupan bersama yang harmonis (Oslon, DeFrain, & Skogrand, 2010).

Pernikahan merupakan awal dari penyatuan dua insan yang akan membentuk suatu keluarga baru. Proses untuk menyatukan dua individu ini dalam suatu pernikahan atau hubungan jangka panjang tidak terlepas dari munculnya konflik yang terjadi pada pasangan.

Konflik pada pasangan tersebut dapat muncul seiring dengan berjalannya kehidupan berkeluarga yang dapat berupa masalah pengaturan keuangan, tanggung jawab, perbedaan prioritas, keputusan memiliki anak dan pola pengasuhan anak, serta masalah-masalah lainnya.

Konflik-konflik yang dapat terjadi dalam kehidupan berkeluarga tersebut tidak selalu dapat dihindari namun dapat diminimalkan dan diatasi dengan adanya suatu landasan hukum yang jelas dan disepakati oleh pasangan tersebut yang menjadi pegangan dalam berkeluarga.

BACA JUGA:  Definisi, Jenis dan Dalil Tentang Riba

Landasan hukum tersebut dapat menjadi pedoman dalam berkeluarga, memberikan dasar yang kuat dan terstruktur bagi pasangan untuk mengelola perbedaan dan meminimalkan potensi ketidaksepahaman yang mungkin dapat terjadi di masa depan.

Dalam konteks ini, landasan hukum yang terstruktur diperlukan oleh pasangan dapat dibentuk dalam suatu perjanjian yang dikenal sebagai perjanjian pra nikah atau prenuptial agreement. Prenuptial agreement merupakan perjanjian atau kesepakatan yang dibuat antara dua pihak yaitu seorang pria dan seorang wanita yang akan menjalankan pernikahan yang berfungsi sebagai dokumen resmi yang merinci terkait sejumlah hal dalam pengaturan urusan rumah tangga selama keberlanjutan hubungan pernikahan (Febriansyah dkk, 2021).

Pada dasarnya, perjanjian ini memberikan landasan hukum yang membantu mencegah dan mengatasi potensi konflik yang dapat terjadi di masa depan dalam suatu keluarga. Keluarga yang senantiasa terhindar dari konflik akan menciptakan lingkungan keluarga yang positif untuk kesejahteraan dan keharmonisan dalam keluarga.

BACA JUGA:  Mengatasi Rasa Malas, Gampang Koq!

Oleh karena itu, Saya percaya bahwa prenuptial agreement atau perjanjian pra nikah merupakan strategi yang efektif sebagai tahapan awal untuk membentuk fondasi kesejahteraan keluarga.

Prenuptial agreement diidentifikasi sebagai suatu alat yang ditujukan untuk memperkuat penguatan persatuan dalam keluarga (Sergeeva dkk, 2019).

Dalam konteks memperkuat persatuan dalam keluarga, perjanjian ini menyediakan kerangka yang membantu membangun pemahaman dan kepercayaan antara dua individu yang membentuk suatu pasangan.

Proses pembuatan atau penyusunan perjanjian ini melibatkan diskusi mendalam terkait nilai-nilai, harapan, tujuan masing-masing pasangan, dan hal-hal lainnya yang perlu didiskusikan oleh pasangan.

Berdasarkan hal tersebut, perjanjian ini tidak hanya membantu kejelasan hukum antara dua individu tersebut akan tetapi juga untuk menciptakan kesempatan bagi dua individu tersebut untuk terlibat dalam suatu komunikasi yang lebih terbuka dan memperkuat ikatan emosional antara keduanya sehingga terciptanya landasan yang kokoh untuk keberlangsungan hubungan pasangan tersebut di masa depan.

BACA JUGA:  Mengapa Semakin Dewasa Semakin Sedikit Memiliki Lingkaran Sosial yang Luas?

Melalui pendekatan yang komprehensif, perjanjian ini dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap pembentukan fondasi keharmonisan dan kesejahteraan dalam keluarga.

Prenuptial agreement memiliki potensi untuk berperan sebagai instrumen yang menciptakan suasana keluarga yang harmonis dan bahagia dalam menjalani kehidupan pernikahan tanpa adanya beban kekhawatiran mengenai kemungkinan potensi konflik yang dapat timbul jika suatu saat terjadi situasi yang tidak diinginkan (Febriansyah dkk, 2021).

Dengan memprioritaskan keharmonisan dan kebahagiaan, prenuptial agreement dapat menjadi alat yang mendukung pasangan untuk membangun fondasi keluarga yang kokoh. Hal tersebut memungkinkan setiap individu dalam anggota keluarga tersebut dapat merasa aman, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk tumbuh bersama dalam perjalanan kehidupan keluarganya.