Implementasi Kaidah Fiqhiyyah Al Muaawadhot dalam Kerangka Transaksi Keuangan

DEPOKPOS – Dalam ranah keuangan Islam,prinsip-prinsip hukum fiqh memiliki aplikasi yang luas, termasuk dalam bidang muamalah atau transaksi keuangansalah satu kaidah fiqh yang relevan dalam konteks transaksi keuangan adalah kaidah Al-Muawadhaat..

Kaidah ini, membahas prinsip-prinsip pertukaran atau tukar menukar yang adil dan saling menguntungkan dalam aktivitas ekonomi. Al-Muawadhaat menekankan pentingnya keadilan, keterbukaan, dan kesepakatan bersama dalam setiap transaksi keuangan, sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Kaidah Al-Muawadhaat adalah salah satu kaidah fiqh (hukum Islam) yang berkaitan dengan prinsip-prinsip transaksi tukar-menukar atau pertukaran. Kaidah ini secara umum menetapkan bahwa dalam transaksi pertukaran, keadilan dan kebersamaan harus dijaga, dan transaksi tersebut sebaiknya tidak merugikan salah satu pihak. Kejujuran dan transparansi adalah elemen kunci dalam penerapan kaidah Al-Muawadhaat..

Kaidah ini menekankan pentingnya menghindari unsur riba (bunga) dan segala bentuk ketidakpastian yang berlebihan dalam transaksi keuangan. Kaidah Muawadhaat menjadi panduan untuk mengevaluasi, mengarahkan, dan merancang transaksi keuangan yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam. Kaidah ini mencakup berbagai prinsip yang menyangkut transaksi dan hubungan keuangan, menciptakan landasan etika dan moral bagi praktik keuangan Islam.

BACA JUGA:  Mendag Percepat Penyaluran Beras SPHP ke Pasar

Penerapan Kaidah Al-Muawadhaat dalam Praktik Transaksi Keuangan

Kaidah Pertama : Prinsip dasar dalam negosiasi adalah diperbolehkan

Percabangan pada aturan tersebut merupakan salah satu cabang dari aturan ini:

Bolehnya penjualan secara angsuran, kecuali jika terjadi dalam bentuk yang menjadikannya akad riba, misalnya : penetapan bunga yang dipisahkan dari harga asal barang tersebut.
Contoh: Prinsip dasar dalam negosiasi kontrak pekerjaan konsultan yang diperbolehkan

Kaidah Kedua : Prinsip transaksi adalah validitas.

Kaidah ini berarti bahwa transaksi-transaksi seperti penjualan dan lain-lain, serta semua kontrak lainnya, dianggap sah kecuali terbukti tidak sah.

Contoh : Validitas transaksi dalam jual beli properti,seperti transaksi jual beli tanah dan bangunan.

Kaidah Ketiga : Apa yang dijamin sebagai imbalan dalam kontrak pertukaran tidak boleh dijual sebelum diterima

BACA JUGA:  Manajer Kebun Bangun Bantah Tanaman Kelapa Sawit Tak Penuhi Standar

Barang yang dijaminkan adalah ganti rugi (seperti : barang yang dijual, sewa, dan ganti rugi yang dibayarkan berupa uang).

Contoh : Imbalan dalam kontrak pertukaran barang elektronik tidak boleh dijual sebelum diterima.

Kaidah Keempat : Ketidaktahuan hanya berujung pada korupsi jika berujung pada perselisihan yang problematis.

Kaidah ini merupakan salah satu bentuk pengendalian yang menjadi acuan transaksi keuangan.

Contoh : Ketidaktahuan dan pencegahan perselisihan dalam penjualan barang elektronik online.

Kaidah Kelima : Jika terlihat sesuatu pada barang yang dijual yang menunjukkan apa yang tidak terlihat, maka penjualannya diperbolehkan.

Kaidah Al-Muawadhaat menyatakan bahwa jika terlihat sesuatu pada barang yang dijual yang menunjukkan apa yang tidak terlihat, maka penjualannya diperbolehkan.
Contoh :Barang yang terlihat dan tidak terlihat dalam penjualan mobil bekas.

Dari Kaidah-kaidah yang telah kita tinjau, seperti prinsip dasar dalam negosiasi yang diperbolehkan, validitas transaksi, larangan menjual imbalan sebelum diterima, penanganan ketidaktahuan yang berujung pada perselisihan, dan izin untuk menjual barang yang menunjukkan apa yang tidak terlihat, semuanya merupakan panduan berharga untuk menciptakan transaksi yang adil, jujur, dan berkeadilan.

BACA JUGA:  Mendag Percepat Penyaluran Beras SPHP ke Pasar

Dengan mengakar pada kaidah Al-Muawadhaat, transaksi keuangan diiringi oleh nilai-nilai Islam yang mulia, menjadikan setiap pertukaran sebagai langkah menuju keadilan, keseimbangan, dan keberkahan. Semoga pemahaman dan implementasi kaidah Al-Muawadhaat selain menjadi pijakan bagi transaksi keuangan, tetapi juga sumber berkah bagi seluruh umat dan masyarakat pada umumnya.

Nuraziz Ummu Hanifah
Mahasiswi STEI