Anak Muda Paling Terdampak
Ada dua keluhan yang sering terdengar di dunia kerja. Anak muda mengeluh sulit mendapatkan pekerjaan, sementara perusahaan mengeluh kesulitan menemukan karyawan yang siap menggantikan posisi karyawan senior. Sekilas, kedua masalah ini terlihat bertolak belakang. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, keduanya memiliki hubungan dengan perencanaan sumber daya manusia (SDM) yang belum optimal.
Data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa pada Februari 2026, tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 15–24 tahun mencapai 16,36 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran terbuka nasional yang sebesar 4,68 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa anak muda masih menghadapi tantangan besar untuk memasuki dunia kerja.
Permasalahan tidak berhenti pada mereka yang belum mendapatkan pekerjaan. Tingkat setengah pengangguran juga tercatat sebesar 7,27 persen. Setengah pengangguran merupakan kondisi ketika seseorang bekerja kurang dari 35 jam per minggu dan masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan lain. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian tenaga kerja belum memperoleh kesempatan kerja yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan mereka.
Sementara Itu, di Dalam Perusahaan
Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi tantangan dalam mempersiapkan generasi penerus. Karyawan senior yang menduduki posisi penting pada akhirnya dapat memasuki masa pensiun, pindah kerja, atau mendapatkan promosi ke jabatan lain.
Jika perusahaan tidak memiliki perencanaan yang matang, kekosongan posisi dapat mengganggu kegiatan operasional. Selain itu, pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki karyawan senior berisiko hilang apabila tidak diwariskan kepada karyawan lain.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, perusahaan perlu menerapkan perencanaan suksesi. Perencanaan suksesi merupakan proses mengenali posisi-posisi penting, menentukan kompetensi yang dibutuhkan, serta mempersiapkan calon pengganti sebelum posisi tersebut kosong. Calon penerus dapat berasal dari karyawan internal, termasuk karyawan muda yang memiliki potensi untuk berkembang.
Melalui perencanaan suksesi, perusahaan tidak perlu menunggu sampai posisi penting kosong untuk mencari pengganti. Sebaliknya, perusahaan dapat menyiapkan karyawan sejak dini melalui pelatihan, pengalaman kerja, dan pengembangan kemampuan kepemimpinan.
Mempertemukan Keduanya
Anak muda yang membutuhkan pengalaman kerja dan perusahaan yang membutuhkan calon penerus sebenarnya dapat saling melengkapi. Kuncinya adalah membangun sistem pengembangan SDM yang mampu menghubungkan kebutuhan tenaga kerja dengan kebutuhan perusahaan.
Pertama, perusahaan dapat menyediakan program magang dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Program tersebut sebaiknya tidak hanya menjadi formalitas, tetapi juga memberikan pengalaman nyata kepada peserta. Dengan demikian, anak muda dapat mengembangkan keterampilan teknis, komunikasi, kerja sama, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Kedua, perusahaan perlu melibatkan karyawan senior sebagai mentor bagi karyawan muda. Melalui pendampingan ini, pengalaman dan pengetahuan kerja dapat diwariskan secara bertahap. Karyawan muda juga memiliki kesempatan untuk memahami tanggung jawab pekerjaan dan mempersiapkan diri menghadapi posisi yang lebih tinggi.
Ketiga, perusahaan perlu membangun jalur karier yang jelas. Karyawan muda perlu mengetahui kemampuan yang harus dikembangkan, pengalaman yang perlu diperoleh, serta pencapaian yang menjadi syarat untuk mendapatkan promosi. Kesempatan berkembang dapat meningkatkan motivasi karyawan untuk bertahan dan membangun karier di perusahaan.
Keempat, perusahaan perlu mendokumentasikan prosedur kerja, pengalaman penting, dan pengetahuan yang selama ini dikuasai oleh karyawan senior. Dokumentasi tersebut membantu menjaga keberlangsungan pekerjaan meskipun terjadi pergantian karyawan atau perubahan jabatan.
Selain pengembangan karier, perusahaan juga perlu memperhatikan upah dan kesejahteraan karyawan. Data ketenagakerjaan Februari 2026 mencatat rata-rata upah buruh sebesar Rp3,29 juta per bulan. Dalam kondisi tersebut, perusahaan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kompensasi, beban kerja, dan kesempatan pengembangan diri. Karyawan tidak hanya membutuhkan penghasilan, tetapi juga peluang untuk meningkatkan kemampuan dan membangun masa depan kariernya.
Pengangguran anak muda dan kesulitan perusahaan mencari penerus merupakan dua persoalan yang dapat saling berkaitan. Anak muda membutuhkan kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan mengembangkan kompetensi, sedangkan perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang mampu menjaga keberlangsungan operasional dan melanjutkan kepemimpinan.
Perencanaan SDM, khususnya perencanaan suksesi, dapat menjadi salah satu cara untuk mempertemukan kedua kebutuhan tersebut. Melalui pelatihan, pendampingan, jalur karier yang jelas, dan transfer pengetahuan, perusahaan dapat membuka peluang bagi anak muda sekaligus mempersiapkan calon penerus yang kompeten.
Pada akhirnya, perusahaan tidak seharusnya hanya berfokus mencari karyawan yang sudah siap bekerja. Perusahaan juga perlu berinvestasi dalam membentuk tenaga kerja yang siap berkembang. Dengan mempersiapkan generasi penerus sejak dini, perusahaan dapat menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak muda untuk memasuki dan berkembang di dunia kerja.
Yugi Erisa,
Mahasiswa S1 Manajemen Universitas Pamulang

