Penerapan Akuntansi Wakaf Uang Berdasaraan PSAK 112

DEPOKPOS – Negara Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar pada pengelolaan serta pengembangan wakaf sehingga diperlukan laporan keuangan wakaf yang sesuai standar akuntansinya, sampai akhirnya mampu meningkatkan akuntanbilitas pada lembaga wakaf dan memberikan transparansi untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dan terhindar dari suatu penyimpangan dan perputaran harta wakaf yang disalahgunakan dengan pihak tertentu.

Potensi wakaf uang di Indonesia sangat besar yaitu bisa mencapai Rp 180 Triliun , akan tetapi berdasarkan data yang di peroleh dari Badan Wakaf Indonesia per 20 Januari 2021, wakaf uang mencapai Rp 819,36 milyar dimana wakaf melalui uang sebesar Rp 580,53 milyar dan wakaf uang Rp 238,83. Hal tersebut dikarenakan tingkat literasi wakaf yang masih rendah yaitu sebesar 50,4. Sedangkan jumlah nazir wakaf uang di Indonesia sebanyak 246 lembaga dan LKS-PWU 23 Bank Syariah.

Pengertian Wakaf Uang

Wakaf uang adalah uang yang dikumpulkan pada satu lembaga pengelola wakaf (nazhir) melalui penerbitan sertifikat wakaf uang yang dibeli pada masyarakat dan pengertian lainnya yaitu mewakafkan harta yang berbentuk uang atau surat berharga yang dikelola oleh institusi perbankan atau lembaga keuangan syariah yang jika ada keuntungannya aakn disedekahkan.

BACA JUGA:  Sinergi Ekonomi Syariah dan Ekonomi Hijau

Pengertian Akuntansi Wakaf

Akuntansi adalah seni mencatat, meringkas, mengklasifikasikan, mengelola serta menyajikan bukti transaksi dan bermacam-macam aktivitas yang berkaitan dengan keuangan. Secara umum PSAK 112 mengatur tentang perlakuan akuntansi atas transaksi wakaf yang dilaksanakan pada nazhir atau wakif dalam bentuk organisasi dan badan hukum (DSAS, 2018). PSAK 112 terdapat 5 laporan keuangan yang harus dibuat pada nazhir yaitu laporan posisi keuangan, laporan rincian aset, laporan aktivitas wakaf, laporan arus kas dan CALK.

Pelaporan Harta Wakaf

Pada pelaporan lembaga pengelola wakaf, nazhir wajib untuk menyampaikan laporan pengelolaan wakaf setiap 6 bulan ke Badan Wakaf Indonesia dengan tembusan kepada Direktur Jendral Bimas Islam Kementrian Agama. Laporannya meliputi pelaksanaan pengelolaan, pengembangan, penggunaan hasil pengelolaan serta rencana pengembangan pada tahun berikutnya, lalu disampaikan paling lambat yaitu 3 bulan sejak akhir tahun buku.

Akuntansi Berdasarkan PSAK 112

Pengakuan

Berdasarkan PSAK 112 pengauan diatur dalam paragraph 20 sampai dengan paragraph 40 nazhir memiliki ketentuan sebagai berikut:

BACA JUGA:  Bank Muamalat Bersama BMM Resmikan Program Beasiswa Sarjana Muamalat

Nazhir mengakui aset wakaf dalam laporan keuangan ketika mempunyai kendali secara hukum dan fisik atas aset wakaf, pada umumnya terpenuhi pada saat sudah ada ikrar wakaf atau ketika wakif mentransfer dana langsung ke rekening entitas wakaf melalui lembaga keuangan.
Nazhir mengakui aset wakaf dalam laporan keuangan ketika memiliki kendali atas manfaat ekonomi dari aset wakaf. Apabila nazhir telah menerima aset dan memperleh manfaat ekonominya tetapi aset tersebut belum dipindahkan secara hukum yaitu sudah ada akta ikrar wakaf sebagai aset wakaf awal. Maka aset tersebut dicatat pada catatan atas laporan keuangan serta diakui sebagai aset wakaf ketika melakukan akta ikrar wakaf.
Ketika nazhir menerima janji berwakaf maka nazhir tidak mengakui aset yang akan diwakafkan dimasa mendatang dalam laporan keuangan periode berjalan,walaupun berbentuk janji tertulis.
Nazhir mengakui aset wakaf dalam jangka waktu tertentu atau dapat disebut dengan aset wakaf temporer kemudian diakui sebagai liabilitas bukan penghasilan, karena nazhir wajib mengembalikan aset tersebut dimasa mendatang.
Nazhir mengakui hasil pengelolaan serta pengembangan aset wakaf sebagai tambahan aset wakaf yang bersumber dari aset wakaf yang ada, dalam bentuk berbagai macam penghasilan, seperti imbal hasil, dividen, dan bentuk penghasilan lainnya.
Ketentuan imbalan untu nazhir merupakan hasil neto pengelolaan dan pengembangan aset wakaf yang telah direalisasikan pada bentuk kas dan setara kas pada periode berjalan, meski penyesuaian kas dan setara kasnya belum diterima pada periode berjalan atau pengelolaan dan pengembangan aset wakaf periode, akan tetapi kas dan setara kas diiterima di periode berjalan.
Nazhir mengakui penyaluran manfaat wakaf ketika manfaat wakaf diterima secara langsung dengan mauquf alaih sesuai dengan tertuang pada akta ikrar wakaf yang berkaitan. Manfaat dari wakaf yang disalurkan ke mauquf alaih berupa kas dan setara kas, aset lainnya, serta manfaat ekonomis lain yang terdapat pada aset wakaf, seperti penyusutan dan amortisasi dari aset wakaf tersebut.