Peran Audit Terhadap Kualitas Laporan Keuangan UKM

Oleh : Siti Aisyah (Mahasiswa STEI SEBI)

Usaha kecil dan menengah merupakan tulang punggung bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Ukm ini memiliki keunikan tersendiri dilihat dari jenis usaha,omzet,pasar hingga pemanfaatan teknologi informasinya. Usaha kecil dan menengah (UKM) mempunyai peran yang sangat signifikan dalam mendukung perkembangan perekonomian sebuah negara. Sebagai contoh, di negara-negara Uni Eropa, UKM berjumlah sekitar 23 juta unit dan berkontribusi dalam menyumbangkan 75 juta lapangan kerja yang mencerminkan 99% lapangan kerja dari sektor industri di negara-negara tersebut.

Demikian juga UKM di Indonesia, Padahal fakta yang ada menunjukkan bahwa secara umum UKM mempunyai permasalahan berupa keterbatasan sumberdaya baik secara financial maupun non financial. Permasalahan financial berupa keterbatasan modal dan kesulitan dalam akses terhadap sumber-sumber modal sedangkan permasalahan nonfinancial seperti rendahnya skill dan tingkat pendidikan manajer/pemilik, lemahnya jaringan usaha, dan sebagainya yang menyebabkan rendahnya daya saing UKM dibandingkan bisnis modern.

Deakins (2001) menjelaskan bahwa secara umum UKM mempunyai kelemahan seperti rendahnya kualifikasi pendidikan manager atau pemiliknya yang menyebabkan kurangnya kemampuan dalam pengelolaan keuangan secara professional dan pemahaman sistem pengendalian intern perusahaan. Beberapa kelemahan UKM tersebut seringkali menyebabkan jenis usaha ini mengalami kesulitan pendanaan ketika berusaha mengajukan pinjaman ke bank. Dengan kata lain, kebanyakan UKM tidak bankable.

Hal ini karena pada umumnya bank akan memberikan pinjaman pada usaha yang mampu menyajikan posisi keuangan usahanya secara kredibel, sehingga bank akan meminta laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor independen sebelum memutuskan memberikan kredit kepada sebuah jenis usaha. Hal ini karena bank meyakini bahwa credit rating akan menjadi tidak pasti jika laporan keuangan yang disajikan oleh usaha tersebut tidak diaudit oleh auditor independent.

Tabone dan Baldacchino (2003) menyatakan bahwa di dalam UKM, audit ekternal diperlukan manakala terdapat perbedaan informasi antara manajer yang biasanya adalah pemilik usaha dengan para karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut.

Akan tetapi, berbagai literatur menyebutkan bahwa banyak UKM di negara negara Uni Eropa yang meniadakan adanya audit eksternal karena tingginya biaya audit tersebut. Namun demikian, beberapa penelitian juga menemukan bahwa di beberapa negara Uni Eropa seperti Denmark ditemukan bukti empiris bahwa permintaan audit yang dilakukan secara sukarela oleh UKM cenderung meningkat dimana 78% UKM melakukan audit eksternal secara sukarela (Franzen, 2010).

Selanjutnya Sheresta dan Wai (2011) yang melakukan penelitian di Swedia berargumen bahwa UKM yang secara sukarela melakukan audit eksternal akan mendapatkan beberapa keuntungan, yaitu: menjamin akurasi data pelaporan keuangan, bisa membayarkan pajaknya secara benar, lebih mudah mendapatkan pinjaman bank, dan akan mempunyai relasi yang lebih baik dengan kreditur, investor, dan pemasok.

Hal ini sejalan dengan Suyono (2017) yang menyatakan bahwa manfaat lain yang bisa diperoleh UKM ketika usaha ini bersedia secara sukarela melakukan audit laporan keuangan adalah dari sisi pemerintah, konsumen, dan karyawan. Dari sisi pemerintah, UKM akan mampu menyajikan informasi yang akurat terkait dengan penghitungan pajak sebagai sumber pemasukan pemerintah sekaligus kontribusi UKM terhadap pemerintah daerah.

Dari perspektif kosumen, mereka akan mempercayai UKM sebagai organisasi bisnis yang transparan. Sedangkan dari perspektif karyawan, maka ketika karyawan mendapatkan gaji, bonus, dan kompensasi lainnya dengan dasar yang transparan akan mendorong mereka berkinerja lebih baik. Kinerja karyawan yang baik pada akhirnya akan berkontribusi pada peningkatan profitabilitas UKM. []

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.