oleh

Fenomena Hustle Culture

Pernah dengar istilah kerja-kerja-tipes? Atau slogan sleep is for losers? Atau mungkin slogan sejenis yang mengusung glorifikasi terhadap perilaku gila kerja atau workaholism? Kalau pernah, tahukah kamu bahwa meski slogan-slogan tersebut terdengar memotivasi, nyatanya slogan itu mengarahkan kita pada sebuah fenomena yang berdampak buruk bagi diri kita sendiri.

Fenomena ini dikenal dengan sebutan hustle culture yang menggambarkan budaya dimana seseorang dipaksa untuk selalu produktif dengan bekerja secara terus menerus. Hustle culture sendiri merupakan gaya hidup yang menjadikan seseorang merasa harus selalu bekerja dimanapun kapanpun.

Pengertian Hustle Culture

Fenomena hustle culture ini tentunya tidak lepas dari workaholism atau kecanduan bekerja. Menurut McShane dan Von Glinow (2010), seorang workaholic merupakan pribadi yang sangat terlibat dalam pekerjaannya sehingga selalu merasa terdorong untuk terus bekerja sampai-sampai mengesampingkan masalah lain selain pekerjaannya. Maraknya hustle culture juga didukung oleh beberapa entrepreneur sukses yang menganut budaya ini sehingga tak heran jika banyak anak muda yang berlomba-lomba untuk mengikuti gaya hidup hustle culture demi bisa sukses di usia muda. Adanya hustle culture sebagai salah satu dampak dari perkembangan teknologi dan industri tentu menjadi fenomena yang tidak sehat karena meninggalkan keseimbangan antara hidup dan kerja.

Yang menjadi bahaya adalah hustle culture menjadikan lembur sebagai prestasi, kerja 24/7 sebagai suatu pencapaian serta menjadikan istirahat sebagai sesuatu yang pantang dilakukan. Kata produktif kemudian bergeser arti karena selalu diasosiasikan dengan kesibukan seolah jika tidak sibuk maka tidak produktif dan menjadikan kesuksesan finansial sebagai tolak ukur nilai manusia.

Dampak pada Kesehatan Mental dan Fisik

BACA JUGA:  Peran TIK dalam Pembangunan Sebuah Negara

Tak hanya itu, hustle culture juga membawa dampak negatif terhadap kesehatan mental seperti meningkatnya tingkat stress, munculnya gangguan kecemasan, depresi, bahkan kematian karena kelelahan akibat bekerja. Jam kerja yang panjang, beban kerja yang terlalu berat, serta lingkungan kerja yang tidak sehat menjadi sebab utama munculnya masalah kesehatan mental di lingkungan kerja. Berdasarkan Kemenkes (2017) sebesar 60,6% pekerja industri kecil menengah mengalami depresi serta 57,6% mengalami insomnia.

Selain berdampak buruk pada kesehatan mental, hustle culture juga dapat mempengaruhi pada kesehatan fisik. Dengan kesibukan bekerja yang lebih, seseorang cenderung melupakan waktu untuk kegiatan diluar pekerjaan, seperti waktu beristirahat, makan dan berolahraga. Seseorang tersebut akan lebih sering terlambat makan, tidak mementingkan kebersihan makanan, terlambat tidur, kurang beraktivitas fisik dan lain-lain. Hal itu tentu merupakan awal dari pola hidup tidak sehat yang dapat berdampak buruk untuk masa depan seperti gangguan tidur, obesitas, dan penyakit tidak menular lainnya.

Data Kesehatan di Indonesia

Berdasarkan Indikator Strategis yang dicantumkan oleh BPS, angka harapan hidup laki-laki pada tahun 2019 sudah mencapai 69.44 tahun dan untuk perempuan mencapai 73.33 tahun. Angka tersebut meskipun sudah mendekati angka harapan hidup rata-rata global yaitu 72.6 tahun, tetapi belum merepresentasikan hidup masyarakat Indonesia berumur panjang tanpa mengalami kesakitan atau mengidap penyakit. Menurut Kementerian Kesehatan, Indonesia akan mengalami keadaan double burden, dimana Indonesia masih memerangi penyakit menular yang semakin meningkat namun juga terdapat peningkatan penyakit tidak menular disertai perubahan pola penyakit tersebut yang mulai diderita oleh kelompok produktif.

Salah satu penyakit yang paling sering diderita oleh seseorang yang memiliki hustle culture adalah penyakit tipes atau thypus. Penyakit tipes diperkirakan memiliki angka prevalensi 358-810 kasus per 100.000 penduduk di Indonesia. Artinya, di Jakarta sendiri dengan jumlah penduduk sekitar 12,7 juta jiwa terdapat 45.466-108.870 kasus Demam Tifoid dalam setahun, yang berarti ada sekitar 182,5 kasus setiap harinya. Dari kasus tersebut, 36% infeksi demam tifoid terjadi pada orang dewasa diatas 19 tahun dengan pengobatan rawat inap lebih sering terjadi pada orang dewasa dan biasanya memiliki keparahan yang lebih tinggi dari anak-anak. Kematian akibat infeksi Demam Tifoid pada pasien rawat inap bervariasi antara 3,1 – 10,4% yaitu sekitar 5 – 19 kematian sehari (Vaxcorp Indonesia, 2016). Selain penyakit menular, terdapat juga peningkatan angka prevalensi penderita penyakit tidak menular yang diidap oleh kelompok usia produktif (15-64 tahun). Seperti angka prevalensi dari kanker sebesar 0.47-4.62 persen, penyakit stroke sebesar 0.6-32.4 persen, penyakit diabetes mellitus 0.06-6.3 persen, dan penyakit jantung sebesar 0.7-3.9 persen (Riskesdas, 2018).

BACA JUGA:  Peran TIK dalam Pembangunan Sebuah Negara

Kesimpulan

Meski sering menggunakan slogan-slogan penuh motivasi yang mendukung kita untuk selalu bekerja, hustle culture sebagai gaya hidup nyatanya membawa dampak negatif untuk kesehatan kita. Slogan kerja-kerja-tipes menjadi manifestasi nyata sebagai dampak dari hustle culture secara umum meski sebetulnya tidak hanya tipes, budaya kerja secara terus menerus ini bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental hingga fisik seperti depresi maupun gangguan tidur.

Hustle culture membuat hal-hal tidak sehat seperti bekerja lembur dan multitasking sebagai suatu pencapaian. Tidak cuma berfokus pada pencapaian pribadi saja, tetapi hustle culture juga dapat mempengaruhi cara pandang kita seperti membuat kita mudah menilai seseorang hanya dari kesuksesan finansialnya saja atau seberapa banyak kegiatan yang ia lakukan per harinya. Pemaknaan produktif menjadi berubah karena sering dikaitkan dengan banyaknya durasi kerja per hari atau seberapa banyaknya kegiatan yang dilakukan seolah jika tidak demikian maka tidak akan sukses. Padahal, kesuksesan dan pencapaian punya definisi tersendiri bagi setiap orang dan tidak seharusnya kita memaksakan diri untuk memenuhi definisi sukses milik orang lain. Kala dirasa kita kehilangan keseimbangan antara hidup dan bekerja, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apa tujuan kita sebetulnya dan akankah hustle culture ini membawa kita kepada bahagia dan sukses yang sebetulnya?

BACA JUGA:  Peran TIK dalam Pembangunan Sebuah Negara

Disusun oleh Triska Alya Muthi’ah & Yasmin Hanani Reza
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

 

REFERENSI:
⦁ Kementerian Kesehatan RI. 2020. Penyakit Tidak Menular Kini Ancam Usia Muda. [online]. Available at: https://www.kemkes.go.id/article/print/20070400003/penyakit-tidak-menular-kini-ancam-usia-muda.html
⦁ Kementerian Kesehatan RI. 2018. Revisi Rencana Aksi Kegiatan (RAK) 2018. [online]. Available at: https://e-renggar.kemkes.go.id/file2018/e-performance/1-613111-4tahunan-993.pdf
⦁ Kementerian Kesehatan RI. 2017. Tempat Kerja Rawan Bikin Stres. [online]. Available at: https://www.kemkes.go.id/pdf.php?id=17100900008
⦁ Max Roser, Esteban Ortiz-Ospina and Hannah Ritchie. 2013. “Life Expectancy”. Published online at OurWorldInData.org. Retrieved from: ‘https://ourworldindata.org/life-expectancy’ [Online Resource]
⦁ McShane, S.L. & Glinow, M.A.V. 2010. Organizational Behavior (5th edition). New York: McGraw-Hill.
⦁ Vaxcorp Indonesia. 2016. Typhoid Fever: Indonesia’s Favorite Disease. [online]. Available at: ⦁ https://www.vaxcorpindo.com/typhoid-fever-indonesia-favorite-disease/#:~:text=Typhoid%⦁ 20Fever%20remains%20one%20of,Fever%20cases%20almost%20every%20day.
⦁ World Health Organization. 2008. Bulletin of the World Health Organization. 86 (5):321–46.

 

Komentar