oleh

Resiko yang Dialami Guru dan Siswa saat Sistem PJJ Diterapkan

Di tiap negara pasti memiliki sistem pendidikan. Sistem pendidikan merupakan salah satu sistem terpenting dalam suatu negara. Salah satu program kerja pemerintah saat ini di masa kepemimpinan Bapak Joko Widodo sebagai Presiden RI dan KH. Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden yaitu Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk menunjang pendidikan masyarakat kurang mampu di Indonesia, sehingga minimal masa pendidikan anak bangsa selama 12 tahun. Ini menunjukkan bahwasannya pentingnya pendidikan bagi warga negara Indonesia.

Setelah terungkapnya keberadaan covid-19 di Indonesia sejak maret 2020, segala aktivitas menjadi serba terbatas termasuk Kegiatan Belajar Mengajar yang dipindahkan ke rumah masing-masing untuk mencegah penyebaran covid-19. Situasi berubah menjadi serba online, siap atau tidak, baik siswa ataupun guru, di perkotaan maupun daerah terpencil merubah sistem Kegiatan Belajar Mengajar.

Pendidikan bukanlah hal yang dapat ditunda terlalu lama, mengharuskan kementrian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia bergerak cepat dan cekatan dalam menangani masalah yang tengah terjadi saat ini. Inilah yang disebut perlunya manajemen resiko dalam suatu organisasi termasuk dalam organisasi pemerintahan dengan harapan dapat memperkecil resiko yang terjadi. Karena diketahui bahwasannya manajemen resiko digunakan bukan untuk menghilangkan resiko yang akan atau sedang terjadi melainkan untuk memperkecil resiko yang terjadi baik saat ini maupun untuk kegiatan yang akan datang (jangka panjang).

BACA JUGA:  Haruskah Perempuan Berperan?

Dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang mengikuti zaman. Belajar online bukan menjadi hal baru ditengah masyarakat Indonesia. Karena sebelum pandemi covid-19 di Indonesia sudah menerapkan hal tersebut yang dilakukan oleh beberapa tempat belajar diluar sekolah (tempat les). KemendikBud memanfaatkan peluang ini untuk diterapkan pada seluruh Kegiatan Belajar Mengajar dirumah atau biasa dikenal dengan sebutan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Pastilah sistem pendidikan baru yang diterapkan serentak ke seluruh wilayah di Indonesia bukanlah yang mudah untuk diterapkan, banyak hambatan yang dialami guru di sekolah seperti anak yang tidak mengerjakan tugas dan kerjasama orangtua atau ketidakpekaan orangtua dalam membantu pihak sekolah selama anak melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) saat ini. Memiliki keterbatasan yang menjadi hambatan berlangsungnya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), keterbatasan ekonomi misalnya. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah online mengharuskan seluruh siswa memiliki hp, kuota dan jaringan yang kuat. Belum lagi keterbatasan guru yang kurang mumpuni dalam hal menggunakan internet untuk Pembelajaran Jarak Jauh.

BACA JUGA:  Kapan Kita Harus Bersabar?

Demi kelancaran Pembelajaran Jarak Jauh butuh kerjasama antara pihak sekolah dan orangtua sebagai wali siswa dirumah, agar terciptanya pembelajaran siswa yang sesuai dengan harapan. Dilansir dari suaramerdeka.com Iwan Syahril sebagai Direktur Jendral (Dirjen) Kemendikbud bahwasannya terungkap sebanyak 53,5 persen guru kesulitan dalam mengelola kelas selama Pembelajaran Jarak Jauh, hambatan bagi para guru melakukan assesmen atau penilaian kelas selama Pembelajaran Jarak Jauh sebanyak 49,24 persen dengan 48,45 persen guru mengalami kesulitan menggunakan teknologi selama Pembelajaran Jarak Jauh. Terhitung bahwa 96,6 persen siswa di Indonesia menjalani Pembelajaran Jarak Jauh. Sedangkan dari data Kementerian pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengungkapkan 86,6 persen mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru di sekolah. Namun nyata nya yang berhasil hanya 38,8 persen dari jumlah keseluruhan.

Penyelesaian atau solusi yang diberikan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) untuk meningkatkan kopetensi guru dimasa pandemi saat Pembelajaran Jarak Jauh bertujuan untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar tidak lain dengan mengadakan pelatihan belajar seri masa pandemi covid-19 bagi para guru, mulai dari guru sekolah tingat dasar hingga tingkat menengah atas dengan waktu pembelajaran yang fleksibel sehingga dapat diatur kapan atau pukul berapa dapat meluangkan waktu.

BACA JUGA:  Agar Anak Terhindar Pergaulan Bebas

Selain itu, diperlukan pengecekan rutin terhadap peralatan dan software agar selalu update, kinerja para guru dan bimbingan rutin yang dilakukan demi menjaga kualitas pada setiap guru yang merasa kesulitan dalam mengikuti perkembangan zaman yang serba teknologi. Juga terpolanya prosedur standar pembelajaran Jarak Jauh dan lakukan pemeliharaan sistem dengan mengikuti perkembangan pada saatnya (upgrading).

Resiko yang terjadi pada aktivitas rutin seperti Kegiatan Belajar Mengajar karena ada suatu kendala atau hambatan yang tidak dapat diprediksi sebenarnya adalah hal yang mudah ditangani dibandingkan dengan resiko lainnya, tapi lain hal dengan kehadiran pandemi covid-19 saat ini yang jauh dari resiko rutin yang terjadi. Semua hanya butuh pembiasaan dari yang biasa dilakukan dengan sedikit demi sedikit memperbaiki lagi sistem Pembelajaran Jarak Jauh agar pengajar maupun yang diajar terbiasa dengan sistem baru yang diterapkan di Indonesia.

Oleh : Sayyidah Zahrotul Fitriyah, STEI SEBI

Komentar

Berita lainnya