oleh

Persentase Pengobatan ARV Kian Menurun, Pandemi Menjadi Sebab?

Oleh Hasna Irbah Ramadhani, Mahasiswa Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Peringatan Hari HIV/AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember kemarin menjadi pengingat bagi masyarakat dan negara-negara di dunia akan keberadaan penyakit HIV/AIDS, yang hingga saat ini, masih menjadi permasalahan kesehatan global. Indonesia menjadi salah satu negara dengan kasus HIV/AIDS yang cukup tinggi. Pada tahun 2013, UNAIDS menyatakan bahwa Indonesia berada di posisi ke-3 sebagai negara dengan kasus HIV tertinggi di Asia Pasifik setelah India dan Tiongkok.1 Menurut data Kementerian Kesehatan RI, terhitung sejak tahun 2005-September 2020, jumlah penderita HIV di Indonesia mencapai 409.857 jiwa dengan 57.187 kematian. Tiga provinsi dengan jumlah kasus HIV tertinggi diantaranya adalah DKI Jakarta (69.353 kasus), Jawa Timur (62.392 kasus), dan Jawa Barat (44.739 kasus).2

Tahun 2020 mungkin menjadi tahun yang berat bagi sebagian besar orang, tak terkecuali ODHA (orang Dengan HIV/AIDS). Perjuangan ODHA di tengah pandemi COVID-19 tidaklah mudah. Penyakit HIV/AIDS yang menyerang sistem kekebalan tubuh menjadi tantangan tersendiri di masa pandemi COVID-19. Salah satu cara yang dapat dilakukan ODHA untuk tetap menjaga kekebalan tubuh adalah dengan rutin mengonsumsi obat ARV (Antiretroviral), yaitu terapi pengobatan yang dianggap paling efektif dalam memperlambat perkembangan virus HIV pada tubuh.

BACA JUGA:  Waspadai Dampak Alergi Susu Sapi pada Tumbuh Kembang Aanak

Namun kenyataannya, hanya sebagian dari ODHA yang tahu dan mau untuk rutin menkonsumsi ARV, sedangkan sebagian yang lainnya belum mengenal pengobatan ARV untuk mengendalikan virus HIV pada tubuh. Terlebih saat ini, akses ODHA terhadap obat ARV semakin sulit yang berdampak pada penurunan angka persentase pengguna ARV di masa pandemi jika dibandingkan dengan keadaan sebelum pandemi. Pada tahun 2019, persentase pengguna ARV mencapai 47% atau setara dengan 127.613 orang dari total 377.654 kasus HIV di tahun 2019.3 Sedangkan di tahun 2020 persentase pengguna ARV justru semakin menurun, yaitu hanya sebesar 26% atau setara dengan 139.585 orang dari total 409.857 kasus HIV di tahun 2020.2 Memang, jumlah penderita HIV yang memulai pengobatan ARV meningkat di tahun 2020, namun jika dihitung menurut persentase dari total kasus HIV, tahun 2020 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Angka tersebut juga masih jauh dari target persentase pengobatan ARV di tahun 2020 yang seharunya mencapai 81% dari total kasus tahunan, atau setara dengan 331.985 orang.2

Banyak hal yang menyebabkan penurunan persentase pengobatan ARV di masa pandemi COVID-19, seperti adanya stigma bahwa ODHA mudah tertular oleh COVID-19. Akibatnya, banyak ODHA yang memilih untuk tidak memulai pengobatan ARV atau bahkan menghentikan pengobatan ARV yang telah dijalankan sebelumnya karena enggan mengunjungi pelayanan kesehatan akibat takut tertular COVID-19. Padahal, salah satu cara untuk mendapatkan obat ARV adalah dengan rutin mengambil obat melalui pelayanan kesehatan. Lalu, kurangnya informasi dan pengetahuan ODHA terkait fungsi obat ARV juga menjadi sebab munculnya stigma tersebut. Tidak semua ODHA tahu bahwa penggunaan obat ARV yang rutin dapat mengontrol perkembangan virus sekaligus menjaga kekebalan tubuh, sehingga ODHA dapat beraktivitas seperti biasanya tanpa rasa takut berlebih untuk tertular COVID-19.

BACA JUGA:  Waspadai Dampak Alergi Susu Sapi pada Tumbuh Kembang Aanak

Faktor kedua adalah terhambatnya akses ke pelayanan kesehatan. Selama masa pandemi, hampir sebagian besar fokus pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit dialih fungsikan untuk menangani pasien COVID-19 yang berimbas pada pembatasan kunjungan pasien umum ke pelayanan kesehatan. Selain itu, kesulitan ekonomi akibat pandemi juga menjadi penghambat akses ODHA ke pelayanan kesehatan, terlebih bagi ODHA yang tinggal di daerah terpencil dan harus menggunakan transportasi umum untuk ke tempat pelayanan kesehatan.

Ketiga, jumlah stok obat ARV yang terbatas. Keterbatasan stok ARV ini diakibatkan oleh sulitnya distribusi ARV selama pandemi. Bahkan, diawal pandemi Indonesia sempat mengalami kekosongan stok ARV akibat adanya lockdown di negara yang mendistribusi obat ARV ke Indonesia. Saat ini stok ARV sudah kembali normal di Jakarta, namun di beberapa daerah lainnya masih mengalami keterbatasan stok ARV. Akibatnya, dalam satu kali kunjungan stok obat yang diterima oleh ODHA hanya untuk jangka waktu 2 minggu, sedangkan di Jakarta dalam satu kali kunjungan obat ARV dapat dikonsumsi untuk jangka waktu 2 bulan.

BACA JUGA:  Waspadai Dampak Alergi Susu Sapi pada Tumbuh Kembang Aanak

Adanya pandemi seharusnya tidak menjadi penghalang bagi ODHA untuk melakukan pengobatan ARV ke pelayanan kesehatan. ODHA bisa tetap rutin mengambil obat ARV melalui pelayanan kesehatan dengan memperhatikan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan membiasakan mencuci tangan. ODHA yang tidak rutin mengkonsumsi obat ARV justru dapat dengan mudah terkena COVID-19 akibat menurunnya kekebalan tubuh oleh penyebaran virus HIV yang tidak terkontrol. Selain itu, untuk menghindari ODHA kontak dengan pasien COVID-19, pelayanan pengobatan ARV dapat dipindahkan ke puskesmas daerah setempat sehingga rumah sakit dapat lebih fokus untuk menangani pasien COVID-19.

 

Referensi
1. United Nations Programme in HIV/AIDS. 2013. HIV In Asia And The Pacific. UNAIDS.
2. Siha.kemkes.go.id. 2020. Laporan Perkembangan HIV/AIDS Dan PIMS Triwulan III Tahun 2020. [online] Available at: <https://siha.kemkes.go.id/portal/files_upload/Laporan_Perkembangan_HIV_AIDS_dan_PIMS_Triwulan_III_Tahun_2020.pdf> [Accessed 1 December 2020].
3. Siha.kemkes.go.id. 2020. Laporan Perkembangan HIV/AIDS Dan PIMS Triwulan IV Tahun 2019. [online] Available at: < https://siha.kemkes.go.id/portal/files_upload/Laporan_Perkembangan_HIV_AIDS___PIMS_TRIWULAN_IV_TAHUN_2019.pdf> [Accessed 1 December 2020].

Komentar

Berita lainnya