oleh

Mengenal Prematuritas dan Pencegahannya

Oleh: Viola Karenina Handayani – Rizky Amalia, Mahasiswa Universitas Indonesia

Pada tahun 1938, Kongres Perempuan Indonesia III menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari ibu. Penetapan ini tidak hanya untuk menghargai jasa-jasa perempuan sebagai seorang ibu, tetapi juga jasa perempuan secara menyeluruh. [1] Salah satu jasa seorang perempuan yang sangat berharga adalah mengandung (hamil) dan melahirkan seorang anak, dimana pada proses tersebutlah yang merubah status perempuan menjadi seorang ibu. Selama proses kehamilan sangat mungkin terjadi hal-hal yang diluar perkiraaan kita, salah satunya prematuritas atau bayi lahir terlalu dini.

Menurut data dari World Health Organization (WHO) tahun 2018, setiap tahun sekitar 15 juta bayi lahir terlalu dini dan sekitar 1 juta anak meninggal akibat komplikasi kelahiran prematur. Secara global, komplikasi kelahiran prematur menjadi penyebab utama kematian pada anak berusia dibawah 5 tahun. Indonesia menjadi negara terbanyak ke 5 dengan jumlah 675.700 kelahiran prematur. Selain itu, Indonesia menduduki peringkat ke 9 angka prevalensi kelahiran prematur tertinggi di dunia yaitu 15,5 % per 100.000 kelahiran hidup. [2]

Kelahiran prematur didefinisikan sebagai kelahiran sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu atau kurang dari 259 hari sejak hari pertama periode menstruasi terakhir seorang perempuan. Berdasarkan usia kehamilannya, tingkatan prematur dibedakan menjadi 3, yaitu prematur sedang (32 sampai 37 minggu), prematur berat (28 hingga 32 minggu), dan prematur ekstrim (kurang dari 28 minggu). Sedangkan yang dimaksud kelahiran normal atau kelahiran yang cukup yaitu kelahiran pada usia kehamilan antara 37 sampai 42 minggu. [2]

Penyebab kelahiran prematur sangat kompleks dan patofisiologi yang memicu kelahiran prematur sebagian besar tidak diketahui. Akan tetapi, studi epidemiologi telah mengidentifikasi faktor risiko yang berpengaruh terhadap kelahiran prematur, yaitu usia ibu, komplikasi kehamilan, dan riwayat kelahiran prematur. [3]

Usia ibu yang berisiko mengalami kelahiran prematur yaitu usia yang terlalu muda (<20 tahun) atau terlalu tua (>35 tahun). Idealnya, usia yang aman untuk kehamilan dan melahirkan yaitu usia 20-35 tahun. Ibu dengan usia kehamilan kurang dari 20 tahun pada organ reproduksinya belum cukup matang untuk dibuahi. Selain itu, pola pemikiran yang belum cukup mengerti mengenai gejala-gejala bahaya dalam kehamilan juga menjadi faktor yang berisiko hamil di usia kurang dari 20 tahun. Sedangkan ibu dengan usia kehamilan lebih dari 35 tahun pada organ reproduksinya sudah mengalami penurunan fungsi dan biasanya sudah menderita penyakit tertentu. Hal tersebut dapat menyebabkan kesulitan saat persalinan nanti dan membahayakan nyawa ibu serta bayinya. [4]

Ibu hamil dengan komplikasi kehamilan berisiko tinggi mengalami kelahiran prematur. Komplikasi kehamilan bisa berupa adanya pre-eklampsia, diabetes atau asma.[5] Ibu dengan pre-eklamsia mempunyai aliran darah lebih sedikit ke uroplasenta janin sehingga menstimulasi terjadinya kelahiran prematur. Lain halnya ibu dengan penyakit diabetes yang rentan kekurangan asupan nutrisi karena dibatasi oleh diabetesnya. Restriksi asupan nutrisi ini dapat menyebabkan pertumbuhan janin yang tidak optimal sehingga memicu kelahiran prematur. Sedangkan ibu dengan asma secara patofisiologi meningkatkan sekresi prostaglandin yang dapat mengakibatkan terjadinya serangan asma saat hamil. [6]

Riwayat kelahiran prematur merupakan salah satu faktor risiko terbesar pada kelahiran prematur. Perempuan dengan riwayat kehamilan prematur cenderung lebih berisiko dan berpotensi untuk mengalami kembali kelahiran prematur pada kehamilan berikutnya karena adanya infeksi intrauterus yang tidak terdeteksi atau penyakit pernyerta kehamilan lainnya. [7]

Untuk mengurangi angka kelahiran prematur, ibu hamil dapat melakukan perawatan prenatal (prenatal care) dengan mengidentifikasi faktor risiko dan melakukan monitoring berkala melalui home visit serta edukasi risiko kelahiran prematur. Selain melakukan perawatan prenatal, ibu hamil juga harus menjaga pola hidup sehat seperti tidak merokok, melakukan konsultasi gizi berkala, dan mengurangi beban kerja. [8]

Bayi yang lahir prematur berisiko mengalami masalah kesehatan yang serius dan juga rentan terhadap peningkatan risiko kematian. Dua masalah paling serius adalah gangguan pernapasan dan otak yang belum matang. Bayi yang lahir prematur akan mengalami masalah pernapasan selama tahun pertama kehidupan dan meningkatkan risiko asma di kemudian hari. Sedangkan otak yang belum matang akan terus berkembang bahkan setelah lahir. Semakin prematur bayi lahir, maka semakin besar kemungkinan perdarahan atau tanda-tanda stres lain yang akan memengaruhi otak. Pada jangka panjang, bayi yang lahir prematur juga berisiko tinggi terkena penyakit kronis, seperti penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes. Bayi yang lahir prematur membutuhkan intervensi dini dan layanan pendidikan kesehatan khusus. [9]

Kesimpulannya, kelahiran prematur merupakan kelahiran sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Faktor risiko kelahiran prematur yaitu usia ibu, komplikasi kehamilan, dan riwayat kelahiran prematur. Pencegahan prematur dapat dilakukan dengan perawatan prenatal dan menjaga pola hidup sehat. Risiko bayi yang lahir prematur yaitu masalah kesehatan yang serius dan juga rentan terhadap peningkatan risiko kematian.

 

Referensi:
Daftar Pustaka
1. Kemendikbud. Pedoman Peringatan Hari Ibu Ke-90 Tahun 2018. [online].2018. Available from: https://setjen.kemdikbud.go.id/setjen/files/Sejarah%20Singkat%20PHI%202018.pdf
2. World Health Organization (WHO). Preterm Birth. [online]. 2018. [Cited 2020, Nov 7]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/preterm-birth
3. Julie-Anne Q, Flor M. Munoz, Bernard Gonik, et al. Preterm birth: Case definition & guidelines for data collection, analysis, and presentation of immunisation safety data. Vaccine. 2016:34(49), 6047–6056. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2016.03.045
4. Wita Solama. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Persalinan Prematur. Jurnal ‘Aisyiyah Medika. 2019:3(1):110-122.
5. Bulqis Inas S, Dominiscus Husada, Sulistiawati. Faktor Risiko Kelahiran Prematur di RSUD Dr. M. Soewandhi Surabaya pada Tahun 2017. Journal of The Indonesian Medical Association. 2019:69(12): 344-348.
6. Temu TB, Masenga G, Obure J, Mosha D, Mahande MJ. Maternal and obstetric risk factors associated with preterm delivery at a referral hospital in northern-eastern Tanzania. Asian Pacific Journal of Reproduction. 2016;5(5):365–70. https://doi.org/10.1016/j.apjr.2016.07.009
7. Ferrero DM, Larson J, Jacobsson B, et al. Cross-Country Individual Participant Analysis of 4.1 Million Singleton Births in 5 Countries with Very High Human Development Index Confirms Known Associations but Provides No Biologic Explanation for 2/3 of All Preterm Births. Plos One. 2016:11(9):e0162506. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0162506.
8. Deviana Soraya R. Pencegahan Persalinan Preterm. [online]. 2016. [Cited 2020, Des 8] Available from: https://med.unhas.ac.id/obgin/wp-content/uploads/2016/08/1.-pencegahan-persalinan-preterm.pdf
9. UK HealthCare. Short and Long Term Effects of Preterm Birth. [online]. [Cited 2020, Nov 13]. Available from: https://ukhealthcare.uky.edu/wellness-community/health-information/short-long-term-effects-preterm-birth#:~:text=Preterm%20babies%20can%20suffer%20lifelong,Learning%20difficulties