oleh

Kualitas Kesehatan Ibu di Indonesia pada Masa Pandemi

Oleh: Mentari Kirana Firdaus, Mahasiswi Universitas Indonesia

Kualitas kesehatan ibu dapat menjadi tolak ukur seberapa tinggi derajat kesehatan di suatu negara. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui kualitas kesehatan ibu di suatu negara baik atau tidak adalah dengan melihat tren angka kematian ibu (AKI) yang terjadi di negara tersebut. Indonesia sendiri hingga saat ini, masih memiliki AKI yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari kualitas kesehatan ibu yang memang masih cukup rendah hingga pelayanan kesehatan yang tidak cukup memadai. Hal ini diperparah dengan situasi pandemi Covid-19 yang sedang melanda saat ini. Dimana pelayanan kesehatan sekarang sedang fokus untuk menangani dan mencegah Covid-19, sehingga membuat pelayanan kesehatan essensial seperti pelayanan kesehatan ibu sedikit terganggu.

Berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) pada tahun 2015, Indonesia tercatat memiliki AKI sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup. Padahal pada tahun yang sama terdapat target MDG’s yang harusnya dicapai oleh Indonesia, yaitu AKI sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup. Adanya kesenjangan yang cukup besar antara target AKI dan hasil yang ada di lapangan disebabkan oleh beberapa faktor pendukung. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi AKI di sebuah negara antara lain, status kesehatan ibu, faktor sosial budaya, serta pelayanan kesehatan saat masa kehamilan (antenatal care), persalinan, dan pasca persalinan[1].

Jika dilihat lebih dalam, status kesehatan ibu di Indonesia memang masih terbilang cukup rendah. Hal ini dapat dilihat dari berbagai penyakit yang banyak diderita oleh para ibu hamil, seperti penyakit hipertensi, anemia, hingga kekurangan energi kronik (KEK). Terbukti, berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), proporsi anemia pada ibu hamil di Indonesia bahkan mengalami peningkatan, dari tahun 2013 sebesar 37,1 menjadi 48,9 di tahun 2018. Selain itu untuk proporsi Kekurangan Energi Kronik pada tahun 2018 tercatat, untuk kelompok wanita subur sebesar 14.5 sedangakan untuk wanita hamil sebesar 17.3[2]. Berbagai penyakit kronis yang di derita oleh ibu hamil, seperti anemia dan KEK dapat menjadi faktor pendukung terjadinya komplikasi selama masa kehamilan atau pada saat persalinan. Hingga saat ini komplikasi pada kehamilan menjadi penyebab utama dari kematian seorang ibu. Menurut WHO, saat membahas mengenai kematian maternal, disebutkan bahwa komplikasi yang sering terjadi pada seorang ibu antara lain adalah pendarahan, infeksi, serta tekanan darah tinggi saat kehamilan[3].

BACA JUGA:  Waspadai Dampak Alergi Susu Sapi pada Tumbuh Kembang Aanak

Oleh karena itu pelayanan kesehatan reproduksi yang memadai baik dari segi sarana prasarana, tenaga kesehatan, sampai aksesibilitas yang tinggi sangat dibutuhkan oleh tiap ibu di seluruh Indonesia, karena dengannya proses kehamilan hingga persalinan dapat terkontrol dengan baik sehingga jika terjadi kelainan yang mengindikasi komplikasi dapat di deteksi sedini mungkin dan langsung mendapatkan penanganan.

Namun hingga saat ini, tidak meratanya persebaran pelayanan kesehatan baik dari segi kualitas maupun kuantitas masih menjadi salah satu masalah di Indonesia. Kondisi yang sering dijumpai di lapangan adalah terbatasnya akses para ibu ke fasilitas kesehatan reproduksi yang berkualitas khususnya bagi perempuan miskin di Daerah Tertinggal, Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) , menjadi salah satu hambatan dalam menurunkan AKI[1].

Terlebih jika kita lihat situasi pandemi Covid-19 yang sedang melanda saat ini, dimana membuat pelayanan kesehatan essensial menjadi kurang optimal. Berdasarkan data yang diperoleh dari Laporan Kajian Cepat Kesehatan yang dikeluarkan oleh UNICEF pada bulan Juli dilaporkan mengenai banyaknya layanan kesehatan yang terhenti, antara lain terdapat lebih dari 75% posyandu tutup, lebih dari 41% kunjungan rumah terhenti, serta setidaknya ada 7% layanan puskesmas juga terhenti. Selain itu laporan ini juga menyebutkan bahwa setidaknya terdapat 46% layanan antenatal care yang juga ikut terhenti.Terhentinya layanan kesehatan ini desebabkan oleh berbagai faktor mulai dari kekhawatiran masyarakat, kekhawatiran tenaga kesehatan, hingga terdapatnya aturan PSBB di suatu wilayah yang cukup membatasi ruang gerak[4].

BACA JUGA:  Waspadai Dampak Alergi Susu Sapi pada Tumbuh Kembang Aanak

Fakta ini cukup mengkhawatirkan, dimana dengan pelayanan kesehatan yang biasa diterapkan saja angka kematian ibu masih cukup tinggi, maka bukan tidak mungkin dengan pelayanan kesehatan yang kurang optimal saat ini membuat angka kematian ibu akan mengalami peningkatan.

Tingginya angka kematian ibu di suatu negara tidak hanya berdampak pada kualitas kesehatan wanita di negara tersebut tetapi juga akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan anak. Salah satu artikel mengenai reproductive health yang berjudul The true cost of maternal death: individual tragedy impacts family, community and nations , menyatakan bahwa sebuah studi di Ethiopia membuktikan, kematian ibu akan meningkatkan risiko kematian pada bayi sebelum mencapai usia satu bulan sebesar 46 kali lebih tinggi. Sementara untuk anak yang ditinggal ibunya juga akan merasakan dampak yang tak kalah besar. Suatu penelitian yang dilakuakan oleh Bazile, dkk. menemukan bahwa kehilangan ibu akan memperburuk kerentanan anak-anak yang masih hidup terhadap penyakit dan kekurangan gizi. Selain itu kematian ibu juga akan berdampak dalam masalah pendidikan serta penjagaan moralitas pada anak[5].

Kondisi kualitas kesehatan ibu di Indonesia mungkin memang belum cukup baik saat ini, terlebih dipersulit dengan situasi pandemi yang sedang kita hadapi sekarang. Namun itu semua bukan menjadi alasan untuk kita terus bersama-sama berupaya menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu. Diperlukan kontribusi dari berbagai pihak untuk bisa meningkatkan kualitas kesehatan ibu atau setidaknya menurunkan angka kematian ibu di Indonesia, dimulai dari pribadi tiap ibu, para wanita subur yang akan menjadi ibu, dukungan dari lingkungan sekitar khususnya keluarga, peran tenaga kesehatan serta taklupa peran pemerintah dalam memperbaiki pelayanan kesehatan di negeri ini. Setiap peran harus sadar terhadap tanggung jawab yang ada dipundaknya, dengan begitu kita dapat menurunkan AKI di negara ini dan medorong kualitas hidup ibu ke taraf yang lebih tinggi. Hal ini menjadi penting dan perlu diperhatikan, karena dengan menjaga kesehatan ibu sama artinya dengan menjaga kualitas penerus bangsa. (Mentari Kirana Firdaus)

 

BACA JUGA:  Waspadai Dampak Alergi Susu Sapi pada Tumbuh Kembang Aanak

Referensi:
1. Susiana S. Angka Kematian Ibu: Faktor Penyebab Dan Upaya Penanganannya [Internet]. Berkas.dpr.go.id. 2019 [cited 1 December 2020]. Available from: http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-XI-24-II-P3DI-Desember-2019-177.pdf
2. Kementerian Kesehatan RI. Hasil Utama Riskesdas 2018 [Internet]. Kesmas.kemkes.go.id. 2018 [cited 1 December 2020]. Available from: https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskesdas-2018_1274.pdf
3. World Health Organization. 10. Maternal mortality [Internet]. Who.int. 2019 [cited 1 December 2020]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/maternal-mortality#:~:text=Every%20day%20in%202017%2C%20approximately,dropped%20by%20about%2038%25%20worldwide.
4. Kementerian Kesehatan RI, UNICEF. Laporan Kajian Cepat Kesehatan: Memastikan Keberlangsungan Layanan Kesehatan Esensial Anak dan Ibu di Masa Pandemi COVID-19 di Indonesia [Internet]. Unicef.org. 2020 [cited 1 December 2020]. Available from: https://www.unicef.org/indonesia/media/5371/file/Laporan%20Kajian%20Cepat%20Layanan%20Kesehatan%20Esensial%20Ibu%20Anak.pdf
5. Miller, S., Belizán, J.M. The true cost of maternal death: individual tragedy impacts family, community and nations. Reprod Health 12, 56 (2015). https://doi.org/10.1186/s12978-015-0046-3

Komentar

Berita lainnya