oleh

Peran Bank Syariah Bangkitkan UMKM di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 saat ini sedang melanda hampir seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Adanya penerapan PSBB di sebagian wilayah membuat para pekerja di rumahkan (WFH) dan anak-anak sekolah sampai mahasiswa terpaksa melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Segala aktivitas yang serba dibatasi ini tentunya membawa dampak yang sangat signifikan terhadap para pelaku usaha, terutama Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Tentunya tidak mudah bagi para pelaku usaha untuk mempertahankan usahanya di masa pandemi ini. Lalu bagaimana cara mereka untuk mempertahankan usahanya? Yuk, simak penjelasan berikut.

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah jenis usaha yang paling banyak di temui di Indonesia. Dalam situasi pandemi ini, suntikan dana sangat dibutuhkan para pelaku UMKM guna mempertahankan usahanya. Peran lembaga keuangan sangat diperlukan dalam rangka penyaluran modal usaha. Bank Syariah merupakan salah satu lembaga keuangan berbasis syariah yang dianggap tepat untuk penyaluran modal usaha bagi UMKM saat ini.

BACA JUGA:  Kelebihan Bank Syariah di Tengah Pandemi

Mengapa? Karena pembiayaan dalam bank syariah menganut sistem bagi hasil (Profit and Loss Sharing) dimana dalam sistem ini penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil disepakati pada awal akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi dan besarnya rasio bagi hasil didasarkan pada keuntungan yang diperoleh para pelaku usaha tersebut. Berbeda halnya dengan sistem bunga, penentuan bunga dibuat pada saat akad dengan asumsi usaha tersebut akan selalu menghasikan keuntungan dan besarnya presentase didasarkan pada jumlah dana yang dipinjamkan bank.

BACA JUGA:  Kelebihan Bank Syariah di Tengah Pandemi

Kemudian menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) industri keuangan syariah juga masih memiliki ketahanan yang cukup baik di tengah pandemi. Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Teguh Supangkat menilai dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), aset, dan pinjaman yang diterima (PYD). Per Mei 2020, PYD tumbuh 10,14 persen, aset tumbuh 9,35 persen (ytd), dan DPK tumbuh 9,24 persen (ytd). Nilai ini masih lebih tinggi dibandingkan kredit konvensional yang hanya tumbuh 3,04 persen dan DPK tumbuh 8,87 persen.

BACA JUGA:  Kelebihan Bank Syariah di Tengah Pandemi

Dari data tersebut, bisa kita lihat bahwa penggunaan sitem bagi hasil bank syariah lebih unggul dibandingkan sistem bunga bank konvensional dan sistem sistem bagi hasil ini juga mampu membangkitkan keterpurukan UMKM akibat pandemi covid-19, dikarenakan sistem bagi hasil menjamin adanya keadilan dan tidak ada pihak yang tereksploitasi (terdzalimi). [Erika Sri Suciati]

Komentar

Berita lainnya