Dokter memvonisnya mengidap penyakit hisprung, karena setelah 3 hari kelahirnya ia tidak buang air besar seperti bayi pada umumnya. Kini, penyakit itu telah sembuh setelah operasi tahap 1 berhasil.
DEPOK – Semua orang tua pasti menginginkan anaknya terlahir dengan kondisi normal, berbeda dengan pasutri AR (33) dan HG (43), warga Kelurahan Cisalak, Kecamatan Cimanggis ini harus menerima kenyataan bahwa anak ke-2 mereka mengidap kelainan bawaan sejak lahir.
Ia mengidap penyakit hisprung, yaitu gangguan usus atau penyempitan yang mengakibatkannya tidak bisa buang air besar melalui anus. Ia lahir pada 6 Maret 2015, setelah 3 hari kelahirannya mulai terlihat kondisi yang tidak sama seperti bayi lainnya.
“Setelah 3 hari di rumah sakit pas mau pulang diketahui anak saya perutnya kembung dan membesar, lalu di rujuk ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap untuk dicek secara keseluruhan,” ungkap ibu KG.
Penyakit hirsprung atau biasa disebut congenital aganglionic megacolon, waardenburg-hirschsprung disease adalah kondisi yang mempengaruhi usus besar (kolon) dan menyebabkan masalah pengosongan kotoran (feses) karena pergerakan usus yang mengalami masalah. Penyakit hirsprung didapatkan pada bayi yang baru lahir (bawaan) dan terjadi akibat adanya permasalahan pada saraf yang ada di kolon sampai ke anus. Saraf ini bisa mengalami kelainan di sebagian atau keseluruhan kolon.
Gejala penyakit hisprung antara lain, seperti tidak buang air besar sejak lahir, sembelit, penurunan berat badan, dan pembengkakan pada bagian perut.
Tepat pada usia 5 bulan, KG kecil dioperasi tahap 1 dan operasi tersebut dinyatakan berhasil maka tidak ada operasi lanjutan tahap 2. Meski demikian, KG tetap melakukan terapi di rumah dengan cara businasi yakni memasukan alat seperti busi hegar dengan diameter yang berbeda. Busi hegar dimasukan ke dalam anus agar jahitan setelah operasi tidak rapat kembali.
Pasca operasi berhasil, bayi mungil ini masih harus tetap ke rumah sakit setiap akhir pekan. Tujuannya untuk melihat perkembangannya setelah operasi dan mengetahui penyakit hisprung tersebut sudah benar-benar tidak ada. (Syintia Febrianti)