oleh

Masihkah Kau Menilai Ayah dengan Sebelah Mata?

Dia mungkin bukan sosok lelaki sempurna, tapi yang pasti, dia akan melakukan apa saja untuk membahagiakan keluarganya. bahkan ketika nyawa taruhannya.

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Sosok pekerja keras melekat padanya. Bekerja dari sang surya terbit hingga terbenam. Segala macam rintangan, seperti hujan, panas, maupun yang mengancam keselamatannya tetap ia terjang, hanya demi mencari nafkah untuk keluarganya. Kata “malas” dan “menyerah” pantang baginya.

Ia adalah sosok bertanggung jawab. Meski anaknya suka mengeluh dan menuntut kepadanya, ia selalu mau mendengarkan dan terus berusaha memenuhi kewajibannya sebagai seorang Ayah, yaitu membahagiakan anaknya.
Sifatnya keras dalam mendidik sehingga menjadi sosok yang ditakuti. Namun, di balik sifat kerasnya, tersimpan hati yang lembut, berisi cinta sebesar cinta Ibu. Ia memang tidak dapat menyampaikan cintanya melalui kata-kata indah, namun pengorbanannya adalah wujud cintanya yang tulus.

BACA JUGA:  Perilaku Body Shaming, dari Bercanda hingga Ancaman Penjara

Ia pintar menyembunyikan rasa. Hanya sekilas dapat terlihat raut wajahnya yang tampak lelah saat tiba di rumah. Begitu pula saat ia kehilangan sosok orang yang dicintainya, dirinya tak mau menampakkan tangisan di wajahnya karena tetap ingin terlihat kuat di depan anaknya.

Ia mencintai dalam diam. Ia pintar menyembunyikan rasa. Ia sosok menginspirasi. Ia satu-satunya laki-laki yang tak pernah menyakiti. Ialah sosok yang sering dipanggil dengan sebutan Ayah.

Akan tetapi, semua rasa yang selama ini berhasil disembunyikannya dapat terlihat jelas saat ia tertidur. Wajahnya menampakkan rasa lelah yang teramat, terdapat kantung mata, wajahnya terlihat lesu dan pucat, serta raut wajahnya terlihat gelisah. Terkadang tidurnya tak lelap, sering kali terbangun dari tidurnya.

Sungguh banyak rasa yang telah ia sembunyikan dengan sempurna dari orang-orang terdekatnya. Tak pernah baginya mengeluh akan suatu hal karena tak mau menambah beban pikiran orang lain. Bagi yang tak begitu mengenalnya, pasti akan merasa tertipu dengan topeng yang dikenakannya.

Ayah memang tidak mengandung, tapi di dalam darah anaknya mengalir darahnya. Ia tidak melahirkan, tapi dirinyalah yang paling mengerti kesakitan Ibu. Ia juga tidak menyusui, tapi dari keringatnyalah yang menjadi setiap tetes air susu anaknya.

Masihkah kau menilai Ayah dengan sebelah mata? Di saat tiap keringat dan hembusan napasnya hanya ditujukan untuk keluarganya. Kerja keras dan usahanya bahkan tak pernah ia ungkit atau berharap diganti. Kasih sayangnya selalu membekas di hati dan tak lekang oleh waktu. Ayah adalah pahlawan sejati yang nyata dalam kehidupan. Terima kasih atas kasih, cinta, dan pengorbanan tulus yang tak terganti. Terima kasih, Ayah.

Fitriana Monica Sari
Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta

Komentar

Berita lainnya