oleh

Kekurangan Bukan Penghalang

Memiliki anak dengan fisik yang sempurna adalah harapan semua orang tua. Begitu pula dengan pasangan suami istri Alal dan Yati, yang sangat berharap agar anak kelimanya terlahir tanpa kekurangan sedikit apapun.

Anak kelimanya berjenis kelamin perempuan, lahir di Depok pada tanggal 1 Februari 2008. Ia diberi nama Nur Aini Febrianti (8), ia sering disapa dengan sebutan Aini. Aini berparaskan cantik dengan wajah mungilnya dan bulu mata lentik. Tubuhnya kecil seperti anak-anak seusianya, serta gaya fashionnya yang selalu menggunakan bando atau hiasan rambut berwarna pink, membuat dirinya terlihat sangat ceria dan bersemangat.

Aini memang dilahirkan secara normal seperti kelima saudaranya. Namun, Aini terlahir dengan keadaan yang tidak sempurna. Telinganya tidak seperti telinga orang-orang pada umumnya. Kedua daun telinganya tidak terbentuk sempurna. Terlipat ke dalam dan menutupi lubang telinganya, untuk orang awam lebih menilai daun telinganya berbentuk seperti kerang hijau yang biasa kita makan di restoran seafood dan yang sering kita jumpai di pasar. Memang aneh kedengarannya. Orang tuanya juga tidak mengetahui apa penyebabnya, bahkan medis pun tidak bisa menjelaskan secara detail mengenai penyebab terjadinya hal ini.

Orang tuanya sangat terpukul dengan keadaan yang diderita oleh putri kecilnya.“Kenapa ini terjadi pada putriku ? Bagaimana jika di masa depan ia harus menerima cemoohan dari teman-temannya ? Bagaimana jika ia merasa minder dengan keadaan seperti ini ? Serta bagaimana jika di masa yang akan datang tidak ada yang mau berteman dengannya karena keterbatasan fisiknya ?”Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu membuat orang tuanya merasa gundah gulana.Belum lagi saat nanti putri mereka tumbuh dewasa dan sudah mengerti bahwa keadaanya tidak sempurna seperti kakak-kakaknya ataupun teman-temannya.

Sebagai kakak, rasa kasihan, sedih, bahkan bingung pun saya rasakan. Saya juga memiliki pertanyaan yang sama di dalam fikiran saya mengenai bagaimana dengan adikku kelak.
Apa yang telah membuat dia seperti ini? Ada apa dengan dirinya? Kuatkanlah Tuhan.

Berikanlah bidadari kecil orang tua ku ini ketabahan untuk menjalani hidup dengan keadaanya sekarang.

Saat adikku berusia lima tahun ia tidak ingin bersekolah di taman kanak-kanak, ia ingin langsung ke SD (Sekolah Dasar). Tetapi karena usianya yang belum bisa untuk masuk ke SD, akhirnya ia harus menunggu hingga ia berusia tujuh tahun. Awalnya ibunya merasa tidak yakin jika ia harus masuk ke sekolah umum dengan alasan keterbatasan fisik yang dimiliki. Namun, di lain sisi ayah yakin bahwa kepintaran serta kecerdasaan putri kecilnyasetara dengan anak-anak yang memiliki fisik sempurna. Di dalam kelas ia belajar biasa seperti murid lainnya, namun saat suasana ruang kelas sedang berisik, ia mengaku sulit mendengar, walaupun ia sudah duduk di tempat duduk yang terdepan. Hal itu yang membuat ibuku semakin khawatir dengan keadaan putri kecilnya di sekolah.

Memang benar ucapan adalah doa, ayahn yang berucap kalau putrinya memiliki kecerdasan yang setara dengan anak lainnya kini benar-benar terbukti. Dengan keterbatasan telinga yang dimiliki anaknya hingga mengakibatkan kurang dalam hal pendengaran tidak membuat putri dambaanya terpuruk dalam pendidikannya. Aini pun mampu mengikuti pelajaran-pelajaran yang ada di sekolah dengan sangat baik bahkan lebih baik dari teman-temannya yang secara fisik sempurna. Tidak tanggung-tanggung Aini mendapatkan peringkat satu di kelasnya.

Walaupun Aini unggul di mata pelajaran, tetap saja ia mendapatkan cemoohan dari teman-teman sekelasnya.
“Kok Aini kupingnya kecil sih ?”
“Aini kalau kuping kamu kaya gitu, kamu enggak bisa denger”
“Aini kupingnya ihh …”

Kalimat-kalimat itu sering sekali terlontar dari mulut teman-temannya. Aini hanya bisa menjawab, dengan jawaban yang polos serta lugu. “Ih kan emang kuping aku kaya gini,” jawaban itu yang selalu ia lontarkan untuk menjawab pertanyaan atau mungkin cemoohan dari teman-temannya.

Pernah suatu hari saat ia ingin pergi untuk bersekolah, Aini tertabrak oleh sepeda motor. Keadaanya memang tidak parah saat itu, tetapi yang membuat hati ayah dan ibu bahkan aku sebagai kakak tertua terenyuh. Ketika Aini ditanya kenapa bisa tertabrak, ia menjawab “Aini enggak denger suara tin-tin-tin motornya bu,”sungguh ibuku merasa kasihan serta terpukul ketika jawaban lugu yang keluar dari mulut mungil anaknya.

Mungkin sekarang Aini masih kecil dan belum menyadari bahwa dirinya memiliki kekurangan, tapi suatu saat ia akan mengerti keadaan fisiknya tidak sama seperti orang lain. Bully serta cemoohan mungkin akan diterimanya, tetapi ayah dan ibu akan membuktikan bahwa bidadari surga yang mereka miliki mampu melewati cobaan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Menurut dokter memang bisa telinga Aini dioperasi hingga berbentuk seperti bentuk telinga yang normal, namun biaya operasi yang tinggi menjadi penghalang orang tua kuuntuk menunda tindakan operasi untuk adik kecilku. Maklum saja, kami bukan keluarga yang bisa bergelimang harta. Menurut kami, biaya untuk operasi bukan biaya yang kecil.

“Jangan malu dengan keadaan fisik mu, kamu tetap bidadari ayah dan ibu yang cantik. Jangan pedulikan cemoohan mereka. Mereka hanya peduli dengan kekuranganmu. Buktikan kepada mereka kalau Aini lebih hebat dari mereka yang memiliki fisik yang sempurna,” begitu ucapan semangat yang terlontar dari mulut ayahnya untuk menyemangati sang bidadari surga miliknya. “Bersabarlah nak! jika ada rezeki, kita akan segera mengobati dan memperbaiki telinga mu nak,” ucap ayah sambil membelai rambut hitam putri kecilnya.

Elsi Cahyani

Komentar

Berita lainnya