Artikel

Bahaya Paparan Blue Light Terhadap Kesehatan Kerja

×

Bahaya Paparan Blue Light Terhadap Kesehatan Kerja

Sebarkan artikel ini

Oleh Dzaky Muhadhib, mahasiswa Universitas Binawan

DEPOKPOS – Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia bekerja. Aktivitas kerja yang sebelumnya harus dilakukan dengan tenaga fisik atau yang disebut Blue Collar Job kini banyak yang bergeser menjadi pekerjaan berbasis gadget atau yang disebut White Collar Job. Kondisi ini melahirkan bahaya kerja baru yang sering tidak disadari, salah satunya adalah paparan Blue Light akibat Gadget.

Gadget adalah perangkat media elektronik dengan berbagai fungsi. Gadget sekarang menjadi sangat penting untuk telekomunikasi. Penggunaan perangkat telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini telah menimbulkan kekhawatiran yang semakin meningkat tentang dampak negatif pada kesehatan yang disebabkan oleh paparan medan elektromagnetik dan radiasi gelombang mikro yang dihasilkan oleh perangkat tersebut. Radiasi berbahaya akan menunjukkan masalah kesehatan masyarakat secara luas.(Pratama et al., 2025)

Penggunaan perangkat elektronik telah menjadi bagian integral dari kehidupan akademik dan sosial mahasiswa. Sebagian besar siswa menggunakan perangkat seperti smartphone, tablet, dan laptop untuk berbagai tujuan, termasuk mengakses media sosial. Gadget adalah alat penting untuk membantu belajar karena mereka mudah diakses. Namun, efek negatif seperti susah fokus, iritasi mata, sakit kepala, dan leher juga dapat muncul dengan intensitas penggunaan yang tinggi.

Kelelahan mata atau astenopia, adalah ketika mata menjadi lelah karena penggunaan yang terlalu lama atau intens. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti nyeri berdenyut di sekitar mata, pandangan kabur, penglihatan ganda, kesulitan memfokuskan mata, rasa perih, mata merah, berair, gatal, dan mata kering. Gejala tambahan mungkin termasuk sakit kepala, pusing, hingga mual (Hermawan, 2022). Ada hubungan antara kebiasaan penggunaan perangkat digital, gangguan pola tidur, dan peningkatan prevalensi strain mata yang signifikan, yang merupakan masalah penting dalam kesehatan mahasiswa kedokteran yang dapat memengaruhi prestasi akademik dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

Blue Light, juga dikenal sebagai sinar biru, adalah hal yang mengkhawatirkan karena dapat menyebabkan kerusakan pada retina, yang dikenal sebagai fotoksisitas. Hal ini membuat sebagian mahasiswa memakai kacamata, baik yang sudah memiliki gangguan penglihatan maupun yang menggunakan kacamata anti radiasi. Pratama (2020) menyatakan bahwa paparan sinar biru yang masuk ke mata dapat mempercepat perkembangan Degenerasi Makula. Cahaya biru memiliki efek besar pada produksi hormon melatonin, yang membantu mengatur tidur. Ketika seseorang terpapar cahaya biru sebelum tidur, otak mereka “tertipu” seolah-olah mereka masih berada di siang hari. Akibatnya, produksi melatonin menurun, yang pada gilirannya menyebabkan masalah tidur atau insomnia, serta penurunan kualitas tidur (Bigalke et al., 2021).

Dalam jangka panjang, gangguan tidur ini dapat berdampak pada fungsi kognitif, mood, dan daya tahan tubuh. Selain itu, paparan cahaya biru dalam jangka waktu yang lama dapat berdampak pada kesehatan mata, terutama dapat menyebabkan strain mata digital atau astenopia digital. Cahaya biru yang dipancarkan layar juga dapat masuk ke retina. Jika terpapar layar secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama, dianggap dapat merusak sel-sel retina. Namun, masalah ini masih diperdebatkan dalam literatur ilmiah (O’Hagan et al., 2016).

Untuk mengurangi efek negatif tersebut, ada beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil. Penggunaan filter pelindung radiasi biru pada perangkat elektronik dapat membantu remaja mengurangi paparan radiasi berbahaya. Selain itu, penting bagi mereka untuk mengawasi penggunaan perangkat elektronik dan mengambil waktu untuk merelakskan mata.

Penggunaan gadget yang berlebihan dapat berbahaya bagi kesehatan mata. Untuk mencegah hal ini terjadi, lakukan hal-hal berikut: Pertama, sangat penting untuk mengatur kecerahan layar perangkat yang sedang digunakan sesuai dengan pencahayaan sekitar. Ini mengurangi tekanan intraokular dan kelelahan visual. Selain itu, menerapkan prinsip 20–20–20 dapat membantu melindungi kesehatan mata. Ini berarti memfokuskan pandangan pada hal-hal yang berjarak 20 kaki atau lebih selama setidaknya 20 detik setiap 20 menit untuk mengurangi ketegangan mata (American Academy of Ophthalmology, 2021). Filter proteksi radiasi biru juga dapat digunakan untuk mengurangi ketegangan mata akibat radiasi berbahaya (Stringham et al., 2017). Selain itu, menghindari layar setiap beberapa jam membantu mata istirahat. Menggunakan obat tetes mata buatan untuk mempertahankan kelembapan mata saat terasa kering adalah opsi tambahan (Mayo Clinic, 2021). Dengan mengikuti beberapa saran ini, Anda dapat menjaga kesehatan mata Anda dan mengurangi risiko gangguan penglihatan yang disebabkan oleh penggunaan perangkat yang berlebihan. Berdasarkan beberapa penelitian lain yang telah di lakukan, sehingga dapat di tarik kesimpulan untuk anjuran pemakaian penggunaan gadget, yaitu tidak menggunakan handphone lebih dari 1 (satu) jam dalam jangka waktu selama 2 (dua) tahun serta tidak di anjurkan untuk menaruh di salah satu atau kantong baju kemeja maupun celana karena saat handphone bergetar atau berdering akan menimbulkan radiasi pada tubuh sehingga dapat berakibat fatal pada kerja dan proses denyut jantung dan apabila handpohne tersebut disimpan pada saku celana maka radiasi tersebut akan beresiko mengurangi dan menurunkan sperma sampai dengan 25%. (Kesehatan et al., 2024)

Keluhan kelelahan mata, seperti mata kering, pandangan kabur, dan sakit kepala, lebih sering dikaitkan dengan penggunaan perangkat digital dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, penggunaan perangkat digital pada malam hari dapat mengganggu kualitas tidur karena mengganggu produksi hormon melatonin. Karena intensitas dan durasi penggunaan layar yang tidak dikontrol dapat menurunkan produktivitas dan kenyamanan kerja, penerapan kebiasaan kerja yang ergonomis dan prinsip 20–20–20 dapat membantu mengurangi efek negatif paparan cahaya biru.