Opini

Fatherless, Potret Keluarga di Tengah Arus Kapitalisme Sekuler

×

Fatherless, Potret Keluarga di Tengah Arus Kapitalisme Sekuler

Sebarkan artikel ini

Oleh : Deti Kutsiya Dewi, S.Tr.Ak,M.S.Ak (Aktivis Dakwah)

Bayangkan, satu dari lima anak di Indonesia tumbuh tanpa ayah. Angka itu bukan sekadar statistic. Kompas (8 Oktober 2025) – mencatat ada 15,9 juta anak yang hidup dalam bayang-bayang fatherless, sebuah fenomena sosial yang kian nyata. Bahkan menurut hasil penelitian, Indonesia menduduki posisi ketiga sebagai negara dengan tingkat fatherless tertinggi. Fenomena ini bukanlah masalah sepele, karena sangat berdampak pada tumbuh kembang generasi di masa depan. Fatherless di sini bukan hanya ketidakhadiran sosok ayah secara fisik, melainkan juga sosok ayah ada dalam keluarga namun nihil dalam dukungan emosional dan pengasuhan. Tanpa peran ayah, anak berpotensi menghadapi tingkat stres yang lebih tinggi, rawan terlibat kenakalan remaja, dan kerap kesulitan membangun kepercayaan diri maupun identitas diri yang sehat.

Kondisi fatherless ini menuai banyak respons, baik dari para ahli maupun dari mereka yang merasakannya secara langsung. Kehadiran generasi fatherless tidak muncul dari kekosongan, melainkan tumbuh dari sistem kapitalisme sekuler yang perlahan mengikis makna pengasuhan dan keluarga. Sistem hidup kapitalistik membuat para tenaga ayah terkuras untuk bertahan hidup, sementara kehangatan keluarga perlahan tergantikan oleh tuntutan pekerjaan. Akibatnya, fungsi qawwam dalam diri ayah sebagai pelindung, pemberi nafkah, sekaligus sumber rasa aman bagi keluarga perlahan memudar.

Dalam pandangan Islam, ayah dan ibu memiliki peran yang sama pentingnya dalam membangun fondasi keluarga. Ayah bukan sekadar pencari nafkah, tetapi juga sosok teladan dan pendidik utama bagi anak-anaknya. Dalam Islam, ayah disebut sebagai qawwam yakni pemimpin dan penopang utama dalam keluarga. Peran itu bukan sekadar mengatur urusan rumah tangga, tetapi juga memastikan keselamatan spiritual diri dan keluarganya. Allah menegaskan hal ini dalam firman-Nya :

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, para penjaganya adalah malaikat-malaikat yang keras dan tegas, yang tidak pernah durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan selalu melaksanakan perintah itu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan seorang ayah bukan hanya soal tanggung jawab duniawi, tetapi juga amanah besar untuk menjaga keluarganya dari kehancuran moral dan spiritual. Kisah Luqman dalam Al-Qur’an menjadi contoh nyata bagaimana seorang ayah berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai moral, kebijaksanaan, dan keimanan kepada anaknya (QS. Luqman: 12–19). Sementara itu, ibu memiliki kedudukan mulia sebagai pengasuh utama yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan membentuk karakter anak sejak dini.

Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu, menandakan betapa besar perannya dalam pembentukan generasi. Keduanya, ayah dan ibu, sejatinya adalah dua pilar yang saling melengkapi. Ketika salah satu absen dalam menjalankan fungsinya baik secara fisik maupun emosional, maka keseimbangan dalam keluarga mudah terganggu. Berbagai studi modern pun menguatkan pandangan ini, riset menunjukkan bahwa keterlibatan ayah secara aktif dalam pengasuhan mampu meningkatkan prestasi akademik, kesehatan mental, dan kepercayaan diri anak. Maka hanya dalam sistem Islam (khilafah) negara dapat menghasilkan keluarga dan generasi yang tangguh dimana ayah dan ibu berperan sesuai dengan fitrahnya.
Wallahu alam bissawab