Scroll untuk baca artikel
Artikel

Keberhasilan Belanda dalam Mempromosikan Efteling sebagai Destinasi Wisata Internasional 1955-2019

×

Keberhasilan Belanda dalam Mempromosikan Efteling sebagai Destinasi Wisata Internasional 1955-2019

Sebarkan artikel ini
Keberhasilan Belanda dalam Mempromosikan Efteling sebagai Destinasi Wisata Internasional 1955-2019

DEPOKPOS – Belanda memiliki banyak sekali tempat wisata yang terkenal dan menarik minat pengunjung baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Efteling menjadi salah satu tempat wisata yang terkenal di Belanda. Efteling adalah taman hiburan terbesar di Belanda, dan karena dibuka pada tahun 1952, Efteling adalah salah satu taman hiburan tertua di dunia.  Efteling terletak di kota Kaatsheuvel, di bagian selatan Belanda. (Cornelis 2010).

Pada 19 Mei 1935, Taman Olah Raga dibuka di Kaatsheuvel oleh pastor paroki F.J. de Klijn, pendeta E. Rietra dan Jac Smit, ketua klub sepak bola setempat untuk memberikan hiburan bagi umat Katolik. Pada 1949, diselenggarakan di halaman Sportpark, pameran ini sukses besar dan meningkatkan reputasi Sportpark dan fasilitasnya. Pada 1950, berkat dorongan Walikota van der Heijden, Sportpark berubah nama menjadi Natuurpark de Efteling, menandai langkah awal Efteling sebagai taman hiburan yang lebih besar. Segera setelah Perang Dunia II, Belanda menjadi miskin dan sedih. Pada tahun 1951, periode kemakmuran ekonomi yang stabil dimulai, terutama karena meningkatnya industrialisasi. Van der Heijden membayangkan bahwa Efteling akan memperluas kegiatan ekonomi di wilayah tersebut, sehingga tidak terlalu bergantung pada industri sepatu saja. Sehingga Efteling dibuka untuk umum pada 31 Mei 1952 dan dipromosikan tidak hanya pariwisata dan rekreasi tetapi juga dalam hal ekonomi. (Hover 2013)

Efteling terus berkembang hingga berhasil menjadi salah satu nominasi untuk The Best Social Awards pada tahun 2018. Best Social Awards adalah penghargaan untuk media sosial dan berisi berbagai kategori seperti ‘merek terbaik’ dan ‘kepribadian terbaik’. Saluran media sosial Efteling, yang dinominasikan oleh publik, dinominasikan untuk merek terbaik tahun 2018. Karena nominasi dinominasikan oleh publik, Efteling tampaknya dicintai oleh publik. Menurut penjelasan The Best Social Awards, popularitas ini sebagian disebabkan oleh “kreativitas, gambar dongeng, dan interaksi yang baik” dalam pemasaran mereka. (Gliwa & Popeseu 2017)

Makalah ini akan menganalisis cara Belanda mempromosikan taman hiburan Efteling menjadi wisata terkenal di kancah Internasional.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat dirumuskan masalah penelitian bagaimana strategi yang digunakan oleh Belanda dalam mempromosikan Efteling sebagai destinasi wisata internasional pada 1952-2019? dengan pertanyaan penelitian seperti, apa faktor-faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan Efteling dalam menarik wisatawan dari berbagai negara? Apa peran media dan kerjasama internasional dalam meningkatkan popularitas Efteling sebagai destinasi wisata internasional berdasarkan tahun 1952 – 2019? Apa saja keberhasilan yang diperloeh dari promosi yang dilakukan Belanda? Apa dampak dari promosi Efteling terhadap sektor pariwisata Belanda secara keseluruhan? Yang akan dianalisis pada makalah ini.

Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi yang digunakan oleh Belanda dalam mempromosikan Efteling sebagai destinasi wisata internasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendekatan penelitian yang digunakan adalah campuran metode baik kualitatif maupun kuantitatif.

Pendekatan metode campuran dijelaskan dalam literatur sebagai pendekatan di mana data kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan penelitian (Hesse- Biber 2010, dikutip dalam Gliwa & Popeseu 2017), di mana ‘kombinasi metode melibatkan pengumpulan, analisis dan integrasi metode kualitatif dan kuantitatif dalam satu studi penelitian’ (Hesse-Biber 2010, hlm.3, dikutip dalam Gliwa & Popeseu, 2017).

Penerapan metode campuran dalam penelitian memungkinkan analisis kompleks dari data yang dikumpulkan ‘Metode campuran adalah bidang yang kaya untuk kombinasi data karena dengan desain ini ”kata-kata, gambar, dan narasi dapat digunakan untuk menambahkan makna pada angka” (Johnson & Onwuegbuzie 2004, dikutip dalam Hesse-Biber 2010, hlm. 3, dikutip dalam Gliwa & Popeseu 2017). Menempatkan dalam konteks penelitian ini, serangkaian metode campuran yang digunakan meliputi:

Netnografis

Netnografi sangat penting untuk penelitian ini karena berurusan dengan serangkaian data online yang kompleks, mulai dari tekstual seperti surat kabar, ulasan Facebook, komentar Facebook, keterangan postingan, hingga elemen visual seperti gambar dan video kampanye: ‘[…] peneliti netnografis tidak hanya berurusan dengan kata-kata, tetapi dengan gambar, gambar, fotografi, file suara, audiovisual yang diedit, presentasi, kreasi situs web, dan artefak digital lainnya’ (Kozinets 2010, dikutip dalam Gliwa & Popeseu 2017).

Triangulasi

Untuk memastikan keakuratan dan kredibilitas data, penelitian ini akan menggunakan teknik triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan data yang diperoleh dari berbagai sumber (surat kabar, artikel media, dan media sosial).

Penelitian triangulasi menawarkan kesempatan untuk memvalidasi temuan penelitian ‘tujuan triangulasi adalah untuk mengkonfirmasi data dan memastikan kelengkapannya’ (Begley 1996, dikutip dalam Taylor 2006, dikutip dalam Gliwa & Popeseu 2017). Dengan cara ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai keberhasilan promosi Efteling.

Korpus

Penelitian ini menggunakan sumber primer surat kabar yang diperoleh dari situs web Delpher.nl dan platform media sosial sebagai korpus utama. Korpus pertama adalah dari surat kabar De Telegraaf yang terbit pada Jumat, 17 April 1992, pada halaman 10 membahas mengenai perayaan hari jadi Efteling yang ke 40 tahun “De Efteling viert dit jaar haar 40ste verjaardag” dengan diadakannya berbagai keseruan seperti pameran Anton Pieck pada artikel “Pieck in ‘t Park”, pembukaan hotel Efteling pada 7 Juni “Overnachten in een sprookje”, serta adanya promo untuk orang orang yang berusia sama dengan Efteling yaitu 40 tahun dapat masuk secara gratis sampai 31 Mei.

Korpus kedua berasal dari surat kabar Provinciale Noord-Brabantsche courant Het huisgezin yang terbit pada Jumat, 22 Juli 1955, terdapat artikel di halaman 15 berjudul “Ontspanningspark „De Efteling” ontvangt het bellend legioen”. Artikel ini membahas “De Efteling,” taman rekreasi di Kaatsheuvel, Belanda, bertema dongeng yang menyediakan berbagai fasilitas, termasuk atraksi baru “Hansel dan Gretel.” Dengan pengunjung yang terus meningkat dari berbagai negara.

Korpus ketiga dari surat kabar De Telegraaf yang terbit pada Jumat, 5 Agustus 1983, pada artikel “ Zomeravondfeesten in „De Efteling”” di halaman 12 yang Malam Musim Panas Brabant yang diadakan di taman alam “De Efteling” di Kaatsheuvel. Acara ini menampilkan berbagai pertunjukan musik, termasuk dari Pastor Abraham, Bonnie St Clair, Albert West, dan kelompok Goede Doel, serta penampilan orkestra berjalan. Banyak atraksi taman yang dibuka, termasuk sungai arung jeram Pirana dan hutan dongeng yang diterangi secara meriah.
Surat kabar terakhir yang menjadi korpus berasal dari Leeuwarder courant : hoofdblad van Friesland diterbitkan pada Rabu, 10 Maret 1965 pada artikel berjudul “Efteling” halaman 19 yang membahas tentang aktivitas apa saja yang ditawarkan di Efteling pada saat itu.

Korpus terakhir menggunakan platform media sosial Instagram dan Facebook, yang banyak digunakan sebagai media promosi karena jumlah penggunanya yang besar. Kedua platform ini menawarkan peluang untuk interaksi dan partisipasi, Efteling memiliki akun aktif di keduanya. Perbedaan antara Instagram, yang lebih fokus pada foto dan video, dan Facebook, yang memungkinkan berbagai jenis konten, menjadi inti dari penelitian ini. Data yang dikumpulkan terdiri dari postingan yang diposting oleh Efteling, yang dikategorikan berdasarkan jenis konten seperti cerita dan postingan Instagram. Contoh-contoh postingan ini akan digunakan untuk memahami bagaimana Efteling memanfaatkan media sosial untuk branding mereka.

Kajian Pustaka

Penelitian pertama oleh Hover (2013) menyoroti perkembangan Efteling sebagai narator dongeng melalui berbagai praktik naratif yang diterapkan di taman, seperti Sprookjesbos dan atraksi lainnya. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus dan analisis naratif historis, penelitian ini mengandalkan data sejarah sejak tahun 1952 serta wawancara dengan aktor kunci. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Efteling berhasil menjadi simbol dongeng dengan memadukan narasi klasik dan pengalaman langsung, yang berkontribusi besar pada branding serta pariwisata budaya.

Penelitian kedua oleh Gliwa dan Popescu (2017) berfokus pada strategi pemasaran destinasi Efteling di pasar Inggris melalui media sosial, terutama Facebook. Penelitian ini menggunakan metode pragmatis yang mengombinasikan netnografi, semiotika, dan analisis kuantitatif, dengan data yang mencakup posting Facebook, survei konsumen, serta wawancara dengan manajer media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi media sosial Efteling efektif dalam menyampaikan tema keluarga dan dongeng, meskipun ditemukan inkonsistensi dalam konten informatif serta kurangnya fokus pada pesan berbasis petualangan.

Penelitian ketiga oleh Bastiaenen (2019) mengeksplorasi penggunaan media sosial oleh Efteling untuk mendorong partisipasi dan membangun identitas merek. Dengan menggunakan analisis affordance dan konten, penelitian ini mengkaji postingan di Instagram dan Facebook selama dua bulan. Hasilnya menunjukkan bahwa partisipasi pengguna, seperti berbagi foto dan komentar, memainkan peran penting dalam membentuk identitas merek Efteling yang berfokus pada tema dongeng dan interaksi.

Penelitian keempat oleh Pieter C.M. Cornelis (2010) membahas pengaruh strategi co-branding di industri taman hiburan, dengan fokus pada kolaborasi antara Efteling dan WWF dalam atraksi PandaVision. Permasalahan yang diangkat adalah potensi dampak negatif strategi co-branding terhadap asosiasi merek utama dari salah satu merek yang terlibat. Dengan menggunakan metode eksperimen lapangan berbasis teknik IBRA (Inventory of Brand Representation Attributes), penelitian ini menunjukkan bahwa strategi co-branding yang tidak cocok dapat merusak asosiasi inti merek yang kuat, meskipun tidak memengaruhi penilaian atraksi secara keseluruhan. Hasil ini memperingatkan pentingnya seleksi mitra co-branding yang sesuai untuk menjaga citra merek.

Namun, ketiga penelitian tersebut belum membahas secara spesifik strategi promosi internasional Efteling dari perspektif sejarah. Penelitian “Keberhasilan Belanda dalam Mempromosikan Efteling sebagai Destinasi Wisata Internasional 1955-2019” menawarkan kontribusi baru dengan mengkaji upaya promosi selama periode yang panjang, yang memberikan pandangan historis tentang evolusi strategi pemasaran internasional. Selain itu, penelitian ini memiliki dimensi geografis yang lebih luas, menyoroti pasar internasional dibandingkan dengan fokus lokal atau satu negara. Dengan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan sejarah, komunikasi, dan analisis kebijakan promosi, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang strategi branding destinasi wisata internasional.

Perkembangan Efteling

Efteling dimulai sebagai taman rekreasi sederhana di Kaatsheuvel pada tahun 1935. Konsep awal Efteling adalah untuk memberikan hiburan bagi masyarakat lokal, khususnya umat Katolik, melalui Taman Olah Raga. Namun, seiring waktu dan dengan adanya dorongan dari Walikota van der Heijden, taman ini berubah menjadi taman hiburan bertema dongeng. Pada tahun 1950, nama Natuurpark de Efteling diperkenalkan yang kemudian dongeng Efteling resmi dibuka pada 1952 dengan 42 dongeng yang ada. Sebuah atraksi baru dibuka tahun 1955, yaitu “Hansel dan Gretel dan het peperkoekenhuisje”. Taman bermain ini diperluas dengan komidi putar dan “de fantastische kip” yang bertelur. Sebuah bar makanan ringan yang nyaman kini telah siap: disebut “de hoorn des overvloeds”. Ada juga dua kereta api yang membawa penumpang melewati lanskap yang indah.

Roller coaster terbesar di Eropa, ‘de Python’, dibuka tahun 1981 dengan 2 putaran dan pembuka botol merupakan tantangan bagi siapa saja yang pernah naik roller coaster. Fata Morgana pada 1986, sebuah perjalanan lengkap ke seluruh dunia dari Dongeng 1001 Malam. Harta karun perhiasan yang dijaga oleh raksasa besar, buaya di dalam air, dan pelayan wanita yang tinggal di istana megah di Efteling. 1987 dibuat Pagoda untuk mendapatkan pemandangan Efteling yang indah dari ketinggian, semua atraksi dapat dilihat.

Efteling membuka hotel sehubungan dengan perayaan ulang tahunnya ke-40 pada7 Juni 1992. Hotel yang terletak di jalan Waalwijk ini bergaya kastil ala negeri dongeng dengan menara dan 122 kamar yang nyaman dan cukup untuk 4 orang. Tahun 1995 Efteling membuka fasilitas baru berupa lapangan golf dengan 18 lubang tersedia.
Pada awalnya, Efteling lebih berfokus pada pasar domestik Belanda, namun seiring dengan peningkatan daya tarik internasionalnya, Efteling mulai menerima lebih banyak wisatawan asing. Salah satu faktor utama dalam perkembangan ini adalah pembangunan atraksi baru, pembaruan desain taman, dan pembangunan akomodasi yang menonjolkan tema fantastis dan inovatif.

Strategi Promosi Efteling

Strategi promosi yang diterapkan Belanda untuk mempopulerkan Efteling pada 1955 hingga 2019 menunjukkan penerapan berbagai teknik pemasaran yang berkembang sesuai dengan waktu.

Tahun 1950 – 1970-an

Pada tahun-tahun awal, promosi Efteling lebih banyak dilakukan secara tradisional melalui media cetak seperti surat kabar dan brosur wisata. Artikel-artikel di media seperti Provinciale Noord-Brabantsche courant Het huisgezin dan Leeuwarder Courant sangat penting dalam meningkatkan visibilitas taman tersebut.

Pada surat kabar Provinciale Noord-Brabantsche courant Het huisgezin yang terbit pada Jumat, 22 Juli 1955, terdapat artikel di halaman 15 berjudul “Ontspanningspark „De Efteling” ontvangt het bellend legioen”. Artikel ini mempromosikan taman rekreasi De Efteling di Kaatsheuvel sebagai destinasi yang unik di Belanda yang menawarkan tempat hiburan dan dunia dongeng yang mempesona bagi semua usia. Dikenal sebagai oase bagi muda dan tua, Efteling menggabungkan keindahan alam dengan berbagai atraksi seru, seperti taman bermain, teater boneka, dan hutan dongeng yang menampilkan adegan dari cerita-cerita terkenal. Tahun ini, Efteling membuka atraksi baru, seperti “Hansel dan Gretel” serta komidi putar, menambah daya tariknya. Dengan lebih dari 600.000 pengunjung pada tahun 1954, Efteling kini menarik wisatawan dari seluruh dunia, termasuk Belgia, Inggris, dan Amerika. Suasana yang memikat, seperti kastil dongeng dan pemandangan alam yang indah, membuat pengunjung kembali dengan kenangan indah.

Sedangkan surat kabar Leeuwarder courant : hoofdblad van Friesland yang terbit pada Rabu, 10 Maret 1965 dalam artikel berjudul “Efteling” halaman 19 mempromosikan Efteling, taman rekreasi yang terletak di Kaatsheuvel, akan dibuka pada hari Paskah pertama. Taman ini mencakup area seluas 150 ha dan menawarkan berbagai fasilitas seperti negeri dongeng, hutan, kolam renang, lapangan bermain, taman piknik, kolam kano, dan restoran. Tiket masuk untuk menikmati berbagai atraksi seharga 1 gulden. Akses ke Efteling dapat dicapai dengan kereta api ke Tilburg dan Den Bosch, kemudian dilanjutkan dengan bus yang beroperasi setiap jam.

Tahun 1980 – 1990-an

Pada tahun 1980-an dan 1990-an, Efteling mulai mengadakan berbagai festival dan perayaan untuk menarik pengunjung yang lebih banyak seperti festival malam musim panas dan perayaan ulang tahun Efteling yang ke 40 tahun.

Menurut surat kabar De Telegraaf yang terbit pada Jumat, 5 Agustus 1983, pada artikel “ Zomeravondfeesten in „De Efteling”” di halaman 12, diadakan Festival Malam Musim Panas Brabant atau Zomeravondfeesten di taman alam “De Efteling” di Kaatsheuvel. Acara ini menampilkan pertunjukan oleh Pastor Abraham, Bonnie St Clair, Albert West, dan lainnya di panggung air depan restoran besar, dengan acara dibawakan oleh Herman Emmink. Di Tea House Square, Gerard van Maasakkers akan tampil, bersama dengan Dommelvolk dan Krisiskoor dari Den Bosch. Kelompok Goede Doel juga akan menggelar konser di roller coaster Python. Beberapa orkestra berjalan juga tampil di seluruh taman.

Hampir semua atraksi dibuka, termasuk sungai arung jeram Pirana dan hutan dongeng yang diterangi dengan lebih dari 1.000 lampu sorot. Dongeng seperti Hansel dan Gretel juga diterangi secara meriah. Gerbang taman akan dibuka pukul 19.00, dan acara diakhiri dengan pertunjukan kembang api tengah malam. Tiket masuk seharga 12,50 gulden per orang, juga menyediakan presale di Efteling dan juga di kantor informasi turis di Tilburg, Waalwijk, Den Bosch, Breda, dan Oisterwijk.

Selain itu, berdasarkan surat kabar De Telegraaf yang terbit pada Jumat, 17 April 1992, pada halaman 10 “De Efteling viert dit jaar haar 40ste verjaardag” Efteling mengadakan berbagai keseruan dan penawaran menarik yang dibuat khusus untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-40. Perayaan ini menjadi simbol 40 tahun dunia penuh keajaiban yang diciptakan Efteling, dengan mengundang pengunjung dari berbagai generasi untuk merayakan sejarah taman hiburan ini.

Terdapat pameran Anton Pieck pada artikel “Pieck in ‘t Park” Anton Pieck, seniman yang berperan besar dalam desain awal Efteling, dihormati dalam pameran khusus. Ia adalah salah satu pendiri Efteling dan merancang banyak elemen ikonik di taman hiburan tersebut, seperti Hutan Dongeng.
Pembukaan hotel Efteling pada 7 Juni “Overnachten in een sprookje” mengusung tema dongeng, menawarkan pengalaman unik “menginap dalam suasana ajaib”.

Serta “Iedereen van 40 gratis naar binnen” sebagai bagian dari perayaan, pengunjung yang berusia 40 tahun diundang masuk ke Efteling secara gratis.

Tahun 2000-an

Sejak awal 2000-an, strategi pemasaran digital mulai digunakan secara masif. Efteling menggunakan platform seperti Instagram dan Facebook untuk mengajak pengguna terlibat secara aktif, misalnya melalui mengunggah foto atau video dari pengguna yang menampilkan pengalaman mereka di Efteling dan mendorong pengguna untuk meninggalkan komentar, mengisi polling, atau menjawab pertanyaan di unggahan media sosial mereka. Efteling memanfaatkan affordances visual seperti gambar berkualitas tinggi dan emoji yang menarik perhatian. Ini membantu memperkuat identitas merek mereka sebagai “dunia penuh keajaiban”. Dengan adanya konten visual yang menarik dan interaktif, Efteling mampu meningkatkan keterlibatan pengunjung dan menarik perhatian lebih banyak wisatawan internasional.

Kampanye pemasaran melalui media sosial semakin populer pada tahun 2010-an, di mana Efteling mulai bekerja sama dengan memanfaatkan media sosial. Pada 2017 Efteling bekerja sama dengan Amsterdam Tourism untuk mempromosikan destinasi mereka, termasuk menciptakan koneksi kereta langsung antara Amsterdam dan Efteling. Ini mempermudah aksesibilitas, meningkatkan daya tariknya bagi wisatawan internasional. Dengan menggunakan media sosial, khususnya Facebook, Efteling menargetkan pasar Inggris secara strategis. Konten yang dihasilkan, seperti informasi taman, berita, dan promosi, disesuaikan untuk menarik perhatian wisatawan Inggris. Kolaborasi ini meningkatkan pengakuan internasional Efteling, memperluas jangkauan pengunjung mereka, dan memperkuat daya saingnya di pasar pariwisata global. Penggunaan tema eksklusivitas “Holland’s hidden gem” menjadi strategi diferensiasi yang efektif.

Kerberhasilan Strategi Promosi Efteling

Keberhasilan Efteling dalam mempromosikan dirinya sebagai destinasi wisata internasional tidak hanya terletak pada kualitas atraksi dan fasilitas yang ditawarkan, tetapi juga pada bagaimana Belanda berhasil memanfaatkan berbagai kanal promosi dengan efektif. Dalam hal ini, berbagai promosi melalui media sosial dan kerjasama internasional menjadi faktor utama dalam meningkatkan popularitas Efteling.

Efteling mampu membangun loyalitas pelanggan yang kuat, yang tercermin dari banyaknya pengunjung yang kembali ke taman ini tahun demi tahun. Pada tahun 1992, Efteling menerima IAAPA Applause Award untuk Taman Hiburan Terbaik di Dunia. Efteling juga berhasil meraih nominasi dalam ajang penghargaan Best Social Awards 2018. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa promosi yang kreatif dan menarik dapat menciptakan pengaruh yang besar dalam mempopulerkan destinasi wisata internasional.

Dampak Promosi Efteling terhadap Pariwista Belanda

Efteling telah memberikan dampak positif yang luas terhadap pariwisata Belanda, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun budaya. Seiring dengan keberhasilan promosi Efteling, sektor pariwisata Belanda mengalami transformasi signifikan. Sebagai salah satu taman hiburan terbesar dan paling terkenal di Eropa, Efteling berperan sebagai daya tarik utama yang mendatangkan wisatawan internasional, yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi Belanda melalui peningkatan pengeluaran turis, serta penyerapan tenaga kerja. Efteling juga menjadi ikon budaya Belanda yang tidak hanya menarik wisatawan untuk berkunjung, tetapi juga memperkenalkan budaya dan kreativitas Belanda kepada dunia. Selain itu, Efteling turut memperkenalkan konsep taman hiburan berbasis tema kepada banyak destinasi wisata lainnya di Eropa, sehingga berkontribusi pada perubahan lanskap industri pariwisata global.

Kesimpulan

Efteling, sebagai taman hiburan terbesar dan salah satu yang tertua di dunia, telah berkembang dari taman rekreasi lokal menjadi destinasi wisata internasional yang dikenal luas. Keberhasilan ini tidak terlepas dari berbagai strategi promosi yang diterapkan oleh Belanda sejak tahun 1952. Strategi tersebut melibatkan promosi tradisional melalui media cetak di awal berdirinya, kemudian berkembang ke penggunaan media digital seperti media sosial pada era modern. Dengan memanfaatkan berbagai kanal komunikasi, Efteling mampu menarik wisatawan domestik maupun internasional melalui branding yang kreatif dan interaktif.

Keberhasilan ini juga didukung oleh inovasi dalam atraksi, peningkatan fasilitas, dan kerja sama internasional, seperti promosi bersama dengan Amsterdam Tourism pada 2017 yang menciptakan koneksi langsung antara Amsterdam dan Efteling. Efteling juga telah berhasil membangun identitas mereknya sebagai “dunia penuh keajaiban,” yang didukung oleh partisipasi aktif pengunjung melalui platform media sosial seperti Instagram dan Facebook.

Promosi konsisten ini tidak hanya meningkatkan popularitas Efteling tetapi juga berdampak besar pada pariwisata Belanda, mendorong ekonomi dan memperkenalkan budaya Belanda secara global. Hal ini menegaskan pentingnya kombinasi strategi pemasaran tradisional dan modern dalam mempopulerkan destinasi wisata.

Disusun Oleh:
Alya Putri Wardhani
Mahasiswa Universitas Indonesia