DEPOKPOS – Pernahkah kita mendengar orang berkata, “Hidup itu urusan masing-masing. Kalau mau sukses, ya usaha sendiri. Kalau sakit, ya cari uang sendiri. Kalau kehilangan pekerjaan, ya berusaha lagi”?
Sekilas, kalimat itu terdengar benar. Memang, setiap orang harus berusaha dan bertanggung jawab atas kehidupannya. Namun, apakah semua persoalan hidup bisa diselesaikan sendiri? Bagaimana jika seseorang sudah berusaha, tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan pokok? Bagaimana jika ada keluarga yang tidak mampu membayar biaya pengobatan? Apakah mereka harus dibiarkan begitu saja?
Di sinilah kita perlu memahami, manusia memang wajib berusaha, tetapi negara juga memiliki tanggung jawab untuk mengurus rakyatnya.
Rakyat Berjuang Sendiri
Coba kita bayangkan seorang ibu yang suaminya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Sebelumnya, penghasilan suami cukup untuk membeli beras, membayar kontrakan, memenuhi kebutuhan sekolah anak, dan membayar listrik. Namun, setelah kehilangan pekerjaan, penghasilan keluarga terhenti, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.
Belum selesai menghadapi masalah itu, salah satu anaknya jatuh sakit. Keluarga harus memikirkan biaya pemeriksaan, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya. Dalam kondisi seperti ini, apakah cukup jika kita hanya mengatakan, “Sabar, Bu. Harus semangat mencari uang”?
Tentu ibu tersebut membutuhkan dukungan nyata. Ia boleh berusaha mencari pekerjaan atau penghasilan tambahan. Namun, bagaimana jika lapangan kerja sulit didapatkan dan biaya kebutuhan hidup semakin berat?
Inilah keniscayaan ketika hidup dalam sistem sekuler kapitalis yang menjadikan manusia bersikap individualistis yakni hanya memikirkan diri sendiri tanpa peduli terhadap kesulitan orang lain.
Islam Ajarkan Kepedulian
Islam tidak mengajarkan kita untuk bersikap individualistis, Sebaliknya, Islam mengajarkan tolong-menolong, kepedulian, dan tanggung jawab.
Rasulullah SAW bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits ini mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab sesuai dengan kedudukannya. Orang tua bertanggung jawab atas keluarganya, sedangkan pemimpin bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.
Bahkan, dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda bahwa imam atau pemimpin adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, negara bukan sekadar pembuat aturan, melainkan pengurus yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat.
Apa Saja Tanggung Jawab Negara?
Dalam Islam, ada beberapa tanggung jawab negara yang harus diperhatikan negara. Pertama, menjamin kebutuhan pokok rakyat. Kebutuhan seperti pangan, sandang, dan papan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Islam mendorong setiap orang yang mampu untuk bekerja dan mencari nafkah. Bagi orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, negara wajib memberikan bantuan sesuai ketentuan syariat. Jadi, orang miskin tidak cukup hanya dinasihati agar rajin bekerja, tidak cukup diberi bansos, tetapi negara harus memastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi.
Kedua, menyediakan layanan kesehatan. Sehat itu kebutuhan semua orang, bukan hanya orang kaya. Orang miskin maupun orang kaya sama-sama bisa jatuh sakit.
Karena itu, kemampuan ekonomi seseorang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk memperoleh pengobatan.
Negara harus mengupayakan tersedianya fasilitas kesehatan, tenaga medis, obat-obatan, dan pelayanan yang dibutuhkan rakyat. Dengan demikian, masyarakat tidak dibiarkan menghadapi penyakit tanpa pertolongan hanya karena keterbatasan biaya.
Ketiga, menyediakan layanan pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat. Dalam Islam, negara bertanggung jawab memastikan setiap warga negara memperoleh akses pendidikan tanpa terkendala biaya. Negara menyediakan sarana dan prasarana pendidikan, tenaga pendidik yang kompeten, serta berbagai kebutuhan penunjang pembelajaran.
Keempat, menyedikan fasilitas infrastruktur. Negara menyediakan infrastruktur yang memadai dan merata, seperti jalan, jembatan, transportasi, serta fasilitas umum lainnya, agar seluruh rakyat dapat beraktivitas dengan mudah dan nyaman.
Kelima, membuka kesempatan kerja. Negara perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Pengelolaan sumber daya alam dan perekonomian juga harus memperhatikan kemaslahatan rakyat, bukan semata-mata keuntungan segelintir pihak.
Bagaimana rakyat bisa mandiri jika kesempatan bekerja sulit diperoleh, sedangkan kebutuhan hidup terus meningkat?
Lalu dari mana biayanya? Dalam Islam, semua pembiayaan tersebut diambil dari Baitulmal (kas negara), salah satunya dari kepemilikan umum (milkiyyah ammah). Jika kas Baitulmal tidak mencukupi untuk kebutuhan mendesak yang diwajibkan syariat, negara dapat memungut dharibah (kalau orang sekarang bilangnya pajak) dari kaum Muslim yang kaya sesuai ketentuan syariat.
Islam Bukan Sekadar Mengajarkan Sedekah
Membantu tetangga yang kesulitan tentu merupakan perbuatan mulia. Kita bisa memberikan makanan, menyumbangkan uang, atau membantu mencarikan pekerjaan. Namun, jangan sampai seluruh beban kesejahteraan rakyat hanya diserahkan kepada kebaikan hati individu atau kegiatan sosial masyarakat.
Mengapa? Karena persoalan kemiskinan, pengangguran, dan akses kesehatan juga membutuhkan kebijakan serta pengelolaan sumber daya oleh negara.
Dalam sistem Islam, negara memiliki tanggung jawab mengelola harta yang menjadi hak publik untuk kemaslahatan rakyat. Baitul Mal menjadi bagian dari mekanisme pengelolaan keuangan negara untuk membiayai berbagai kebutuhan sesuai ketentuan syariat.
Karena itu, pembahasan tentang kesejahteraan tidak cukup berhenti pada ajakan agar masyarakat saling membantu. Kita juga perlu memahami bagaimana negara seharusnya menjalankan amanahnya.
Renungan
Mari kita renungkan. Kalau semua persoalan hidup harus ditanggung sendiri, lalu negara mengurus siapa?
Islam mengajarkan manusia wajib berusaha, saling menolong, dan menjalankan tanggung jawabnya. Namun, Islam juga menetapkan pemimpin memiliki amanah besar untuk mengurus rakyat. Maka, perlu membangun kesadaran, kesejahteraan rakyat bukan sekadar persoalan kemurahan hati, melainkan juga tanggung jawab kepemimpinan yang harus ditunaikan.
Jangan sampai rakyat diminta terus berjuang sendiri, sementara tanggung jawab negara justru dilupakan. Dalam Islam, kekuasaan adalah amanah untuk mengurus rakyat sesuai syariat Allah Swt., dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Siti Aisyah,
Koordinator Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
