DEPOKPOS – Pulau Adonara di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, memiliki keindahan alam dan kekayaan budaya yang luar biasa. Namun, di balik pesonanya, masih ada masalah pendidikan yang belum sepenuhnya teratasi. Keterbatasan fasilitas sekolah, kurangnya tenaga pengajar, sulitnya akses menuju sekolah, dan ketimpangan pembangunan pendidikan tetap dirasakan oleh sebagian masyarakat, terutama di daerah pedalaman.
Menurut Badan Pusat Statistik dalam Statistik Pendidikan Provinsi Nusa Tenggara Timur 2024, pendidikan di NTT masih menghadapi banyak tantangan dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Pemerintah berusaha meningkatkan partisipasi sekolah, meratakan layanan pendidikan, dan meningkatkan fasilitas pendidikan di daerah terpencil.
Kondisi ini masih terlihat di beberapa sekolah di pelosok Adonara. Beberapa sekolah memiliki ruang kelas yang tidak layak, bangunan yang rusak, dan kekurangan meja, kursi, perpustakaan, laboratorium, serta akses teknologi. Ketika musim hujan tiba, proses belajar mengajar sering terganggu karena bangunan yang tidak dapat melindungi siswa dengan baik. Situasi ini membuat pembelajaran menjadi kurang efektif dan mengganggu kenyamanan siswa.
Masalah lain adalah terbatasnya jumlah pengajar. Di sejumlah sekolah pedalaman, guru harus mengajar lebih dari satu mata pelajaran atau mengelola beberapa kelas sekaligus karena kurangnya sumber daya manusia. Selain itu, distribusi guru yang tidak merata menyebabkan sekolah di daerah terpencil kesulitan mendapatkan pengajar dibandingkan sekolah di wilayah perkotaan. Kondisi ini berdampak pada kualitas pembelajaran yang diterima siswa.
Akses menuju sekolah juga menjadi tantangan besar. Banyak siswa di daerah pedalaman harus berjalan jauh melewati jalan berbatu, tanjakan, atau sungai. Pada musim hujan, beberapa jalur menjadi sulit dilalui, sehingga kehadiran siswa di sekolah sering terganggu. Kondisi geografis NTT yang didominasi perbukitan dan kepulauan memperlambat pemerataan layanan pendidikan dibandingkan daerah lain.
Di sisi lain, semangat belajar anak-anak Adonara sangat menginspirasi. Meskipun dengan fasilitas yang terbatas, mereka tetap datang ke sekolah dengan harapan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Semangat ini menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi atau fasilitas tidak menghentikan keinginan mereka untuk mencapai cita-cita.
Pemerintah sebenarnya telah melaksanakan berbagai program, seperti rehabilitasi ruang kelas, bantuan operasional sekolah, digitalisasi pendidikan, dan pemerataan pengajar. Namun, berdasarkan data pendidikan nasional, masih ada sekolah-sekolah di Indonesia yang membutuhkan perbaikan ruang kelas dan peningkatan sarana pembelajaran, terutama di wilayah tertinggal dan terpencil. Ini menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan belum sepenuhnya merata dan memerlukan perhatian terus-menerus.
Pendidikan adalah hak dasar setiap anak Indonesia, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Oleh karena itu, pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan perlu bekerja sama agar setiap anak, termasuk mereka yang berada di pelosok Adonara, mendapatkan kesempatan belajar dengan fasilitas yang layak, pengajar yang memadai, serta lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Dengan begitu, keindahan alam Adonara tidak hanya akan dikenal karena pesonanya, tetapi juga karena keberhasilannya melahirkan generasi yang cerdas, terdidik, dan mampu membangun daerahnya di masa depan.
Ayuniwati Tamrin, mahasiswa Universitas Pamulang
