DEPOKPOS – Generasi muda hari ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Komunikasi tidak lagi dibatasi oleh jarak. Berbagai pekerjaan bahkan dapat dilakukan melalui perangkat yang berada dalam genggaman.
Teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, di tengah kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah generasi muda hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau mampu menjadi pencipta dan penggerak perubahan melalui teknologi?
Pertanyaan ini penting karena perkembangan teknologi tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menggunakannya. Masyarakat juga membutuhkan individu yang mampu berpikir kritis, menciptakan solusi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Banjir Informasi, Minim Literasi
Salah satu tantangan terbesar pada era digital bukan lagi sulitnya mendapatkan informasi, melainkan sulitnya menentukan informasi mana yang layak dipercaya. Media sosial memungkinkan siapa saja menjadi pembuat sekaligus penyebar informasi. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan membaca dan menulis saja tidak cukup. Anak muda perlu memiliki literasi digital.
Literasi digital berarti kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijak. Ketika menerima sebuah informasi, seseorang perlu membiasakan diri untuk tidak langsung percaya atau menyebarkannya.
Siapa sumbernya? Apa konteksnya? Apakah terdapat data yang mendukung? Apakah informasi tersebut berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan? pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu dapat membantu seseorang terhindar dari kesalahan dalam memahami informasi.
Teknologi Seharusnya Menjadi Alat untuk Berkarya
Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Ponsel yang sama dapat digunakan untuk menghabiskan waktu berjam-jam tanpa tujuan, tetapi juga dapat menjadi sarana belajar, membangun portofolio, menjalankan usaha, membuat karya, atau mengembangkan keterampilan. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata berapa lama anak muda menggunakan teknologi, tetapi untuk apa teknologi tersebut digunakan.
Seorang pelajar dapat memanfaatkan internet untuk mempelajari bahasa asing. Mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan desain, pemrograman, menulis, atau pemasaran digital. Anak muda yang memiliki minat terhadap bisnis dapat memanfaatkan berbagai platform untuk memperkenalkan produknya. Tidak semua aktivitas digital harus menghasilkan uang. Belajar, berdiskusi, membuat karya, dan membangun jaringan juga merupakan bentuk investasi terhadap masa depan.
Menjadi Kreator, Bukan Sekadar Konsumen
Budaya digital sering membuat seseorang terbiasa menjadi konsumen. Kita menonton video, membaca unggahan, mengikuti tren, dan menikmati berbagai konten yang dibuat orang lain. Hal tersebut tidak selalu buruk. Namun, akan lebih baik apabila konsumsi tersebut diimbangi dengan produksi.
Membuat tulisan, video edukatif, ilustrasi, podcast, aplikasi, fotografi, atau karya lainnya merupakan bentuk partisipasi dalam ekosistem digital. Tidak harus langsung sempurna.
Karya pertama mungkin sederhana. Tulisan pertama mungkin belum banyak dibaca. Video pertama mungkin belum mendapatkan banyak penonton. Namun, kemampuan tidak muncul dalam satu malam. Ia berkembang melalui proses mencoba, menerima kritik, memperbaiki kesalahan, dan mencoba kembali.
Di sinilah pendidikan memiliki peran penting. Pendidikan tidak semestinya hanya mengajarkan bagaimana seseorang memperoleh nilai yang baik, tetapi juga bagaimana seseorang mampu memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Anak Muda dan Masa Depan yang Sedang Dibentuk
Generasi muda sering disebut sebagai pemilik masa depan. Namun, masa depan sebenarnya tidak datang begitu saja. Ia dibentuk oleh keputusan dan kebiasaan yang dilakukan hari ini.
Teknologi akan terus berkembang. Platform yang populer hari ini mungkin berubah beberapa tahun mendatang. Pekerjaan yang belum dikenal sekarang bisa saja menjadi profesi yang banyak dibutuhkan di masa depan.
Karena itu, kemampuan yang paling penting bukan sekadar menguasai satu aplikasi atau mengikuti satu tren teknologi. Yang lebih penting adalah kemampuan belajar, beradaptasi, berpikir kritis, berkomunikasi, dan menciptakan solusi.
Anak muda tidak harus menjadi ahli teknologi untuk memberikan dampak. Mereka cukup mulai dari hal yang mereka kuasai, kemudian menggunakannya untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya tidak membuat manusia semakin pasif. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi ruang untuk belajar, berkarya, dan memberikan manfaat. Generasi muda bukan hanya penonton dari perubahan zaman. Mereka juga memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menciptakan perubahan tersebut.
Shofa Izzah Ramadhani
Mahasiswi IAI SEBI


