DEPOKPOS – Kalau kita melihat perkembangan ekonomi saat ini, perubahan terjadi begitu cepat. Teknologi semakin berkembang, transaksi semakin banyak dilakukan secara digital, dan pola konsumsi masyarakat juga ikut berubah. Di tengah perubahan tersebut, ekonomi syariah sebenarnya memiliki peluang yang cukup besar untuk berkembang. Namun, menurut saya, peluang yang besar tidak selalu berarti jalan yang mudah. Justru semakin besar peluangnya, semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi.
Ekonomi syariah selama ini sering dipandang sebagai sistem ekonomi yang hanya berkaitan dengan bank syariah, akad, riba, dan produk halal. Padahal, cakupannya jauh lebih luas. Ekonomi syariah berbicara tentang bagaimana kegiatan ekonomi dilakukan secara adil, transparan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, menurut saya, ekonomi syariah seharusnya tidak hanya fokus pada bagaimana membuat produk yang berlabel syariah, tetapi juga bagaimana nilai-nilai syariah benar-benar diterapkan dalam aktivitas ekonomi.
Salah satu tantangan terbesar ekonomi syariah di masa depan adalah perkembangan teknologi. Saat ini, masyarakat sudah terbiasa dengan transaksi yang cepat dan praktis melalui berbagai platform digital. Orang bisa melakukan pembayaran, investasi, pinjaman, bahkan membeli berbagai produk hanya melalui telepon genggam. Kondisi ini menjadi tantangan bagi industri syariah karena masyarakat tentu akan memilih layanan yang mudah, cepat, dan sesuai dengan kebutuhannya. Kalau produk syariah terlalu rumit atau kalah praktis dibandingkan produk konvensional, bukan tidak mungkin masyarakat akan meninggalkannya.
Namun, saya melihat perkembangan teknologi sebenarnya bukan sesuatu yang harus ditakuti oleh ekonomi syariah. Justru teknologi dapat menjadi peluang untuok membuat ekonomi syariah lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana inovasi tersebut tetap berada dalam koridor syariah. Jangan sampai hanya karena ingin mengikuti tren teknologi, prinsip-prinsip syariah justru dikesampingkan.
Selain teknologi, persoalan literasi juga menurut saya masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar. Tidak sedikit masyarakat yang masih belum memahami perbedaan antara produk syariah dan produk konvensional. Bahkan, ada anggapan bahwa produk syariah hanya mengganti istilah-istilah tertentu tanpa memiliki perbedaan yang berarti dalam praktiknya. Persepsi seperti ini tentu menjadi tantangan karena kepercayaan masyarakat merupakan salah satu modal utama dalam perkembangan ekonomi syariah.
Menurut saya, meningkatkan literasi ekonomi syariah tidak cukup dilakukan melalui seminar atau pembelajaran di ruang kelas. Edukasi harus dilakukan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Media sosial, konten digital, podcast, dan berbagai platform lainnya dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan ekonomi syariah dengan bahasa yang sederhana. Generasi muda juga dapat mengambil peran di sini. Jangan sampai ekonomi syariah hanya dibicarakan oleh akademisi dan praktisi, sementara masyarakat umum justru tidak memahami manfaatnya.
Tantangan lainnya adalah kualitas sumber daya manusia. Ekonomi syariah membutuhkan orang-orang yang tidak hanya memahami ilmu ekonomi, tetapi juga memahami prinsip-prinsip Islam. Menurut saya, inilah salah satu tantangan yang sering kali kurang diperhatikan. Memahami teori ekonomi saja belum cukup, begitu juga memahami hukum Islam saja belum tentu cukup untuk menghadapi kompleksitas industri keuangan modern. Dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu menggabungkan keduanya.
Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi mahasiswa ekonomi syariah. Mahasiswa tidak seharusnya hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga perlu memahami bagaimana teori yang dipelajari diterapkan dalam dunia nyata. Kemampuan menggunakan teknologi, menganalisis data, memahami perkembangan bisnis, berkomunikasi, dan berpikir kritis akan semakin dibutuhkan. Dengan begitu, lulusan ekonomi syariah tidak hanya menjadi orang yang memahami teori syariah, tetapi juga mampu bersaing di dunia profesional.
Di sisi lain, ekonomi syariah juga harus berani melakukan inovasi. Perkembangan ekonomi menghadirkan berbagai model bisnis baru yang mungkin belum pernah ada sebelumnya. Fintech, aset digital, investasi online, artificial intelligence, hingga berbagai bentuk transaksi digital merupakan contoh perubahan yang harus direspons. Menurut saya, ekonomi syariah tidak boleh hanya mengatakan “tidak boleh” terhadap sesuatu yang baru tanpa memberikan alternatif yang jelas. Jika memang terdapat persoalan syariah dalam suatu transaksi, maka tantangannya adalah mencari solusi yang sesuai dengan prinsip Islam sekaligus tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, saya melihat tantangan terbesar ekonomi syariah bukan hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam. Ekonomi syariah perlu membuktikan bahwa nilai-nilai Islam mampu berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman. Jangan sampai ekonomi syariah hanya unggul dalam label, tetapi kalah dalam inovasi, pelayanan, dan kualitas.
Masa depan ekonomi syariah sebenarnya sangat terbuka. Jumlah masyarakat yang membutuhkan produk halal terus berkembang, industri halal semakin luas, teknologi memberikan banyak peluang baru, dan generasi muda mulai tertarik mempelajari ekonomi Islam. Tetapi semua peluang tersebut tidak akan berarti jika ekonomi syariah tidak mampu beradaptasi.
Menurut saya, ekonomi syariah di masa depan harus mampu menjadi ekonomi yang tidak hanya “syariah secara nama”, tetapi juga kuat secara sistem, profesional dalam pengelolaan, inovatif dalam menghadapi perkembangan teknologi, dan nyata dalam memberikan manfaat bagi masyarakat. Sebab, pada akhirnya, tujuan ekonomi bukan hanya tentang seberapa besar keuntungan yang diperoleh, tetapi juga tentang bagaimana kegiatan ekonomi tersebut dapat menciptakan keadilan dan kesejahteraan. Di sinilah sebenarnya tantangan sekaligus kesempatan terbesar ekonomi syariah untuk membuktikan relevansinya di masa depan.
