Buka template CV. Nama sudah, pendidikan sudah, skill sudah. Tinggal satu bagian yang bikin mikir cukup lama: experience.
Mau ditulis apa?
Belum pernah kerja, magang juga belum. Pengalaman organisasi mungkin ada, tapi rasanya “cuma” jadi anggota. Akhirnya bagian pengalaman dibiarkan kosong karena merasa memang belum punya sesuatu yang bisa ditulis. Padahal, bisa jadi masalahnya bukan karena tidak punya pengalaman. Kita saja yang terlalu sempit mengartikan kata “pengalaman”.
Pengalaman Harus Selalu Berupa Pekerjaan?
Banyak mahasiswa menganggap pengalaman berarti pernah bekerja di perusahaan, magang, atau memegang jabatan tertentu. Padahal, selama kuliah ada banyak kegiatan yang bisa menunjukkan kemampuan.
Misalnya pernah menjadi panitia acara kampus. Daripada hanya menulis “Panitia Seminar X”, sebenarnya yang lebih penting adalah menjelaskan apa yang dikerjakan. Bisa saja pernah mengatur peserta, membantu kebutuhan acara, atau berkoordinasi dengan anggota lain.
Tugas kuliah juga bisa melatih kemampuan tertentu. Mengerjakan proyek kelompok misalnya, membutuhkan pembagian tugas, mencari informasi, mengolah data, membuat presentasi, dan bekerja sama. Bukan berarti semua kegiatan harus dimasukkan ke CV. Yang penting adalah mulai melihat: “Selama ini gue pernah mengerjakan apa?”
Dari CV, Masuk ke Personal Branding
Dari sini, personal branding mulai punya hubungan dengan CV.
Personal branding bukan berarti harus terlihat keren di media sosial atau membuat diri seolah-olah sudah profesional. Dalam konteks mencari kerja, personal branding lebih sederhana: bagaimana kita menunjukkan siapa diri kita, apa yang bisa kita lakukan, dan pengalaman apa yang mendukungnya.
Penelitian Trang, McKenna, Cai, dan Morrison pada 2024 menemukan bahwa mahasiswa Gen Z melihat personal branding di media sosial sebagai salah satu cara untuk mendapatkan keunggulan ketika mencari pekerjaan. Namun, penelitian tersebut juga menemukan adanya jarak antara diri yang ingin ditampilkan dengan diri yang sebenarnya dirasakan.
Artinya, membangun personal branding tetap perlu jujur. Tidak perlu membuat pengalaman yang sebenarnya tidak ada hanya supaya CV terlihat penuh.
Jangan Sampai Sibuk Terlihat Punya Pengalaman
Melihat orang lain di media sosial kadang membuat CV sendiri terasa semakin kosong. Ada yang sudah magang, aktif organisasi, punya banyak sertifikat, atau sudah membangun LinkedIn sejak awal kuliah. Tapi personal branding bukan perlombaan siapa yang terlihat paling sibuk.
Mengikuti kegiatan hanya demi menambah isi CV juga belum tentu membuat personal branding menjadi kuat. Yang lebih penting dalah apa yang benar-benar dikerjakan dan dipelajari dari kegiatan tersebut.
Kalau pernah menjadi panitia, jelaskan tugasnya. Kalau pernah mengerjakan proyek, tunjukkan kontribusinya. Dari situ, orang lain bisa melihat kemampuan kita tanpa harus dibuat-buat.
Mungkin CV-mu Tidak Kosong
Kekhawatiran soal pengalaman bukan hal sepele. Data BPS menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka lulusan perguruan tinggi pada 2025 mencapai 5,39 persen. Pada Agustus 2025, sekitar 904 ribu pengangguran merupakan lulusan universitas.
Data tersebut bukan berarti mahasiswa harus mengumpulkan pengalaman sebanyak-banyaknya sejak sekarang. Justru, mahasiswa perlu mulai mengenali pengalaman yang sudah dimiliki dan kemampuan yang muncul dari sana.
Jadi, kalau nanti membuka CV dan bagian “Experience” masih terasa kosong, jangan langsung menyimpulkan bahwa diri sendiri tidak punya pengalaman. Mungkin pengalamannya memang belum banyak. Tapi bukan berarti tidak ada. Mungkin kita hanya belum melihatnya.

