Scroll untuk baca artikel
Opini

Antara Menabung untuk Pendidikan dan Godaan Gaya Hidup Instan

×

Antara Menabung untuk Pendidikan dan Godaan Gaya Hidup Instan

Sebarkan artikel ini

Oleh Ira Puja Asmana Dewi, mahasiswa IAI SEBI

Antara Menabung untuk Pendidikan dan Godaan Gaya Hidup Instan

Coba perhatikan sekeliling, terutama di kalangan mahasiswa atau anak muda yang baru mulai punya penghasilan sendiri. Ada yang begitu penghasilannya masuk, langsung dipakai untuk hal-hal yang sifatnya jangka pendek: nongkrong, belanja barang keluaran terbaru, atau liburan singkat yang seru untuk diunggah ke media sosial. Tapi ada juga yang memilih jalan berbeda, menyisihkan sebagian penghasilannya untuk keperluan yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian, seperti melanjutkan kuliah, mengambil sertifikasi, atau menabung untuk pendidikan lanjutan.

Dua pilihan ini sebenarnya bukan hal baru. Yang membuatnya terasa lebih berat sekarang adalah tekanan sosial yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Media sosial membuat gaya hidup orang lain terasa sangat dekat dan mudah dibandingkan. Ketika teman sebaya terlihat sering jalan-jalan atau punya barang baru, muncul dorongan untuk tidak mau ketinggalan, meskipun sebenarnya kondisi keuangan masing-masing orang belum tentu sama. Fenomena ini sering disebut FOMO, rasa takut tertinggal, dan tanpa disadari bisa mengubah cara seseorang mengatur prioritas keuangannya.

Di sisi lain, menabung untuk pendidikan sering kali terasa kurang menarik justru karena hasilnya tidak instan. Tidak ada validasi langsung seperti unggahan di media sosial, tidak ada rasa senang yang cepat terasa. Prosesnya panjang, kadang membosankan, dan hasilnya baru benar-benar terasa setelah bertahun-tahun kemudian, misalnya saat akhirnya bisa melanjutkan kuliah tanpa terbebani biaya, atau punya bekal yang lebih siap untuk bersaing di dunia kerja. Karena hasilnya tidak instan inilah, banyak orang yang akhirnya kalah oleh godaan jangka pendek, meskipun sebenarnya paham betul mana yang lebih penting untuk masa depan.

Bukan berarti menikmati hidup sekarang itu salah. Yang perlu digarisbawahi adalah soal keseimbangan dan kesadaran dalam mengambil keputusan. Seseorang yang sesekali menikmati waktu bersama teman tidak lantas berarti mengabaikan masa depannya, selama ia tetap punya rencana dan batasan yang jelas untuk keuangannya. Sebaliknya, seseorang yang terus-menerus menunda kesenangan demi menabung, tanpa pernah menikmati prosesnya, juga berisiko kehilangan makna dari perjuangan yang ia lakukan sendiri.

Pilihan antara menabung untuk pendidikan atau menikmati gaya hidup instan sebenarnya bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Ini lebih soal memahami apa yang sebenarnya ingin dicapai dalam jangka panjang, lalu berani membuat pilihan yang konsisten dengan tujuan tersebut, meskipun terkadang harus berhadapan dengan godaan yang terlihat jauh lebih menyenangkan di depan mata.

Ira Puja Asmana Dewi, mahasiswa IAI SEBI