Scroll untuk baca artikel
Opini

Frugal Living: Ketika Hemat Jadi Gaya Hidup, Bukan Lagi Keterpaksaan

×

Frugal Living: Ketika Hemat Jadi Gaya Hidup, Bukan Lagi Keterpaksaan

Sebarkan artikel ini

Oleh Ira Puja Asmana Dewi, mahasiswa IAI SEBI

Frugal Living: Ketika Hemat Jadi Gaya Hidup, Bukan Lagi Keterpaksaan

DEPOKPOS – Beberapa tahun lalu, orang yang hidup hemat sering dianggap pelit atau kurang gaul. Sekarang keadaannya justru terbalik. Di media sosial, istilah “frugal living” jadi salah satu tren yang cukup ramai dibicarakan, terutama di kalangan anak muda. Video tentang cara menghemat pengeluaran bulanan, tantangan “no spend month”, sampai tips masak sendiri daripada beli makanan di luar, banyak ditonton dan disukai. Menariknya, yang membagikan bukan cuma orang yang kesulitan finansial, tapi juga mereka yang sebenarnya mampu, namun sadar memilih untuk lebih berhati-hati mengatur uang.

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Generasi muda sekarang tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi yang cukup terasa: harga kebutuhan pokok naik, biaya hidup di kota besar semakin mahal, sementara lapangan kerja terasa semakin kompetitif. Ditambah lagi, banyak yang melihat sendiri bagaimana generasi sebelumnya kesulitan menghadapi masalah finansial di usia yang lebih tua karena kurang persiapan. Dari situ, muncul kesadaran baru bahwa mengatur uang bukan sekadar soal menahan diri, tapi soal bertahan dan punya pilihan di masa depan.

Yang menarik, frugal living sekarang tidak lagi identik dengan hidup serba kekurangan. Banyak anak muda yang menjalaninya dengan cara yang cukup santai: tetap jajan kopi sesekali, tetap nonton bioskop, tapi lebih sadar mana pengeluaran yang benar-benar penting dan mana yang cuma ikut-ikutan. Ada yang mulai mencatat pengeluaran harian lewat aplikasi sederhana, ada juga yang membuat aturan pribadi seperti menunggu dua hari sebelum membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Kebiasaan kecil semacam ini, kalau dilakukan konsisten, ternyata cukup berpengaruh terhadap kondisi keuangan dalam jangka panjang.

Tentu saja, tren ini bukan tanpa celah. Ada juga yang menjadikan frugal living sekadar konten, dipamerkan di media sosial tapi tidak benar-benar diterapkan dalam keseharian. Ada pula yang terlalu ketat mengatur pengeluaran sampai lupa bahwa hidup juga butuh ruang untuk menikmati hal-hal kecil. Di titik inilah pentingnya memahami esensi dari gaya hidup ini: bukan soal seberapa sedikit uang yang dikeluarkan, tapi seberapa sadar seseorang terhadap keputusan finansialnya sendiri.

Pada akhirnya, frugal living bisa dilihat sebagai bentuk respons generasi muda terhadap ketidakpastian yang mereka hadapi. Alih-alih menunggu keadaan membaik dengan sendirinya, mereka memilih untuk mengambil kendali lewat hal paling sederhana, yaitu bagaimana cara mereka membelanjakan uang. Kalau tren ini terus berkembang dengan cara yang sehat, bukan tidak mungkin ia akan membentuk kebiasaan finansial yang jauh lebih matang untuk generasi selanjutnya.

Ira Puja Asmana Dewi, mahasiswa IAI SEBI